|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Jangan Diskriminasikan Mereka...
Harus berani menanggung risiko. Sikap itu dimiliki pasangan Denmas Agung
(26) dan Cicih Nuraety (26) ketika divonis dokter bahwa mereka telah
terinfeksi HIV pada awal tahun 2004.
Saat duduk di bangku SMU, tahun 1998, Agung menjadi pengguna aktif narkoba
suntik. Agung yang merasa darahnya terpapar zat adiktif merasa perlu untuk
"membuang" darahnya. Maka ia pun mendonorkan darah. Saat donor darah
yang
keempat kalinya, ia dipanggil dan diminta untuk cek darah HIV. Hasilnya ia
positif terinfeksi HIV.
Berita mengejutkan itu diterimanya awal 2004. Padahal, saat itu ia sudah
memiliki istri, Cicih Nuraety, yang dinikahinya Mei 2003 dan sedang hamil
tua saat itu. Otomatis Cicih pun disarankan mengikuti tes, yang ternyata
hasilnya juga positif. Remuk hati Cicih mengetahui dirinya tertular Agung.
Namun ia pasrah. Beruntung buah hati mereka, Adrian Fariel Putra Agung,
yang lahir Februari 2004 ternyata tidak tertular HIV. "Itu keajaiban,"
kata mereka.
Saat ditanya mengapa dirinya malah mendonorkan darah, menurut Agung, tidak
ada cara lain untuk "membuang" darahnya yang terpapar zat adiktif
selain
donor darah.
"Saat tahu saya kena HIV, saya merasa bersalah karena telah mendonorkan
darah. Tapi untungnya PMI punya mekanisme skrining," kata Agung dalam
pertemuan dengan sesama pengidap HIV/AIDS se-Jabotabek di Rumah Sakit
Dharmais Jakarta, Jumat (4/8).
Didiskriminasi
Kenyataan pahit pun harus ditelan Agung. Saat ia berterus terang mengenai
kondisinya pada kantor tempat ia bekerja sebagai staf akuntansi, ia pun
dipaksa untuk menandatangani surat pengunduran diri. Agung harus berbesar
jiwa mengalami diskriminasi tersebut.
Namun hal yang berbeda dialami istrinya. Saat berterus terang kepada
atasannya di kantornya, PT Wahana Bersama Globalindo, justru atasan dan
rekan-rekan sekantornya merangkul dan memberikan dukungan penuh. Hal
seperti ini sangat membantu Cicih menghadapi realitas yang harus ia alami.
"Teman-teman justru merangkul. Saya tidak dijauhi," kata Cicih.
Praktis, penghasilan Cicih menjadi penopang kehidupan mereka. Agung pun
mulai mencari-cari pekerjaan lain, namun belum memperoleh hasil.
Diskriminasi yang dialami Agung di kantor sebenarnya diskriminasi yang
tidak berdasar. Tidak seharusnya pengidap HIV/AIDS diperlakukan seperti
itu. Biasanya tindakan memecat pegawai semacam itu diambil agar keberadaan
orang dengan HIV/AIDS di kantor tersebut tidak meresahkan pegawai lainnya,
seperti takut tertular.
Penularan
Mengenai penularan HIV/AIDS, Prof Samsuridjal Djauzi SpPD dari Kelompok
Diskusi Khusus HIV/AIDS FKUI/RSCM menyatakan, penularan HIV/AIDS tidak
terjadi begitu saja. Penularan hanya melalui hubungan seks yang tidak
aman, melalui penggunaan jarum suntik bersama, atau penggunaan narkoba
suntikan.
Di kota-kota besar, penularan melalui jarum suntik sudah semakin banyak.
"Tetapi kita tidak mudah membedakan apakah seseorang itu tertular HIV
karena jarum suntik bersama atau hubungan seks yang tidak aman. Orang
menggunakan jarum suntik pun juga kadang melakukan hubungan seks yang
tidak aman," kata Samsuridjal. Data dari RSCM: kasus HIV/AIDS dari
kalangan pengguna suntikan sebanyak 76 persen.
Karena itu, untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS jangan menggunakan jarum
suntik atau jangan menggunakan narkoba. Selain itu, jangan melakukan
hubungan seks yang tidak aman, misalnya melakukan hubungan seks bukan
dengan pasangan resminya ataupun tidak menggunakan kondom.
Sampai akhir Juni 2006 sudah 10.859 orang dilaporkan terinfeksi HIV.
Namun, diperkirakan lebih dari 130.000 orang yang terinfeksi. Untuk
mengatasi HIV, sejak tahun 2004 pemerintah sudah menyediakan obat ARV
secara gratis. Awalnya disebarkan melalui 25 rumah sakit dan kini telah
disebarkan melalui 75 rumah sakit.
"Jadi obatnya sudah ada, tetapi pertemuan kita kali ini untuk memberi
pemahaman agar obat yang sudah ada digunakan dengan baik sehingga memberi
hasil terapi yang baik," kata Samsuridjal.
Kalau ARV dikonsumsi secara teratur, dalam enam bulan virus yang banyak
dalam darah bisa menjadi tidak terdeteksi. Akan tetapi, obat ARV ini harus
dipakai terus-menerus dan tidak boleh dihentikan karena jika dihentikan
dalam dua bulan virusnya akan sama banyaknya seperti semula. (LOK)
sumber:
Harian Kompas, 7 Agustus 2006
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |