|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Lawanlah
Stigma dan Diskriminasi Untuk Memenangi Perang Melawan
HIV/AIDS!
Stigma dan diskriminasi, dibawah slogan "Live and Let
Live" (Hidup dan Tetap Tegar), telah ditetapkan menjadi
tema Kampanye AIDS Dunia di tahun 2002-2003.
Kampanye AIDS Dunia selalu memberikan isu khusus tentang upaya
pencegahan dan perawatan pada waktu-waktu tertentu; serta
memberikan arahan dalam mengadakan berbagai acara pada Hari
AIDS se-Dunia tanggal 1 Desember setiap tahun.
Kenapa Stigma dan Diskriminasi?
Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan -pada
gilirannya- akan mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi Odha
dan keluarganya. Stigma dan diskriminasi memperparah epidemi
HIV/AIDS. Mereka menghambat usaha pencegahan dan perawatan
dengan memelihara kebisuan dan penyangkalan tentang HIV/AIDS
seperti juga mendorong keterpinggiran Odha dan mereka yang
rentan terhadap infeksi HIV. Mengingat HIV/AIDS sering
diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian,
banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima, dan takut
terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.
Stigma berhubungan dengan kekuasaan dan dominasi di masyarakat.
Pada puncaknya, stigma akan menciptakan, dan ini didukung oleh,
ketidaksetaraan sosial. Stigma berurat akar di dalam struktur
masyarakat, dan juga dalam norma-norma dan nilai-nilai yang
mengatur kehidupan sehari-hari. Ini menyebabkan beberapa
kelompok menjadi kurang dihargai dan merasa malu, sedangkan
kelompok lainnya merasa superior.
Diskriminasi terjadi ketika pandangan-pandangan negatif
mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan seseorang
secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan
status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para
staf rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan
pelayanan kesehatan kepada Odha; atasan yang memberhentikan
pegawainya berdasarkan status atau prasangka akan status HIV
mereka; atau keluarga/masyarakat yang menolak mereka yang
hidup, atau dipercayai hidup, dengan HIV/AIDS. Tindakan
diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk pelanggaran hak
asasi manusia.
Stigma dan diskriminasi dapat terjadi dimana saja dan kapan
saja. Terjadi di tengah keluarga, masyarakat, sekolah, tempat
peribadatan, tempat kerja, juga tempat layanan hukum dan
kesehatan. Orang bisa melakukan diskriminasi baik dalam
kapasitas pribadi maupun profesional, sementara lembaga
bisa melakukan diskriminasi melalui kebijakan dan kegiatan
mereka.
Bentuk lain dari stigma berkembang melalui internalisasi oleh
Odha dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri.
Stigma dan diskriminasi yang dihubungkan dengan penyakit
menimbulkan efek psikologi yang berat tentang bagaimana Odha
melihat diri mereka sendiri. Hal ini bisa mendorong, dalam
beberapa kasus, terjadinya depresi, kurangnya penghargaan diri,
dan keputusasaan. Stigma dan diskriminasi juga menghambat
upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui
apakah mereka terinfeksi atau tidak, atau bisa pula
menyebabkan mereka yang telah terinfeksi meneruskan praktek
seksual yang tidak aman karena takut orang-orang akan curiga
terhadap status HIV mereka. Akhirnya, Odha dilihat sebagai
"masalah", bukan sebagai bagaian dari solusi untuk
mengatasi epidemi ini.
Di banyak negara, hukum, kebijakan, dan peraturan memberikan
kontribusi terhadap lingkungan yang mendukung untuk pencegahan
HIV/AIDS, dukungan dan perawatan. Tetapi meskipun kebijakan
dan hukum yang mendukung telah ada, upaya penegakan hukum yang
lemah menyebabkan stigma dan diskriminasi terus berlangsung;
hal ini karena sering hanya ada sedikit pertanggungjawaban
terhadap tindakan-tindakan diskriminasi atau ganti rugi bagi
mereka yang telah mengalami stigma dan diskriminasi. Berbagai
negara dan lembaga dapat juga menciptakan dan mempersubur
stigma dan diskriminasi melalui hukum, peraturan, dan
kebijakan yang terkesan mendiskrimasi Odha atau orang-orang di
sekitarnya.
Dengan berfokus kepada stigma dan diskriminasi, kampanye AIDS
dunia (the World AIDS Campaign) berharap bisa menyemangati
orang untuk memecahkan kesunyian dan penghalang untuk
pencegahan dan perawatan HIV/AIDS yang efektif. Hanya dengan
melawan stigma dan diskriminasi maka perang melawan HIV/AIDS
dapat dimenangkan.
Tujuan Global HIV/AIDS
Deklarasi Komitmen yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB dalam
sesi khusus tentang HIV/AIDS menyerukan untuk memerangi stigma
dan diskriminasi. Ini menunjukkan fakta bahwa diskriminasi
merupakan pelanggaran HAM. Ini juga secara jelas menyatakan
bahwa melawan stigma dan diskriminasi adalah merupakan
prasyarat untuk upaya pencegahan dan perawatan yang efektif.
Kampanye AIDS Dunia terhadap stigma dan diskriminasi
diharapkan akan mengadvokasi negara-negara untuk mengurangi
stigma, diskriminasi dan pelanggaran HAM.
Apa Saja Issunya?
Dukungan Bagi Odha dan keluarga
Odha mengalami proses berduka dalam kehidupannya -sebuah
proses yang seharusnya mendorong pada penerimaan terhadap
kondisi mereka. Namun, masyarakat dan lembaga terkadang
memberikan opini negatif serta memperlakukan Odha dan
keluarganya sebagai warga masyarakat kelas dua. Hal ini
menyebabkan melemahnya kualitas hidup Odha.
Tempat Layanan Kesehatan
Sering terjadi, lembaga yang diharapkan memberikan perawatan
dan dukungan, pada kenyataannya merupakan tempat pertama orang
mengalami stigma dan diskriminasi. Misalnya, memberikan mutu
perawatan medis yang kurang baik, menolak memberikan
pengobatan -seringkali sebagai akibat rasa takut tertular yang
salah kaprah. Contoh dari stigma dan diskriminasi yang
dihadapi ini adalah: alasan dan penjelasan kenapa seseorang
tidak diterima di rumah sakit (tanpa didaftar berarti secara
langsung telah ditolak), isolasi, pemberian label nama atau
metode lain yang mengidentifikasikan seseorang sebagai HIV
positif, pelanggaran kerahasiaan, perlakuan yang negatif dari
staf, penggunaan kata-kata dan bahasa tubuh yang negatif oleh
pekerja kesehatan, juga akses yang terbatas untuk
fasilitas-fasilitas rumah sakit.
Akses untuk Perawatan
Odha seringkali tidak menerima akses yang sama seperti
masyarakat umum dan kebanyakan dari mereka juga tidak
mempunyai akses untuk pengobatan ARV mengingat tingginya harga
obat-obatan dan kurangnya infrastruktur medis di banyak negara
berkembang untuk memberikan perawatan medis yang berkualitas.
Bahkan ketika pengobatan ARV tersedia, beberapa kelompok
mungkin tidak bisa mengaksesnya, misalnya karena persyaratan
tentang kemampuan mereka untuk mengkonsumsi sebuah zat obat,
yang mungkin terjadi pada kelompok pengguna narkoba suntikan.
Pendidikan
Hak untuk mendapat pendidikan bagi Odha dan kelompok lain yang
rentan terkadang diremehkan melalui penolakan untuk memasukkan
murid ke sekolah dan universitas, penolakan untuk mengakses
fasilitas sekolah, perlakuan yang negatif dari teman sebaya
dan lainnya di lingkungan sekolah, pengucilan di kelas, dan
tidak adanya keinginan untuk mengajak siswa mengikuti
pemeriksaan kesehatan, dll. Lebih jauh lagi, cara mengajar
tanpa diskriminasi HIV/AIDS seringkali tidak masuk dalam
kurikulum.
Sistem Peradilan
Perilaku negatif atau prasangka terhadap Odha dapat
direfleksikan dengan penolakan atau akses yang lebih sedikit
untuk sistem peradilan dan penilaian menyangkut isu-isu
seperti kerahasiaan status HIV dan perlindungan dalam kasus
perkosaan/penganiayaan. Sistem peradilan juga dapat
meningkakan stigmatisasi, misalnya ketika kelompok yang rentan,
misalnya pekerja seks dan pengguna narkoba, dianggap bersalah
ketimbang diberi dukungan untuk mencegah penularan HIV.
Politik
Kalangan eksekutif yang tidak berbuat apa-apa di bidang
HIV/AIDS dapat melegitimasi stigma dan diskriminasi, khususnya
ketika sikap diskriminasi ditujukan kepada Odha dan
orang-orang di sekitarnya, Odha atau kelompok marjinal lainnya
diabaikan dalam proses penegakan hukum, dan mereka yang
melakukan diskriminasi dibiarkan saja.
Organisasi Kepercayan
Pada beberapa kejadian, organisasi kepercayaan turut
memberikan prasangka buruk terhadap Odha dan keluarganya. Ini
secara khusus terlihat lewat perlakuan terhadap isu
seksualitas, sess dan penggunaan narkoba, penggunaan alat
kontrasepsi, pasangan seksual lebih dari satu, dan adanya
kepercayaan bahwa HIV/AIDS adalah merupakan kutukan dari Tuhan.
Media
Beberapa jurnalis tidak mempunyai pengetahuan yang cukup atau
informasi dasar ketika memberitakan situasi yang menyangkut
kelompok rentan dan Odha. Kesalahan informasi bisa mendorong
adanya komentar yang tidak pantas, penggunaan istilah yang
negatif, sensasionalisasi pelanggaran kerahasiaan dan terus
berlangsungnya perlakuan negatif terhadap Odha dan mereka yang
terkena dampaknya, seperti juga terhadap kelompok yang rentan.
Tempat Kerja
Kemampuan untuk membiayai hidup dan untuk dipekerjakan adalah
merupakan hak dasar manusia. Isu-isu yang berhubungan dengan
HIV/AIDS menyangkut pengangkatan dan pemecatan, keamanan
karyawan, pemecatan yang tidak adil, asuransi kesehatan, absen
dari kerja untuk tujuan kesehatan, alokasi kerja, lingkungan
yang aman, gaji dan tunjangan, perlakuan atasan dan rekan
kerja, skining HIV untuk semua karyawan, promosi dan pelatihan.
Seringkali pemikiran di balik isu-isu terkait ini adalah
adanya kepercayaan bahwa tidak ada gunanya menginvestasi uang
pada seseorang yang akhirnya toh akan meninggal. Tidak adanya
kebijakan perekrutan adalah kondisi rumit yang seringkali
terabaikan.
sumber:
UNAIDS, 2002
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |