|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Lebih
Jauh Tentang Trikomoniasis
Oleh: dr. Siti Nurul Qomariyah
Trikomoniasis, suatu tipe dari vaginitis,
umumnya adalah sebuah Penyakit Menular Seksual (PMS).
Karena adanya kebiasaan penentuan jenis penyakit dan
pengobatan oleh klien sendiri dan diagnosis oleh petugas
kesehatan tanpa menggunakan pemeriksaan yang memadai, beberapa
orang dengan trikomoniasis tidak terdiagnosis.
Penentuan jenis penyakit sendiri dapat terjadi karena
terdapatnya obat-obat yang dijual bebas.
Gejala dan tanda trikomoniasis tidak begitu spesifik,
dan penegakan diagnosis memebutuhkan pemeriksaan laboratorium
sederhana seperti sediaan basah (wet mount).
Trikomoniasis
dapat menyebabkan seseorang kehilangan hari kerjanya karena
adanya rasa yang tidak enak yang disebabkannya, sehingga
infeksi ini seharusnya tidak diabaikan begitu saja.
Adanya kejadian infeksi gabungan dengan PMS lain
penting untuk diperhatikan pada saat membuat diagnosis
trikomoniasis. Trikomoniasis merupakan masalah bagi
penderitanya karena gejala dan kemungkinan komplikasi yang
disebabkannya.
Patofisiologi:
Pada
gadis-gadis sebelum usia pubertas, dinding vagina yang sehat
tipis dan hypoestrogenic, dengan pH lebih
besar dari 4,7, pemeriksaan
dengan pembiakan (kultur) akan menunjukkan beberapa
mikroorganisma.
Setelah gadis menjadi dewasa, dinding vagina menebal
dan laktobasilus menjadi mikroorganisma yang dominan, PH
vagina menurun hingga kurang dari 4,5.
Laktobasilus
penting untuk melindungi vagina dari infeksi, dan laktobasilus
adalah flora dari vagina yang dominan (walaupun bukan
merupakan stau-satunya flora vagina).
Masa inkubasi sebelum timbulnya gejala setelah adanya
infeksi bervariasi antara 3-28 hari.
Selama terjadinya infeksi protozoa Trichomonas
vaginalis, trikomonas yang bergerak-gerak (jerky motile
trichomonads) dapat dilihat dari pemeriksaan dengan sediaan
basah.
PH vagina naik, sebagaimana halnya dengan jumlah
lekosit polymorphonuclear (PMN).
Lekosit PMN merupakan mekanisme pertahanan utama dari
pejamu (host/manuasia), dan mereka merespon terhadap adanya
substansi kimiawi yang dikeluarkan trichomonas. T
vaginalis merusak sel epitel dengan cara kontak langsung
dan dengan cara mengeluarkan substansi sitotoksik.
T vaginalis juga menempel pada protein plasma
pejamu, sehingga mencegah pengenalan oleh mekanisme alternatif
yang ada di pejamu dan proteinase pejamu terhadap masuknya T
vaginalis.
Frekuensi:
- Di
Amerika Serikat: Trikomoniasis adalah satu dari PMS yang paling
sering terjadi, dengan angka insiden sekitar 2-3 juta per
tahun.
- Internasional:
Di seluruh dunia, angka insiden adalah sekitar 180 juta
per tahun. Sementara
angka prevalensinya bervariasi dari 5% pada klien klinik
KB sampai 75% pada pekerja seks.
Mortalitas/Morbiditas:
- Trikomoniasis memiliki
angka infeksi gabungan yang cukup tinggi dengan PMS lain.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh
Wolner-Hanssen dkk, menemukan gonore berhubungan secara
signifikan dengan infeksi trikomonas.
Trikomoniasis juga memfasilitasi penularan human
immunodeficiency virus (HIV).
- Pada perempuan gejala
adanya infeksi trikomoniasis dapat bervariasi dari tidak
ada gejala (asimptomatik) sampai adanya tanda radang
seperti gatal-gatal pada vagina dan adanya duh tubuh
vagina (vaginal discharge/keputihan).
- Pada
perempuan hamil, trikomoniasis yang tidak diobati
berhubungan dengan ketuban pecah dini, bayi berat lahir
rendah dan cellulites pasca histerektomi.
Jenis kelamin:
- Trikomoniasis
terdapat baik pada laki-laki maupun perempuan, namun lebih
sering ditemukan pada perempuan.
- Pada
laki-laki, gejala adanya trikomoniasis bervariasi dari
tidak ada gejala (asimtomatik/karier) sampai uretritis,
prostatitis, atau epididymo-orchitis.
- Perempuan
juga dapat merupakan karier asimptomatis, namun umumnya
gejala akan menunjukkan adanya proses peradangan (lihat
bagian klinis di bawah).
Umur:
Trikomoniasis
lebih sering terjadi pada laki-laki dan perempuan yang aktif
seksual baik remaja maupun dewasa.
Keluhan:
Perempuan
- Klien
dengan trikomoniasis mungkin merasakan gatal-gatal atau
rasa panas pada vagina.
Kemungkin juga ada keputihan yang berbau tidak
normal (busuk).
- Rasa
sakit sewaktu berhubungan seksual mungkin juga merupakan
keluhan utama yang dirasakan klien dengan trikomoniasis.
- Keputihan
abnormal yang purulen, berbusa atau berdarah kemungkinan
terjadi juga. Keputihan
yang berbusa yang dianggap sebagai tanda klasik dari
trikomoniasis hanya terjadi pada 12% dari klien yang
mengalami infeksi ini.
- Pasien
dengan trikomoniasis dapat juga mengalami perdarahan
pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah.
Laki-laki
- Kebanyakan
infeksi trikomoniasis pada laki-laki asimptomatik.
- Mungkin
ada keluhan nyeri pada saat kencing, nyeri pada uretra,
testis atau nyeri perut bagian bawah.
Tanda
Fisik:
Perempuan
- Pada
pemeriksaan panggul dengan spekulum, tanda-tanda
trikomoniasis diantaranya
colpitis macularis (disebut sebagai strawberry
cervix); keputihan yang purulen yang dapat berwarna
putih krem, kuning, hijau atau abu-abu, keputihan yang
berbusa, erythema vagina dan vulva.
- Colpitis
macularis dan keputihan yang berbusa bersama-sama
memiliki spesifisitas 99% dan secara sendiri-sendiri
memiliki nilai prediksi positif (positive predictive
value) 90% dan 62%.
Yang menarik, penelitian yang dilakukan oleh
Wolner-Hanssen dkk. Menemukan bahwa pemeriksaan dengan
mata telanjang (tanpa bantuan alat) menemukan colpitis
macularis hanya 1,7% dari klien dengan trikomoniasis
sedangkan pemeriksaan dengan bantuan kolposkopi
mendapatkan colpitis macularis sebanyak 70% dari pasien
yang menderita trikomoniasis yang dipastikan
diagnosisnya dengan pemeriksaan sediaan basah.
- Sebagian
besar dari gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak
spesifik untuk infeksi trikomoniasis dan dapat terjadi
pada berbagai infeksi vagina dan serviks yang lain.
Sehingga jika hanya bergantung pada pemeriksaan
fisik saja banyak klien dengan trikomoniasis akan tidak
terdiagnosis.
Diagnosis pasti trikomoniasis dapat ditegakkan
dengan adanya protozoa berflagel yang terlihat dari
pemeriksaan sediaan basah,
Papanicolaou (Pap) smears, atau media kultur.
Laki-laki
- Kebanyakan laki-laki yang terinfeksi
trikomoniasis tidak ada tanda fisik.
- Pada beberapa kasus, laki-laki dengan infeksi
ini mungkin menunjukkan adanya discharge dari penis.
- Beberapa kasus yang lain mungkin ada tanda-tanda
prostatitis atau epididymitis.
Bayi baru lahir perempuan: T vaginalis yang didapat
pada saat melewati jalan lahir dapat menyebabkan keputihan
pada bayi pada minggu-minggu pertama kehidupannya.
Anak-anak sebelum usia pubertas
- Anak-anak
sebelum usia pubertas yang terkena trikomoniasis akan
menunjukkan gejala yang mirip dengan gejala pada klien
remaja dan dewasa.
- Adanya
T vaginalis pada anak-anak sebelum pubertas
harus dicurigai kemungkinan adanya kekerasan seksual.
Penyebab:
- T vaginalis adalah protozoa dengan
flagela.
- Rata-rata masa inkubasi adalah 1 minggu namun
dapat bervariasi antara 4-28 hari.
- Trikomoniasis umumnya merupakan penyakit menular
seksual.
- Risiko untuk terkena infeksi ini tergantung pada
aktifitas seksual klien.
- Faktor-faktor risiko untuk terkena T
vaginalis termasuk hal berikut ini:
- Jumlah pasangan seks selama hidupnya
- Pasangan seksual saat ini
- Tidak memakai kondom saat hubungan seksual
- Memakai kontarsepsi oral (pil KB)
Pemeriksan
laboratorium:
- Lakukan pemeriksaan laboratorium untuk klien yang
memiliki gejala-gejala vaginitis.
Berbagai pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat
dan dengan fasilitas laboratorium sederhana. Dasar dari
pemastian diagnosis adalah pemeriksaan-pemeriksaan yang
dilakukan untuk mengeluarkan penyebab lain yang mungkin
juga menyebabkan keluhan pada klien.
- pH vagina
- Penentuan
pH vagina dengan cara menempelkan swab dengan sekresi
vagina pada kertas
pH paper dengan nilai antara 3.5-5.5.
- pH
vagina normal secara praktis menunjukkan diagnosis
trikomoniasis negatif.
pH lebih dari
4.5 ditemukan pada trikomoniasis dan vaginosis
bacterial.
- Tes
ini memeriksa adanya amine dengan menambahkan KOH pada
discharge vagina dan membaui adanya bau seperti bau ikan,
tes ini berguna untuk menyingkirkan kemungkinan
vaginosis bakterial.
- Saat
ini telah ada pemeriksaan pH Vagina
dan tes whiff yang dikombinasikan dalam satu
bentuk tes dengan
tanda negatif positif.
- Sediaan Basah (Wet
mount)
- Pemeriksaan
dengan sediaan garam basah melalui mikrokoskop terhadap
secret vagina yang diusapkan pada objek glass dapat
mengidentifikasi protozoa yang berbentuk seperti tetesan
air, berflagela, dan bergerak.
Pemeriksaan ini juga dapat menemukan clue cells (tanda
adanya penyakit vaginosis bacterial).
Rasio sel darah putih (lekosit) terhadap sel
epitel juga dapat dihitung.
- Sensitivitas
pemeriksaan ini mencapai 40-60%.
Sedangkan spesifisitas dapat mencapai 100% jika
sediaan garam basah segera dilihat di bawah mikroskop.
- Sensitivitas
untuk mendeteksi sama dengan pemeriksaan sediaan garam
basah, yaitu 40-60%.
- Sedangkan
spesifisitas mencapai 95-99% untuk petugas-petugas yang
sudah terlatih.
- Pemeriksaan
lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya
trikomoniasis yaitu pemeriksaan biakan (kultur) secret
vagina, direct immunofluorescence assay, dan Polymerase
chain reaction (PCR)
- Jika
ditemukan trikomoniasis maka harus dilakukan juga
pemeriksaan untuk PMS lain seperti sifilis, Neisseria
gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, HIV, hepatitis
B, dan hepatitis C.
- Infeksi
gabungan dengan gonore cukup tinggi.
Hal-hal lain:
- Trikomoniasis dapat
menyebabkan komplikasi-komplikasi pada kehamilan.
- Adanya T vaginalis
pada populasi anak dapat untuk memprediksi kemungkinan
adanya kekerasan seksual pada anak.
- CDC merekomendasikan
metronidazole untuk digunakan dalam kehamilan. Namun, beberapa dokter lebih cenderung untuk memakai
clotrimazole terutama pada trimester pertama kehamilan.
- Pengobatan
trikomoniasis untuk klien dengan HIV positif sama dengan
klien dengan HIV negatif.
Referensi:
- American Academy of
Pediatrics: Trichomonas vaginalis infections. In: Red
Book. 2000: 588-589.
- Centers for Disease
Control and Prevention: 1998 guidelines for treatment of
sexually transmitted diseases. MMWR Morb Mortal Wkly Rep
1998 Jan 23; 47(RR-1): 1-111
- DeMeo LR, Draper DL,
McGregor JA, et al: Evaluation of a deoxyribonucleic acid
probe for the detection of Trichomonas vaginalis in
vaginal secretions. Am J Obstet Gynecol 1996 Apr; 174(4):
1339-42
- Finegold SM, Mathisen
GE: Metronidazole. In: Principles and Practice of
Infectious Diseases. 1990: 303-8.
- Hammill HA: Trichomonas
vaginalis. Obstet Gynecol Clin North Am 1989 Sep; 16(3):
531-40
- Jirovec O, Petru M:
Trichomonas vaginalis and trikomoniasis. Adv Parasitol
1968; 6: 117-88
- Krieger JN, Tam MR,
Stevens CE, et al: Diagnosis of trikomoniasis. Comparison
of conventional wet-mount examination with cytologic
studies, cultures, and monoclonal antibody staining of
direct specimens. JAMA 1988 Feb 26; 259(8): 1223-7
- Laga M, Manoka A,
Kivuvu M, et al: Non-ulcerative sexually transmitted
diseases as risk factors for HIV-1 transmission in women:
results from a cohort study. AIDS 1993 Jan; 7(1): 95-102
- Lossick JG, Kent HL:
Trikomoniasis: trends in diagnosis and management. Am J
Obstet Gynecol 1991 Oct; 165(4 Pt 2): 1217-22
- Mulcahy FM, Lacey CJ:
Sexually transmitted infections in adolescent girls.
Genitourin Med 1987 Apr; 63(2): 119-21
- Nyirjesy P: Vaginitis
in the adolescent patient. Pediatr Clin North Am 1999 Aug;
46(4): 733-45, xi
- Petrin D, Delgaty K,
Bhatt R, Garber G: Clinical and microbiological aspects of
Trichomonas vaginalis. Clin Microbiol Rev 1998 Apr; 11(2):
300-17
- Sobel JD, Nagappan V,
Nyirjesy P: Metronidazole-resistant vaginal trikomoniasis--an
emerging problem. N Engl J Med 1999 Jul 22; 341(4): 292-3
- Sobel JD: Vaginitis. N
Engl J Med 1997 Dec 25; 337(26): 1896-903
- Sobel JD:
Vulvovaginitis in healthy women. Compr Ther 1999 Jun-Jul;
25(6-7): 335-46
- Wolner-Hanssen P,
Krieger JN, Stevens CE, et al: Clinical manifestations of
vaginal trikomoniasis. JAMA 1989 Jan 27; 261(4): 571-6
- Yule
A, Gellan MC, Oriel JD, Ackers JP: Detection of
Trichomonas vaginalis antigen in women by enzyme
immunoassay. J Clin Pathol 1987 May; 40(5): 566-8
sumber:
eMedicine.com
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |