OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Faktor-faktor yang berhubungan dengan Tes HIV pada kelompok remaja berisiko tinggi dengan HIV-Positif dan kelompok remaja berisiko tinggi dengan HIV-Negatif: The REACH Study

Issu terakhir dalam dunia Kedokteran Anak mengetengahkan suatu studi yang difokuskan pada pola tes HIV pada remaja berisiko tinggi dengan HIV-positif danHIV-negatif untuk mengetahui mengapa, di mana, dan kapan remaja tersebut menggunakan pelayanan tes HIV.

Metode

Peneliti merekrut 387 responden dari 15 fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Beberapa ketentuan penelitian yang harus dipenuhi oleh responden adalah, responden harus sudah di tes HIV paling tidak 1 kali sebelum studi ini dimulai. Responden dengan HIV-positif (N=246), adalah yang tertular melalui Narkoba suntikan atau hubungan seksual. Sedangkan untuk responden dengan HIV-negatif harus mempunyai riwayat perilaku berisiko tinggi yang meningkatkan kemungkinan tertular HIV.

Riwayat Responden

Peneliti bertanya ke responden tentang riwayat perilaku seksual mereka, termasuk jumlah pasangan seks, orientasi seksual, dan umur pertama kali berhubungan seksual. Responden laki-laki juga harus menjawab apakah mereka pernah melakukan hubungan seks sesama jenis.

Responden juga menjawab pertanyaan mengenai riwayat pemakaian Narkoba dan alkohol, termasuk seberapa sering mereka mengkonsumsi alkohol dan atau ganja (jika mereka memakai keduanya). Peneliti juga melakukan analisis urine untuk mengukur kadar pemakaian ganja.

Jawaban-jawaban tersebut digunakan untuk menentukan tingkat risiko individual pada responden terhadap penularan HIV.

Riwayat Tes HIV 

Peneliti bertanya pada responden berapa kali mereka telah melakukan tes HIV sebelum studi ini, alasan mengapa mereka melakukan tes, jenis tes yang dipakai dan mereka melakukan tes tersebut

 

Hasil

I. Riwayat Tes HIV

Status HIV

Frekuensi Tes HIV

< 3 kali

3+ kali

   HIV ( +)

68,1%

31,9%

   HIV ( - )

63,8%

36,2%

 

 

 

Etnis

 

 

   African-American

70%

30%

   Kulit putih

46,5%

53,5%

   Etnis lain/campuran

62,9%

37,1%

II. Alasan-alasan Melakukan Tes HIV

Status HIV

Alasan Melakukan Tes HIV

Takut tertular akibat Hub. Seks

Rekomendasi petugas pelayanan kesehatan

Responden merasa sakit

   HIV ( +)

73,6%

53,1%

-

   HIV ( - )

43,1%

66,1%

-

 

 

 

 

Jenis Kelamin

 

 

 

   Laki-laki

-

-

30,2%

   Perempuan

-

-

25,7%

*Tidak ada Hasil berdasarkan kategori etnik yang dilaporkan karena perbedaannya kecil,

III. Tempat Melakukan Tes HIV

Status HIV

Tempat Melakukan Tes HIV

Dirahasiakan

RS/UGD

Ketika Masuk Militer

Bank Darah

   HIV ( +)

71,4%

22,1%

5,6%

0,9%

   HIV ( - )

73,6%

21,4%

2,5%

2,5%

 

 

 

 

 

Jenis Kelamin

 

 

 

 

   Laki-laki

63,4%

26,3%

3,5%

2,6%

   Perempuan

73,5%

20,5%

4,9%

1,1%

 

 

 

 

 

Etnis

 

 

 

 

   African-American

71,5%

22,4%

4,6%

1,4%

   Kulit putih

75%

20%

2,5%

1,2%

   Etnis lain/campuran

72,9%

20,8%

5,2%

1%

 

Peneliti menemukan bahwa hanya sedikit faktor yang berhubungan dengan jumlah frekuensi seorang remaja melakukan tes HIV. Dari kelompok HIV-positif, merasa sakit adalah satu-satunya faktor yang berhubungan dengan besarnya frekuensi tes HIV, yang menunjukkan bahwa timbulnya gejala dapat memicu kebutuhan melakukan tes HIV. Tetapi, karena mayoritas responden dengan HIV-positif dalam studi ini adalah tanpa gejala,  banyak yang tidak melakukan tes HIV berulang.

Peneliti menyimpulkan bahwa besarnya frekuensi tes HIV pada responden yang berisiko tinggi berhubungan dengan konsumsi ganja dalam 3 bulan terakhir sebelum studi, hubungan seksual dengan sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki), dan kulit putih.

Peneliti menganggap bahwa responden dengan HIV-negatif tampaknya lebih mampu menilai kebutuhan mereka akan tes HIV, berdasarkan perilaku kesehatan mereka yang berisiko, daripada responden dengan HIV positif. Sejalan dengan studi sebelumnya, peneliti menemukan bahwa mayoritas remaja melakukan tes HIV karena mereka takut tertular HIV melalui hubungan seksual.

Peneliti menyarankan penerapan dan penyuluhan tentang tes HIV secara rutin di pusat pelayanan kesehatan dasar dan klinik untuk semua remaja.

Peneliti berpendapat bahwa konseling dan tes tidak hanya membuat individu tersebut tahu akan status HIV mereka, tetapi juga dapat mengurangi risiko terkena infeksi dan menjadi sumber penularan bagi orang lain. responden yang berisiko tinggi. (Widi)

sumber: SHOP Talk: School Health Opportunities and Progress Bulletin Volume 7, Number 17 October 25, 2002

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan