OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Kasus HIV/AIDS Kian Meningkat

Epidemi HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Data nasional hingga 30 Juni 2005 menunjukkan 7.098 kasus HIV/AIDS, atau meningkat signifikan dari data sebelumnya, yaitu 6.789 kasus per 31 Maret 2005. Selama April sampai Juni 2005 terdapat 72 kasus infeksi HIV dan 237 kasus AIDS baru.

DKI Jakarta menjadi wilayah yang menempati angka tertinggi dalam kumulatif kasus HIV/AIDS, yakni 3.107 kasus, sedangkan urutan kedua ditempati Papua (1.067), disusul Jawa Timur (538), Bali (500), dan Jawa Barat (346). Data tersebut dihimpun Yayasan Pelita Ilmu (YPI) dari Subdit Penyakit Menular Seksual (PMS) Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM-PL) Departemen Kesehatan RI.

Dalam seminar yang diselenggararakan YPI kemarin di RS Dharmais Jakarta terungkap bahwa penekanan angka kasus HIV/AIDS memerlukan integrasi pelayanan dan penanggulangan kasus terutama pada ibu hamil dan anak balita di pusat kesehatan dasar.

Dari 7.098 kasus tersebut, 1.498 di antaranya adalah kaum perempuan dan 54 balita. Parahnya lagi, angka tersebut belum memperlihatkan kondisi yang sebenarnya terjadi karena angka kasus tersebut hanyalah yang tercatat dalam laporan. Berdasarkan pakar epidemiologi, YPI menyebutkan angka sesungguhnya bisa mencapai 90.000 hingga 130.000 kasus HIV/AIDS.

Menurut Samsuridjal Djauzi, ahli penyakit dalam dari FKUI, infeksi HIV pada perempuan semakin meningkat antara lain disebabkan akses terhadap diagnosis dan terapi yang rendah serta keterbatasan dana keluarga. Selain itu, karena ketidaksetaraan gender dan perempuan sering memikul beban yang paling berat dalam keluarga.

"Informasi bagi perempuan masih rendah karena latar belakang pendidikan, kurangnya akses terhadap media serta keterbatasan waktu karena pekerjaan rumah," tutur Djauzi.

Sementara itu, kebutuhan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terutama perempuan mencakup informasi, pencegahan, VCT, diagnosis, terapi, serta dukungan sosial.

Ibu hamil

Mayanti dari YPI mengungkapkan upaya yang dilakukan YPI untuk perempuan adalah melakukan program pencegahan HIV dari ibu hamil ke balita (PMTCT). Program ini telah berjalan 1999-2001 di wilayah padat penduduk di Jakarta. "Hasil program pada 2003-2005 memperlihatkan dari sekitar 1.217 ibu hamil yang melakukan konseling tes dengan sukarela, 39 di antaranya terbukti positif HIV," tutur Mayanti.

Mereka yang terbukti positif itu kemudian dirujuk ke program PMTCT. Bila langkah ini tidak dilakukan, anak yang lahir dari ibu pengidap HIV dapat tertular, dan pada usia dua bulan sudah dapat menunjukkan gejala infeksi oportunistik yang berat.

Nia Kurniati dari Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM FKUI menyebutkan, ada anak yang baru memunculkan gejalanya pada umur lebih dari enam bulan, bahkan di atas umur satu tahun. Kasus paling muda yang meninggal karena infeksi oportunistik di RSCM adalah dua bulan.

Pada seminar itu, Aida Fatmi dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memaparkan beberapa strategi pemerintah pencegahan penularan HIV/AIDS pada perempuan usia produktif.

"Salah satu pencegahan penularan antara lain dengan tidak hamil dulu bagi ibu yang positif HIV. Artinya, infeksi oportunistik harus dikendalikan dulu, HIV-nya harus dikendalikan dengan meminum ARV. Selama menjaga itu ia diharapkan menggunakan alat kontrasepsi dan alat kontrasepsi yang paling aman adalah kondom," papar Aida.

Disebutkan Mayanti, saat ini program PMTCT YPI mengupayakan untuk membuat akses kepada ibu hamil yang positif HIV agar memperkecil risiko penularan HIV kepada bayinya yang positif atau negatif. Akses pun disertai oleh dukungan psikologis, medis, spiritual, dan sosial. Layanan yang diberikan adalah informasi, konseling, pemberian susu formula, serta pemberian biaya untuk operasi caesar bagi ibu positif HIV yang akan melahirkan.

''Kendala yang umum ditemui adalah keterbatasan wilayah kerja, belum terintegrasinya layanan PMTCT pada program KIA di puskesmas, serta banyaknya masalah medis dan psikososial yang dihadapi ibu HIV positif. Karena itu, komitmen pemerintah sangat diharapkan bagi suksesnya implementasi program ini,'' ujar Mayanti.

sumber: Media Indonesia, Kamis, 25 Agustus 2005

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan