|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Obat
HIV/AIDS: Perlu Dokter Terlatih untuk Terapi Antiretroviral
Oleh Wartawan ''Pembaruan'' Nancy Nainggolan
PENYAKIT yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus/Acquired
Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) sampai sekarang masih
ditakuti karena sangat mematikan. Yang sekarang banyak
diupayakan adalah pengobatan suportif, pengobatan infeksi
oportunistik, dan antiretroviral.
Pengobatan suportif dimaksudkan untuk meningkatkan kondisi
umum orang dengan HIV/AIDS (Odha). Cara yang ditempuh adalah
pemberian gizi, obat, vitamin, dan kondisi psikososial yang
baik. Dengan cara ini, Odha dapat melakukan aktivitas layaknya
manusia sehat. Pengobatan suportif sangat perlu dan dapat
dilaksanakan di rumah atau tempat pelayanan kesehatan yang
sederhana.
Pengobatan terhadap infeksi oportunistik dilakukan karena
kekebalan tubuh Odha sangat menurun. Pola infeksi oportunistik
berbeda-beda bergantung pada pola mikroba dalam tubuh Odha dan
kondisi lingkungannya. Pada kasus di RS dr Cipto Mangunkusumo,
Jakarta, didapati infeksi karena jamur atau kandidiasis di
mulut dan kerongkongan (8 persen), tuberkulosis (40,1 persen),
sitomegalovirus (28,8 persen), radang otak atau ensefalitis
toksoplasma (17,3 persen), radang paru-paru atau pneumonia p
carinii (13,4 persen), herpes simpleks (9,6 persen), dan
infeksi paru-paru atau histoplasmosis paru (2 persen).
Selain penyakit tersebut, ada juga pengidap HIV/AIDS yang
mengidap kanker, misalnya kanker kelenjar getah bening (limfoma
malignum), kanker ganas yang ditandai dengan perubahan warna
kulit mencolok (sarkoma kaposi), dan kanker leher rahim (serviks).
Pengobatan terhadap kanker itu dilakukan melalui standar
terapi penyakit kanker. Namun, ada HIV tanpa gejala (asimtomatik)
sehingga diagnosis ditegakkan berdasarkan tes antiHIV.
Sementara itu, pengobatan antiretroviral dimaksudkan untuk
mengurangi jumlah virus di dalam tubuh. Biasanya obat
antiretroviral dipakai dalam dua atau tiga kombinasi untuk
mencegah resistensi.
Antiretroviral terdiri dari kombinasi golongan Nukleoside
Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI), Non-Nukleoside Reverse
Transcriptase Inhibitor (NNRTI) dan Protease Inhibitor (PI).
NRTI dan NNRTI dipakai secara bersama-sama agar tubuh semakin
kuat menghambat perkembangan (replikasi) virus. Kedua golongan
obat ini bekerja pada tahap awal perkembangan virus, saat
proses perubahan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) menjadi Ribo
Nucleic Acid (RNA). NRTI dan NNRTI menghambat terbentuknya
RNA. Sedangkan antiretroviral golongan PI berfungsi menghambat
terbentuknya protein baru yang bakal menjadi virus baru.
Sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagi negara
dengan kemampuan dana terbatas, kombinasi ARV yang dianjurkan
yaitu 2 NRTI dan 1 NNRTI atau PI. Menurut dr Samsuridjal SpPD,
terapi ARV yang diterapkan sekarang yaitu kombinasi tiga obat,
yakni Zidovudine, Lamivudine dan Nevirapine. Ketiga obat itu
digabung dalam satu tablet Zidovex-LN. Dr Samsuridjal adalah
Koordinator Program Akses Diagnosis dan Terapi Kelompok Studi
Khusus AIDS (Pokdisus) Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (FKUI)/RSCM.
Obat itu diimpor dari perusahaan farmasi India, Aurobindo
Pharma Ltd. Selain itu, ada kombinasi ZidovexL, berisi
Lamivudine dan Zidovudine, serta obat tunggal Zidovudine dan
Fluconazole (obat jamur) yang diimpor dari Thailand.
Harga Turun
Sejak November lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
memberi izin perusahaan farmasi PT Indofarma Tbk mengimpor
obat antiretroviral dari India. Jumlah yang diimpor perusahaan
itu lebih banyak ketimbang yang diimpor Pokdisus FKUI/RSCM.
Impor dalam jumlah besar itu membuat harga obat tersebut
cenderung semakin murah. Paket antiretroviral kombinasi tiga
jenis obat yang semula harganya Rp 700.000 untuk keperluan
sebulan, turun menjadi Rp 650.000. Kombinasi dua turun Rp
500.000 menjadi Rp 465.000. Sedangkan obat tunggal (Zidovudine)
turun dari Rp 300.000 menjadi Rp 280.000.
Impor dalam besar itu juga memudahkan distribusi obat itu ke
berbagai rumah sakit, sehingga tidak terpusat di Pokdisus FKUI/RSCM.
Meskipun demikian, penyaluran ke rumah sakit lain tetap harus
melalui Pokdisus FKUI/RSCM. Dengan demikian, harga obat
antiretroviral di berbagai rumah sakit sama dengan di Pokdisus
FKUI/RSCM. Obat-obatan itu akan disebar ke rumah sakit di 21
kota di Indonesia. Di Jakarta dan Bandung terdapat
masing-masing 20 dan 26 rumah sakit yang menerima pembagian.
"Untuk menggunakan obat antiretroviral perlu
dipertimbangkan gejala klinis, jumlah limfosit, jumlah virus,
dan kemampuan pasien menggunakan obat dalam jangka panjang,"
kata Samsuridjal.
Menambahi keterangan tersebut, dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM,
menyatakan, seorang Odha memerlukan terapi antiretroviral bila
mengalami sindrom HIV akut dan berada dalam tahap AIDS. Dr
Zubairi adalah Ketua Pelaksana Harian Pokdisus AIDS FKUI/RSCM.
Terhadap pasien tanpa gejala, biasanya diperiksa daya tahan
tubuhnya (limfosit/CD4). Jika jumlah limfosit/CD4-nya kurang
dari 350 sel/mm3, sementara jumlah virus (viral load) lebih
dari 55.000 kopi/ml, maka yang bersangkutan sudah harus
mendapat obat antiretroviral.
Obat antiretroviral bukanlah sembarang obat yang bisa dipakai
kapan saja. Dampaknya harus selalu dipantau oleh dokter yang
meresepkannya. Evaluasi dapat dilakukan dengan menghitung
kadar RNA dalam plasma darah, CD4, kadar enzim hati SGPT/SGOT.
Menurut Zubairi, setelah pasien memakai antiretroviral, selama
empat sampai enam bulan tidak terdeteksi lagi virus HIV
ditubuhnya. Saat ini ada 111 Odha yang tidak terdeteksi lagi
virus di dalam darahnya setelah mendapat terapi anti
retroviral. Meskipun demikian, pemantauan terus dilakukan
karena sampai sekarang HIV belum bisa dihilangkan seratus
persen.
Obat antiretroviral memiliki efek samping yang bisa
ditoleransi. Menurut dr Samsuridjal, jika muncul efek samping
yang berat, maka perlu penggantian obat.
Efek samping yang sering dijumpai adalah anemia karena
pemakaian AZT, gangguan saraf pusat karena penggunaan
Efapirenz (EFZ), merusak hati, diare, dan kemerahan pada kulit
karena pemakaian Nevirapine (NVP). Efek lain yaitu gangguan
per- tukaran zat yang meliputi pembentukan dan penguraian zat
organik dalam tubuh (metabolisme) yang disebabkan oleh PI.
Kemung- kinan lainnya, yaitu rusaknya janin karena pemakaian
EFZ.
Samsuridjal menegaskan bahwa antiretroviral bukan barang
dagangan. Peresepan harus dilakukan dokter yang terlatih.
Sebelum terapi ARV dilakukan, perlu ada penyuluhan,
pembimbingan dan tes, diagnosis yang tepat. Terapi
antiretroviral harus merupakan pilihan Odha. Yang juga harus
diperhatikan adalah pembimbingan dalam hal finansial, karena
antiretroviral dipakai dalam jangka waktu yang lama.
sumber:
Suara Pembaharuan
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |