OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Penanggulangan AIDS Memasuki Babak Baru

Oleh: Samsuridjal Djauzi,
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan bekerja
pada kelompok studi HIV/AIDS FKUI/RSCM Jakarta


Sampai awal 2006, jumlah kasus baru HIV/AIDS di dunia masih terus meningkat. Hanya di beberapa negara saja peningkatan kasus baru HIV/AIDS dapat dicegah. Di tengah suasana keprihatinan peningkatan kasus baru AIDS di dunia, upaya penanggulangan AIDS di dunia sebenarnya telah mendapat darah segar ketika Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO)
mencanangkan program 3 by 5 pada 1 Desember 2003.

Melalui program ini WHO mengajak semua negara untuk menyediakan layanan terapi AIDS bagi 3 juta orang pada tahun 2005. Program yang dianggap spektakuler ini ternyata belum dapat mencapai sasaran, karena sampai akhir tahun 2005 baru sekitar 1 juta orang yang mendapat terapi AIDS.  Namun program ini berhasil menggalang dana dari negara maju dan
menyatukan langkah untuk mempercepat upaya penanggulangan AIDS di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.

Di kawasan Asia Tengggara, Thailand telah berhasil menahan laju pertumbuhan infeksi baru dan mampu menyediakan terapi AIDS untuk 80 persen penduduk yang memerlukan. Sedangkan Kamboja berhasil meningkatkan cakupan terapi 50 persen dalam 2 tahun. Indonesia juga berhasil meningkatkan cakupan terapi secara nyata dan merupakan salah satu dari tiga negara di kawasan Asia Tenggara yang telah berhasil memproduksi
sendiri obat AIDS (antiretroviral).

Meski demikian, secara keseluruhan kawasan Asia Pasifik masih ketinggalan dibandingkan dengan Amerika Latin dalam upaya meningkatkan layanan terapi AIDS. Di kawasan Asia Pasifik cakupan terapi AIDS baru mencapai 14 persen, sedangkan di kawasan Amerika Latin telah mencapai 65 persen. Brasil merupakan negara yang berhasil menyediakan obat AIDS bagi seluruh warganya yang memerlukan. Melalui program ini, Brasil berhasil menyelamatkan ribuan nyawa dan menghemat sekitar US$ 2,4 miliar untuk biaya perawatan rumah sakit. Berbagai hambatan dalam menyediakan akses pencegahan dan terapi AIDS di kawasan Asia Pasifik dibahas pada pertemuan konsultasi 22 negara yang berlangsung di Pattaya, Thailand, Januari lalu.

Pada pertemuan ini komitmen untuk meyediakan akses universal dalam bidang pencegahan, pengobatan, dan dukungan, pada 2010 ditegaskan kembali. Pencapaian pada 2010 merupakan sasaran antara untuk mencapai pengendalian infeksi HIV secara menyeluruh pada 2015, seperti ditetapkan Millenium Development Goal (MDG). Untuk dapat mencapai akses universal di bidang pencegahan, terapi, dan dukungan, pada 2010, telah ditemukan sejumlah faktor penghambat, baik pada tingkat negara pelaksana maupun
pada tingkat regional.

Faktor penghambat tersebut, antara lain kurang tersedianya dana yang berkesinambungan, kemampuan sumber daya manusia yang belum memadai, komoditas untuk pencegahan dan terapi (reagen laboratorium, obat ) yang belum mencukupi dan sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah, serta masih terdapat stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Upaya Percepatan
Mulai 2006 ini, pemerintah meluncurkan program akselerasi pelayanan AIDS komprehensif di 100 kabupaten/kota di Indonesia. Program ini merupakan percepatan upaya pencegahan dan terapi, sehingga upaya tersebut lebih dapat dijangkau masyarakat yang membu- tuhkan.  Jika selama ini layanan pencegahan dan terapi AIDS lebih banyak terdapat
di kota besar, dengan menyebarkan layanan ke 100 kabupaten/kota, diharapkan cakupan layanan ini akan menjadi lebih luas dan masyarakat yang dapat dilayani lebih banyak.

Pada pertemuan konsultasi Asia Pasifik ini ditekankan pentingnya meningkatkan kemampuan nasional (country driven programme). Upaya penanggulangan AIDS diharapkan akan memberi ruang yang lebih besar pada upaya nasional. Bantuan dari luar, baik berupa dana maupun bantuan teknis, masih amat diperlukan. Namun, kontribusi nasional harus terus ditingkatkan.

Dewasa ini, lebih dari 60 persen dana penangulangan AIDS di Indonesia berasal dari luar negeri. Dana ini tidak dapat dijamin kesinambungannya. Karena itu di masa depan perlu diupayakan peningkatan dana dalam negeri, baik dari pemerintah maupun masyarakat agar program penanggulangan AIDS di Indonesia tidak bergantung pada bantuan luar negeri.

Pemerintah daerah juga diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya pada upaya penanggulangan AIDS. Selain itu, upaya untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna program penanggulangan AIDS harus terus diusahakan.  Di beberapa daerah Indonesia kekerapan HIV/AIDS masih rendah. Namun itu tidak berarti bahwa upaya penanggulangan belum perlu dilakukan. Justru pada tingkat kekerapan rendah ini upaya pencegahan akan lebih berhasil. Biaya yang akan timbul karena tidak melakukan upaya pencegahan (cost of
inaction) sesuai dengan pengalaman masa lalu amatlah besar. Karena itulah informasi mengenai cara penularan dan upaya pencegahan sudah harus dilakukan di daerah yang kekerapan HIV/AIDS masih rendah.

Untuk dapat mencapai kelompok yang termarginalisasi, seperti pekerja seks dan pengguna narkoba suntik, peran lembaga swadaya masyarakat (LSM) amat penting. Namun, jumlah LSM di Indonesia masih belum cukup dan pada umumnya berada di kota besar. Karena itulah keberadaan LSM di pedesaan perlu didorong dan kemampuannya pun perlu ditingkatkan.

Di kawasan Asia Pasifik peran kelompok agama cukup penting. Di beberapa negara kontribusi kelompok agama dalam upaya penanggulangan AIDS sudah mulai tampak, namun masih dapat ditingkatkan. Keberhasilan Pemerintah Indonesia mengajak kelompok agama meningkatkan keberhasilan program keluarga berencana dapat diulang dalam upaya penangggulangan AIDS. Dialog dengan organisasi keagamaan perlu ditingkatkan mengenai beberapa masalah yang selama ini masih merupakan silang pendapat.

Kelompok agama dapat berperan besar menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba dan AIDS. Mereka memerlukan informasi yang lengkap dan benar tentang berbagai upaya pencegahan yang akan dilakukan agar dapat menilai manfaat dan mudaratnya. Pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat Indonesia akan dapat mendorong masyarakat menghindari perilaku berisiko. Begitu pula kepedulian agama terhadap masalah
kemanusiaan, akan dapat meningkatkan dukungan terhadap mereka yang terinfeksi. Kelompok agama juga dapat berperan besar dalam mengurangi stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Dengan melaksanakan program pencegahan dan terapi yang baik, Thailand berhasil menurunkan jumlah infeksi baru HIV yang diperkirakan 140.000 sampai 150.000 setahun, hanya menjadi 17.000. Sejak 1984 sekitar 551.000 orang telah meninggal di Thailand karena AIDS. Namun, program penanggulangan yang efektif di negara ini kemudian juga dapat mencegah 540.000 kematian.

Kita dapat belajar banyak dari keberhasilan Thailand. Seluruh potensi dalam masyarakat kita perlu diajak serta untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya HIV/AIDS.

sumber:  Suara Pembaruan, Minggu, 06 April 2006

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan