|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Faktor-faktor
yang berhubungan dengan Tes HIV pada kelompok remaja berisiko
tinggi dengan HIV-Positif dan kelompok remaja berisiko tinggi
dengan HIV-Negatif: The REACH Study
Issu
terakhir dalam dunia Kedokteran Anak mengetengahkan suatu
studi yang difokuskan pada pola tes HIV pada remaja berisiko
tinggi dengan HIV-positif danHIV-negatif untuk mengetahui
mengapa, di mana, dan kapan remaja tersebut menggunakan
pelayanan tes HIV.
Metode
Peneliti
merekrut 387 responden dari 15 fasilitas pelayanan kesehatan
dasar. Beberapa ketentuan penelitian yang harus dipenuhi oleh
responden adalah, responden harus sudah di tes HIV paling
tidak 1 kali sebelum studi ini dimulai. Responden dengan HIV-positif
(N=246), adalah yang tertular melalui Narkoba suntikan atau
hubungan seksual. Sedangkan untuk responden dengan HIV-negatif
harus mempunyai riwayat perilaku berisiko tinggi yang
meningkatkan kemungkinan tertular HIV.
Riwayat
Responden
Peneliti
bertanya ke responden tentang riwayat perilaku seksual mereka,
termasuk jumlah pasangan seks, orientasi seksual, dan umur
pertama kali berhubungan seksual. Responden laki-laki juga
harus menjawab apakah mereka pernah melakukan hubungan seks
sesama jenis.
Responden
juga menjawab pertanyaan mengenai riwayat pemakaian Narkoba
dan alkohol, termasuk seberapa sering mereka mengkonsumsi
alkohol dan atau ganja (jika mereka memakai keduanya).
Peneliti juga melakukan analisis urine untuk mengukur kadar
pemakaian ganja.
Jawaban-jawaban
tersebut digunakan untuk menentukan tingkat risiko individual
pada responden terhadap penularan HIV.
Riwayat
Tes HIV
Peneliti
bertanya pada responden berapa kali mereka telah melakukan tes
HIV sebelum studi ini, alasan mengapa mereka melakukan tes,
jenis tes yang dipakai dan mereka melakukan tes tersebut
Hasil
I.
Riwayat Tes HIV
Status HIV
|
Frekuensi
Tes HIV
|
<
3 kali
|
3+
kali
|
HIV ( +)
|
68,1%
|
31,9%
|
HIV ( - )
|
63,8%
|
36,2%
|
|
|
|
Etnis
|
|
|
African-American
|
70%
|
30%
|
Kulit putih
|
46,5%
|
53,5%
|
Etnis lain/campuran
|
62,9%
|
37,1%
|
II.
Alasan-alasan Melakukan Tes HIV
Status HIV
|
Alasan
Melakukan Tes HIV
|
Takut
tertular akibat Hub. Seks
|
Rekomendasi
petugas pelayanan kesehatan
|
Responden
merasa sakit
|
HIV ( +)
|
73,6%
|
53,1%
|
-
|
HIV ( - )
|
43,1%
|
66,1%
|
-
|
|
|
|
|
Jenis
Kelamin
|
|
|
|
Laki-laki
|
-
|
-
|
30,2%
|
Perempuan
|
-
|
-
|
25,7%
|
*Tidak
ada Hasil berdasarkan kategori etnik yang dilaporkan karena
perbedaannya kecil,
III.
Tempat Melakukan Tes HIV
Status HIV
|
Tempat Melakukan Tes HIV
|
Dirahasiakan
|
RS/UGD
|
Ketika
Masuk Militer
|
Bank
Darah
|
HIV ( +)
|
71,4%
|
22,1%
|
5,6%
|
0,9%
|
HIV ( - )
|
73,6%
|
21,4%
|
2,5%
|
2,5%
|
|
|
|
|
|
Jenis
Kelamin
|
|
|
|
|
Laki-laki
|
63,4%
|
26,3%
|
3,5%
|
2,6%
|
Perempuan
|
73,5%
|
20,5%
|
4,9%
|
1,1%
|
|
|
|
|
|
Etnis
|
|
|
|
|
African-American
|
71,5%
|
22,4%
|
4,6%
|
1,4%
|
Kulit putih
|
75%
|
20%
|
2,5%
|
1,2%
|
Etnis lain/campuran
|
72,9%
|
20,8%
|
5,2%
|
1%
|
Peneliti
menemukan bahwa hanya sedikit faktor yang berhubungan dengan
jumlah frekuensi seorang remaja melakukan tes HIV. Dari
kelompok HIV-positif, merasa sakit adalah satu-satunya faktor
yang berhubungan dengan besarnya frekuensi tes HIV, yang
menunjukkan bahwa timbulnya gejala dapat memicu kebutuhan
melakukan tes HIV. Tetapi, karena mayoritas responden dengan
HIV-positif dalam studi ini adalah tanpa gejala,
banyak yang tidak melakukan tes HIV berulang.
Peneliti
menyimpulkan bahwa besarnya frekuensi tes HIV pada responden
yang berisiko tinggi berhubungan dengan konsumsi ganja dalam 3
bulan terakhir sebelum studi, hubungan seksual dengan sesama
jenis (laki-laki dengan laki-laki), dan kulit putih.
Peneliti
menganggap bahwa responden dengan HIV-negatif tampaknya lebih
mampu menilai kebutuhan mereka akan tes HIV, berdasarkan
perilaku kesehatan mereka yang berisiko, daripada responden
dengan HIV positif. Sejalan dengan studi sebelumnya, peneliti
menemukan bahwa mayoritas remaja melakukan tes HIV karena
mereka takut tertular HIV melalui hubungan seksual.
Peneliti
menyarankan penerapan dan penyuluhan tentang tes HIV secara
rutin di pusat pelayanan kesehatan dasar dan klinik untuk
semua remaja.
Peneliti
berpendapat bahwa konseling dan tes tidak hanya membuat
individu tersebut tahu akan status HIV mereka, tetapi juga
dapat mengurangi risiko terkena infeksi dan menjadi sumber
penularan bagi orang lain. responden yang berisiko tinggi.
(Widi)
sumber:
SHOP
Talk: School Health Opportunities and Progress Bulletin
Volume 7, Number 17 October 25, 2002
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |