|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Diskriminasi pada
ODHA
Oleh: Chris W. Green, Yayasan
Spiritia, Kupang, chrisg@rad.net.id
Kami berlima mengobrol di ruangan sebuah hotel di Kupang tengah malam, tiga dari
kami adalah Orang dengan HIV/AIDS (Odha). Mereka semua adalah anggota dari
jaringan nasional Odha, sekretariatnya di Yayasan Spiritia. Kami berada di sini
untuk bertemu dengan Odha lainnya, organisasi pelayanan dan orang dari
pemerintah dan DPR.
Ketiga teman kami itu telah
menderita karena diskriminasi dalam arti luas maupun sempit. Saya akan
menceritakan pengalaman salah satu dari mereka, yaitu Sulasi dari Jawa Timur (Sulasi
adalah nama aslinya).
Sulasi sangat gembira bahwa
sekarang ia tidak perlu menyembunyikan namanya lagi. Sekarang ia berusia 31
tahun dan masih cantik, ia didiagnosis positif HIV tahun 1990 di Surabaya. Ia
tidak mengetahui saat diperiksa HIV dan tidak dimintakan persetujuannya terlebih
dahulu.
Setelah diketahui hasil
pemeriksaannya positif, dia diawasi di pelayanan kesehatan setempat, karena
mereka merasa berkewajiban untuk memonitornya. Saat ia kembali ke rumahnya di
desa tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pihak yang berwenang, mereka mulai
memburunya, seolah-oleh dia pelaku kejahatan.
”Saat itu, saya diberitahu bahwa
saya hanya mempunyai kesempatan beberapa bulan untuk hidup”, katanya. “ Saya
bahkan waktu itu berpikir ingin minum obat untuk bunuh diri.” Untungnya, fase itu cepat
berlalu, dan ia mulai mencoba mencari kebenaran mengenai penyakitnya.
Setelah melewati diskusi panjang
dengan pasangannya (orang yang telah dia beritahukan diagnosisnya), ia
memutuskan untuk menikah. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa ia tidak
dibolehkan untuk menikah, tetapi Sulasi tidak mempedulikannya. Lalu mereka
menyatakan bahwa ia tidak boleh mempunyai anak, tetapi ia tidak mempedulikannya
juga.
Anak pertamanya yang lahir tahun 1994 merupakan anak laki-laki yang sehat. Namun
demikian, bidan yang membantu persalinannya datang ke desanya dan memperingatkan
warga desa untuk menjauhinya dan tidak menyentuh anaknya. Media juga menemukan
dan memperlakukan anaknya sebagai sensasi dengan secara rutin melaporkan
perkembangan si anak termasuk nama dan tempat tinggal Sulasi. Sebagai hasilnya,
keluarganya harus pindah ke desa baru.
“Keluarga kami menjadi
bingung,”
menurut Sulasi. “ Semua yang mereka dengar adalah mitos dan hal-hal yang tidak
benar tentang AIDS, yang membuat mereka takut. Tetapi sejak mereka mempelajari
kebenarannya, hampir semuanya berperilaku baik kepada saya.”
Sulasi dan suaminya sekarang
mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan, dan tidak seperti Sulasi, tidak ada
yang terinfeksi HIV. Untungnya, Sulasi didukung oleh dokter yang penuh perhatian
kepadanya, yaitu Dr. Kambojie dari Malang, yang terus membimbingnya dan merawat
keluarganya dan memperlakukannya seperti keluarganya sendiri.
Saat ini, Sulasi tetap sehat dan bugar tanpa obat apapun, bahkan setelah 12
tahun didiagnosis positif HIV. Sulasi mulai menceritakan pengalaman pribadinya
tahun 1996, saat Dr. Kambojie meminta dirinya untuk berbicara pada sebuah misa
di gerejanya. Awalnya dia merasa takut, tetapi makin lama ia makin percaya diri.
Saat ini ia secara rutin bergabung dengan tim Spiritia yang mengunjungi provinsi
lain untuk memberikan pandangan kemanusiaan dari epidemik ini dan menjadi sangat
terbuka mengenai statusnya. Namun demikian, membicarakan pengalamannya pun
kadang masih membuatnya meneteskan air mata.
Cerita Sulasi bukanlah tidak biasa, dan orang lainnya masih mengalami perlakuan
diskriminasi yang sama dengan dirinya. Tahun lalu, Spiritia melakukan survei
yang melibatkan Odha yang terlatih untuk mewawancarai teman sebayanya mengenai
pelanggaran hak-haknya. Laporan yang baru terbit menunjukkan bahwa kasus Sulasi
sangatlah khas. Banyak stigma dan diskriminasi sangat berkaitan dengan pelayanan
kesehatan, yang biasanya menolak merawat Odha. Pemeriksaan HIV tanpa dimintakan
persetujuannya masih terjadi, terutama di antara kelompok yang terpinggirkan
seperti pekerja seks dan waria.
Sikap petugas kesehatan seperti
itu tidak terhindarkan lagi telah tersebar ke masyarakat umum. Jika keluarga
melihat anggota keluarganya ditolak oleh tenaga medis, mereka akan menjadi takut
juga. Padahal yang benar adalah sebaliknya, anggota keluarga lainnya termasuk
anak-anak, tidak berisiko terinfeksi dari kegiatan hariannya.
Namun
demikian, kita tidak boleh
terlalu cepat menyalahkan orang. Diskriminasi biasanya timbul dari takut, dan
takut berasal dari kurangnya pengetahuan. Sekali saja diberitahu dengan benar,
kebanyakan petugas kesehatan menunjukkan perawatan yang sama kepada pasien AIDS
sebagaimana perlakuan mereka terhadap pasien lainnya. Upaya yang harus kita
lakukan adalah menyebarluaskan pengetahuan ini ke semua tingkat di pelayanan
kesehatan.
Seperti yang dinyatakan oleh Dr.
Broto Wasisto, penasehat Menteri Kesehatan dalam sebuah seminar untuk
menyebarkan hasil dari survei Spiritia, diskriminasi di pelayanan kesehatan
dilarang menurut hukum. Di pihak lain, bukan hanya Odha yang mendapatkan
perlakuan tersebut, masyarakat terpinggirkan lainnya, termasuk orang miskin,
juga mendapatkan diskriminasi. Upaya dari aktivis AIDS seperti Sulasi dapat
membantu untuk meningkatkan pelayanan ke semua kelompok masyarakat.
Bagaimana dengan pesan dari
pembaca untuk Jakarta Post? Berikan itu untuk Sulasi:
“Jika engkau bertemu dengan
Odha, perlakukan mereka sama dengan orang lain. Tidak ada alasan kita untuk
takut.”
|
Kampanye AIDS tahun 2002
“Tetap Hidup dengan Tegar!” itulah slogan untuk
Kampanye Hari AIDS Sedunia, dengan tema utamanya mencerminkan stigma dan
diskriminasi.
Hari AIDS sedunia diperingati
setiap tanggal 1 Desember.
Sejak ditemukannya pandemi AIDS, infeksi dengan HIV telah terstigmatisasi
sebagai penyakit kaum homo/gay, penyakit yang disebarkan oleh pekerja seks dan
orang asing. Marilah mencari kambing hitam dan menempelkan sebuah label moral
terhadapnya.
Virus tidak mengenal moral, juga
tidak melakukan diskriminasi. Di lain pihak, ia telah menyebabkan tindakan lain
yang meningkatkan kerentanan – seperti halnya stigma dan diskriminasi.
Pandangan moral dapat merupakan
penyebab stigma yang kuat yang akan sangat sulit untuk dirubah.
Menemui orang yang tidak sesuai dengan stereotipe tersebut – seseorang
yang dapat kita hargai sebagai manusia—dapat menjadi katalis perubahan yang
kuat.
Pengalaman telah menunjukkan
bahwa diskriminasi biasa bermula dari rasa takut dan takut berasal dari kurang
pengetahuan. Jika orang percaya bahwa AIDS dapat disebarkan dengan bersentuhan,
tidaklah mengherankan jika mereka takut untuk menyalami Odha. Lagi-lagi, Odha
dapt memainkan peran penting dalam kampanye untuk meningkatkan pemahaman.
Untuk beberapa
orang, “Tetap
Hidup dengan Tegar!” mungkin mengandung konotasi negatif: “Saya tidak
keberatan dengan apa yang anda lakukan asalkan anda tidak mengganggu saya” –
ingatlah bahwa “jangan bertanya, jangan katakan?” Untuk kebanyakan Odha, hal
itu menggambarkan langkah besar ke depan. Mungkin untuk kampanye tahun depan
akan ditawarkan slogan yang lebih inklusif, untuk mendorong kita agar belajar
dari mereka yang berani mengungkapkan ceritanya di depan umum, dan berbagi
keahlian dengan kita mengenai penyakitnya.
|
sumber: Republika, 3
Desember 2002
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |