OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Diskriminasi pada ODHA

Oleh: Chris W. Green, Yayasan Spiritia, Kupang, chrisg@rad.net.id

Kami berlima mengobrol di ruangan sebuah hotel di Kupang tengah malam, tiga dari kami adalah Orang dengan HIV/AIDS (Odha). Mereka semua adalah anggota dari jaringan nasional Odha, sekretariatnya di Yayasan Spiritia. Kami berada di sini untuk bertemu dengan Odha lainnya, organisasi pelayanan dan orang dari pemerintah dan DPR.

Ketiga teman kami itu telah menderita karena diskriminasi dalam arti luas maupun sempit. Saya akan menceritakan pengalaman salah satu dari mereka, yaitu Sulasi dari Jawa Timur (Sulasi adalah nama aslinya).

Sulasi sangat gembira bahwa sekarang ia tidak perlu menyembunyikan namanya lagi. Sekarang ia berusia 31 tahun dan masih cantik, ia didiagnosis positif HIV tahun 1990 di Surabaya. Ia tidak mengetahui saat diperiksa HIV dan tidak dimintakan persetujuannya terlebih dahulu.

 Setelah diketahui hasil pemeriksaannya positif, dia diawasi di pelayanan kesehatan setempat, karena mereka merasa berkewajiban untuk memonitornya. Saat ia kembali ke rumahnya di desa tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pihak yang berwenang, mereka mulai memburunya, seolah-oleh dia pelaku kejahatan.

 ”Saat itu, saya diberitahu bahwa saya hanya mempunyai kesempatan beberapa bulan untuk hidup”, katanya. “ Saya bahkan waktu itu berpikir ingin minum obat untuk bunuh diri.” Untungnya, fase itu cepat berlalu, dan ia mulai mencoba mencari kebenaran mengenai penyakitnya.

Setelah melewati diskusi panjang dengan pasangannya (orang yang telah dia beritahukan diagnosisnya), ia memutuskan untuk menikah. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa ia tidak dibolehkan untuk menikah, tetapi Sulasi tidak mempedulikannya. Lalu mereka menyatakan bahwa ia tidak boleh mempunyai anak, tetapi ia tidak mempedulikannya juga.


Anak pertamanya yang lahir tahun 1994 merupakan anak laki-laki yang sehat. Namun demikian, bidan yang membantu persalinannya datang ke desanya dan memperingatkan warga desa untuk menjauhinya dan tidak menyentuh anaknya. Media juga menemukan dan memperlakukan anaknya sebagai sensasi dengan secara rutin melaporkan perkembangan si anak termasuk nama dan tempat tinggal Sulasi. Sebagai hasilnya, keluarganya harus pindah ke desa baru.

“Keluarga kami menjadi bingung,” menurut Sulasi. “ Semua yang mereka dengar adalah mitos dan hal-hal yang tidak benar tentang AIDS, yang membuat mereka takut. Tetapi sejak mereka mempelajari kebenarannya, hampir semuanya berperilaku baik kepada saya.”

Sulasi dan suaminya sekarang mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan, dan tidak seperti Sulasi, tidak ada yang terinfeksi HIV. Untungnya, Sulasi didukung oleh dokter yang penuh perhatian kepadanya, yaitu Dr. Kambojie dari Malang, yang terus membimbingnya dan merawat keluarganya dan memperlakukannya seperti keluarganya sendiri.

Saat ini, Sulasi tetap sehat dan bugar tanpa obat apapun, bahkan setelah 12 tahun didiagnosis positif HIV. Sulasi mulai menceritakan pengalaman pribadinya tahun 1996, saat Dr. Kambojie meminta dirinya untuk berbicara pada sebuah misa di gerejanya. Awalnya dia merasa takut, tetapi makin lama ia makin percaya diri. Saat ini ia secara rutin bergabung dengan tim Spiritia yang mengunjungi provinsi lain untuk memberikan pandangan kemanusiaan dari epidemik ini dan menjadi sangat terbuka mengenai statusnya. Namun demikian, membicarakan pengalamannya pun kadang masih membuatnya meneteskan air mata.

Cerita Sulasi bukanlah tidak biasa, dan orang lainnya masih mengalami perlakuan diskriminasi yang sama dengan dirinya. Tahun lalu, Spiritia melakukan survei yang melibatkan Odha yang terlatih untuk mewawancarai teman sebayanya mengenai pelanggaran hak-haknya. Laporan yang baru terbit menunjukkan bahwa kasus Sulasi sangatlah khas. Banyak stigma dan diskriminasi sangat berkaitan dengan pelayanan kesehatan, yang biasanya menolak merawat Odha. Pemeriksaan HIV tanpa dimintakan persetujuannya masih terjadi, terutama di antara kelompok yang terpinggirkan seperti pekerja seks dan waria.

Sikap petugas kesehatan seperti itu tidak terhindarkan lagi telah tersebar ke masyarakat umum. Jika keluarga melihat anggota keluarganya ditolak oleh tenaga medis, mereka akan menjadi takut juga. Padahal yang benar adalah sebaliknya, anggota keluarga lainnya termasuk anak-anak, tidak berisiko terinfeksi dari kegiatan hariannya.

Namun demikian, kita tidak boleh terlalu cepat menyalahkan orang. Diskriminasi biasanya timbul dari takut, dan takut berasal dari kurangnya pengetahuan. Sekali saja diberitahu dengan benar, kebanyakan petugas kesehatan menunjukkan perawatan yang sama kepada pasien AIDS sebagaimana perlakuan mereka terhadap pasien lainnya. Upaya yang harus kita lakukan adalah menyebarluaskan pengetahuan ini ke semua tingkat di pelayanan kesehatan.

Seperti yang dinyatakan oleh Dr. Broto Wasisto, penasehat Menteri Kesehatan dalam sebuah seminar untuk menyebarkan hasil dari survei Spiritia, diskriminasi di pelayanan kesehatan dilarang menurut hukum. Di pihak lain, bukan hanya Odha yang mendapatkan perlakuan tersebut, masyarakat terpinggirkan lainnya, termasuk orang miskin, juga mendapatkan diskriminasi. Upaya dari aktivis AIDS seperti Sulasi dapat membantu untuk meningkatkan pelayanan ke semua kelompok masyarakat.

Bagaimana dengan pesan dari pembaca untuk Jakarta Post? Berikan itu untuk Sulasi:

“Jika engkau bertemu dengan Odha, perlakukan mereka sama dengan orang lain. Tidak ada alasan kita untuk takut.”

Kampanye AIDS tahun 2002

“Tetap Hidup dengan Tegar!” itulah slogan untuk Kampanye Hari AIDS Sedunia, dengan tema utamanya mencerminkan stigma dan diskriminasi.

Hari AIDS sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember.

Sejak ditemukannya pandemi AIDS, infeksi dengan HIV telah terstigmatisasi sebagai penyakit kaum homo/gay, penyakit yang disebarkan oleh pekerja seks dan orang asing. Marilah mencari kambing hitam dan menempelkan sebuah label moral terhadapnya.

Virus tidak mengenal moral, juga tidak melakukan diskriminasi. Di lain pihak, ia telah menyebabkan tindakan lain yang meningkatkan kerentanan – seperti halnya stigma dan diskriminasi.

Pandangan moral dapat merupakan penyebab stigma yang kuat yang akan sangat sulit untuk dirubah.  Menemui orang yang tidak sesuai dengan stereotipe tersebut – seseorang yang dapat kita hargai sebagai manusia—dapat menjadi katalis perubahan yang kuat.

Pengalaman telah menunjukkan bahwa diskriminasi biasa bermula dari rasa takut dan takut berasal dari kurang pengetahuan. Jika orang percaya bahwa AIDS dapat disebarkan dengan bersentuhan, tidaklah mengherankan jika mereka takut untuk menyalami Odha. Lagi-lagi, Odha dapt memainkan peran penting dalam kampanye untuk meningkatkan pemahaman.

Untuk beberapa orang, “Tetap Hidup dengan Tegar!” mungkin mengandung konotasi negatif: “Saya tidak keberatan dengan apa yang anda lakukan asalkan anda tidak mengganggu saya” – ingatlah bahwa “jangan bertanya, jangan katakan?” Untuk kebanyakan Odha, hal itu menggambarkan langkah besar ke depan. Mungkin untuk kampanye tahun depan akan ditawarkan slogan yang lebih inklusif, untuk mendorong kita agar belajar dari mereka yang berani mengungkapkan ceritanya di depan umum, dan berbagi keahlian dengan kita mengenai penyakitnya.  


sumber: Republika, 3 Desember 2002    

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan