|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Memobilisasi
Pekerja Seks untuk Memerangi HIV/AIDS
Geneva, 22 Januari 2003 - pekerja seks merupakan salah
sarti kelompok yang paling terpengaruh oleh HIV, kini mereka
telah dimobilisasi dan diberdayakan menjadi penggerak utama
dalam pencegahan HIV, demikian menurut Nn. Aurorita Mendoza,
penasehat kerentanan dan pencegahan HIV pada Program Kerjasama
HIV/AIDS PBB (UNAIDS).
"Telah bertahun-tahun, kami menyaksikan betapa
pekerja seks telah menjadi salah satu penggerak terbesar dalam
menanggapi masalah AIDS, baik dalam hal kepedulian maupun
pencegahan. Meskipun dalam hal ini, mereka masih sering
menghadapi halangan, termasuk stigma dan diskriminasi, dan
hukum yang masih menganggap mereka kriminal, dan mencegah
mereka memperoleh informasi dan pelayanan yang dibutuhkan,"
kata Mendoza, pada kesempatan berpidato pada workshop pekerja
seks dan HIV / AIDS UNAIDS, yang diselenggarakan oleh UNAIDS
clan Asosiasi pekerja Seksual.
Dalam workshop ini, peserta mencoba mengidentifikasi strategi
PBB dan Masyarakat Pekerja Seksual untuk bekerja bersama-sama
dalam penanggulangan penyebaran dan mengurangi dampak dari
HIV/ AIDS di antara pekerja seks
sendiri. Perwakilan dari jaringan pekerja seks dan PBB mendiskusikan jalan yang
paling efektif, untuk memobilisasi dan mencegah penyebaran
HIV / AIDS di kalangan mereka.
Beberapa faktor menyebabkan pekerja seks mudah terserang
HIV. Sementara itu pekerja seks merupakan fenomena global,
pekerjaan illegal. Pekerja seks sering menjadi korban stigma
dan diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan dan memiliki
akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan.
Pekerja seksual memiliki peran penting dalam sektor sosial
dan ekonomi di banyak negara. Menurut International Labour
Organization's (ILa), diperkirakan pendapatan dari
industri seks ini lebih dari 2% dari gross domestik produk
(GDP) di empat negara ASEAN pada akhir tahun 1990-an.
Di banyak negara di mana hubungan heteroseksual adalah model
utama penularan HIV, epidemi HIV cenderung terkonsentrasi di
kalangan pekerja seks dan pelanggannya sebelum hal itu
menyebar pada kalangan masyarakat yang lebih luas.
"Pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa, ketika
tingkat infeksi HIV di kalangan pekerja seks meningkat, itu
adalah pertanda tingkat HIV di masyarakat sangat mungkin
mengalami peningkatan pula, jika upaya pencegahan tidak segera
dilakukan," kata Mendoza.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pekerja seks
termasuk yang paling responsif dalam program pencegahan.
Banyak negara telah sukses mengurangi penyebaran HIV di
kalangan pekerja seksnya, seperti Bangladesh, Benin, Kamboja,
Republik Dominika dan Thailand, terutama karena adanya
kebijakan mendorong penggunaan kondom bagi para pelanggan dan
untuk inisiatif itu melibatkan secara langsung pekerja seks
dalam promosi kondom.
Salah sarli kunci sukses pencegahan HIV di kalangan pekerja
seks adalah untuk melibatkan mereka secara langsung dalam
pengembangan dan implementasi program pencegahan, kata
Mahboba Mahmood, Direktur Naripokkho, aktivis sebuah
organisasi wanita yang memobilisasi pekerja seks di
Bangladesh.
"Membangun kapasitas pekerja seks untuk ambil bagian
dalam program yang menghargai kemanusiaan dan hak sebagai
warga negara, membuktikan dapat menjadi salah satu strategi
yang sukses dalam pencegahan penyebaran HIV. Hal itu akan
mendorong solidaritas, memungkinkan mereka mendapatkan lebih
dari kelompoknya dan saling berbagi pengetahuan tentang
masalah kesehatan. Mereka tidak akan lagi menjadi outsider dalam
program pencegahan HIV / AIDS, sehingga akan memberikan
tambahan kontrol bagi kesehatan mereka," katanya.
Para ahli setuju bahwa banyak yang dapat dilakukan untuk
mengungkap faktor yang memaksa laki-Iaki dan perempuan untuk
terlibat dalam pekerjaan ini (industri seks) , baik formal
maupun informal, sesuatu yang diartikan untuk mempertahankan
hidup, perlindungan pada pekerja seks dan membantu mereka jika
ingin meninggalkan pekerjaan sebagai pekerja seks, jika mereka
menghendaki demikian.
.
"Tantangan utama sekarang bagi pemerintah adalah membuat
tersedianya akses pada upaya pencegahan HIV bagi pekerja seks,
mengimplementasikan kebijakan dan hukum dalam kerangka yang
tidak lagi diskriminatif terhadap pekerja seks, set-up program
yang memampukan perempuan belia, dan mengurangi kekerasan
terhadap perempuan," kata Lin Lean Lim, Manajer Program
Promosi Gender ILO.
Workshop diselenggarakan di Geneva dari 21-22 Januari 2003
yang diikuti sekitar 35 perwakilan dari 16 negara yang
teridiri dari atas: perwakilan PBB, pemerintah, jaringan
pekerja seks dan organisasi pekerja seks. Ini adalah salah
satu seri workshop yang memfokuskan pada kelompok yang sangat
rentan tertular HIV.
Dalam deklarasi "Komitmen terhadap HIV / AIDS",
yang diputuskan secara bulat dalam sesi khusus ten tang HIV /
AIDS dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada
bulan Juni 2001 yang lalu, seluruh pemerintah anggota
Perserikatan Bangsa-Bangsa sepakat untuk memprioritaskan
kepada kalangan berisiko tinggi --termasuk kalangan pekerja
seks -- dalam penanggulangan AIDS di negara masing-masing.
Sumber:
Newsletter LP3Y Edisi 57 Januari 2003
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |