OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Memobilisasi Pekerja Seks untuk Memerangi HIV/AIDS

Geneva, 22 Januari 2003 - pekerja seks merupakan salah sarti kelompok yang paling terpengaruh oleh HIV, kini mereka telah dimobilisasi dan diber­dayakan menjadi penggerak utama dalam pencegahan HIV, demikian menurut Nn. Aurorita Mendoza, penasehat kerentanan dan pencegahan HIV pada Program Kerjasama HIV/AIDS PBB (UNAIDS).

"Telah bertahun­-tahun, kami me­nyaksikan betapa pekerja seks telah menjadi salah satu penggerak terbesar dalam menanggapi masalah AIDS, baik dalam hal kepedulian maupun pencegahan. Meskipun dalam hal ini, mereka masih sering menghadapi halangan, termasuk stigma dan diskriminasi, dan hukum yang masih menganggap mereka kriminal, dan mencegah mereka memperoleh informasi dan pelayanan yang dibutuhkan," kata Mendoza, pada kesempatan berpidato pada workshop pekerja seks dan HIV / AIDS UNAIDS, yang diselenggarakan oleh UNAIDS clan Asosiasi pekerja Seksual. 

Dalam workshop ini, peserta mencoba mengidentifikasi strategi PBB dan Masyarakat Pekerja Seksual untuk bekerja bersama-sama dalam penanggulangan penyebaran dan mengu­rangi dampak dari HIV/ AIDS di antara pekerja seks sendiri. Perwakilan dari jaringan pekerja seks dan PBB men­diskusikan jalan yang paling efektif, untuk memobilisasi dan men­cegah penyebaran HIV / AIDS di kalangan mereka. 

Beberapa faktor me­nyebabkan pekerja seks mudah terserang HIV. Sementara itu pekerja seks merupakan feno­mena global, pekerjaan illegal. Pekerja seks sering menjadi korban stigma dan diskriminasi, eksploitasi dan ke­kerasan dan memiliki akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan.

Pekerja seksual memiliki peran penting dalam sektor sosial dan ekonomi di banyak negara. Menurut International Labour Organization's (ILa), diperkirakan pendapatan dari industri seks ini lebih dari 2% dari gross domestik produk (GDP) di empat negara ASEAN pada akhir tahun 1990-an.

Di banyak negara di mana hubungan heteroseksual adalah model utama penularan HIV, epidemi HIV cenderung terkonsentrasi di kalangan pekerja seks dan pelanggannya sebelum hal itu menyebar pada kalangan masyarakat yang lebih luas.

"Pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa, ketika tingkat infeksi HIV di kalangan pekerja seks meningkat, itu adalah pertanda tingkat HIV di masyarakat sangat mungkin mengalami peningkatan pula, jika upaya pencegahan tidak segera dilakukan," kata Mendoza.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pekerja seks termasuk yang paling responsif dalam program pen­cegahan. Banyak negara telah sukses mengurangi penyebaran HIV di kalangan pekerja seks­nya, seperti Bangladesh, Benin, Kamboja, Republik Dominika dan Thailand, terutama karena adanya kebijakan mendorong penggunaan kondom bagi para pelanggan dan untuk inisiatif itu melibatkan secara langsung pekerja seks dalam promosi kondom.

Salah sarli kunci sukses pencegahan HIV di kalangan pekerja seks adalah untuk melibatkan mereka secara langsung dalam pengembangan dan implementasi pro­gram pencegahan, kata Mahboba Mahmood, Direktur Naripokkho, aktivis sebuah organisasi wanita yang memobilisasi pekerja seks di Bangladesh.

"Membangun kapasitas pekerja seks untuk ambil bagian dalam program yang menghargai kemanusiaan dan hak sebagai warga negara, membuktikan dapat menjadi salah satu strategi yang sukses dalam pencegahan penyebaran HIV. Hal itu akan mendorong solidaritas, memungkinkan mereka mendapatkan lebih dari kelompoknya dan saling berbagi pengetahuan tentang masalah kesehatan. Mereka tidak akan lagi menjadi outsider dalam pro­gram pencegahan HIV / AIDS, sehingga akan memberikan tambahan kontrol bagi kesehatan mereka," katanya.

Para ahli setuju bahwa banyak yang dapat dilakukan untuk mengungkap faktor yang memaksa laki-Iaki dan perempuan untuk terlibat dalam pekerjaan ini (industri seks) , baik formal maupun informal, sesuatu yang diartikan untuk mempertahankan hidup, perlindungan pada pekerja seks dan membantu mereka jika ingin meninggalkan pekerjaan sebagai pekerja seks, jika mereka menghendaki demikian.            .

"Tantangan utama sekarang bagi pemerintah adalah membuat tersedianya akses pada upaya pencegahan HIV bagi pekerja seks, meng­implementasikan kebijakan dan hukum dalam kerangka yang tidak lagi diskriminatif terhadap pekerja seks, set-up program yang memampukan perempuan belia, dan mengurangi kekerasan terhadap perempuan," kata Lin Lean Lim, Manajer Program Promosi Gender ILO.

Workshop dise­lenggarakan di Geneva dari 21-22 Januari 2003 yang diikuti sekitar 35 perwakilan dari 16 negara yang teridiri dari atas: perwakilan PBB, pemerintah, jaringan pekerja seks dan organisasi pekerja seks. Ini adalah salah satu seri workshop yang memfokuskan pada kelompok yang sangat rentan tertular HIV.

Dalam deklarasi "Komitmen terhadap HIV / AIDS", yang diputuskan secara bulat dalam sesi khusus ten tang HIV / AIDS dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan Juni 2001 yang lalu, seluruh pemerintah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sepakat untuk memprioritaskan kepada kalangan berisiko tinggi --termasuk kalangan pekerja seks -- dalam penanggulangan AIDS di negara masing-masing.

Sumber: Newsletter LP3Y Edisi 57 Januari 2003

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan