OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

HIV/AIDS dan Hak Asasi Manusia: Sebuah Catatan

Oleh: Todung Mulya Lubis

Pada akhir tahun 2000, diperkirakan sudah 36,1 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV/AIDS. 90 persen di antaranya berada di “negara-negara berkembang”. Berapa banyak sudah jumlah itu bertambah di penghujung tahun 2002 ini? Karena rasa khawatir, sebagian dari kita mungkin akan mencoba untuk tidak memikirkannya. Namun menghindar dari keharusan untuk memikirkan secara sungguh-sungguh masalah ini adalah justru salah satu sebab mengapa HIV/AIDS menjadi masalah dunia yang kian menjadi sangat serius.

Dengan skala dan impaknya yang luas, HIV/AIDS telah menjadi epidemi global yang menyerang setiap tingkat kehidupan masyarakat – mulai dari bangsa, komunitas, keluarga dan individu, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa bahkan juga kanak-kanak. Ini adalah salah satu ancaman paling serius yang dihadapi oleh umat manusia saat ini.

Terus bertambahnya jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS di dunia telah membuat Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan masalah ini sebagai suatu “global emergency”. Bahkan, Mary Robinson, mantan United Nations High Commissioner for Human Rights, menyatakan bahwa masalah HIV/AIDS adalah masalah perlindungan hak-hak asasi manusia.

Dua “Fundamental Rights”

Paling kurang terdapat dua hak asasi fundamental yang berhubungan dengan masalah epidemi global HIV/AIDS. Yang pertama adalah hak terhadap kesehatan (right to health). Terhadap hak ini, hukum internasional hak-hak asasi manusia menyatakan bahwa setiap negara di dunia berkewajiban untuk mengambil langkah-langkah di bidang legislative, budgeter maupun administrative untuk memenuhi hak setiap warganya terhadap kesehatan. Termasuk ke dalam kewajiban ini adalah mengupayakan cara pengobatan dan perawatan yang memenuhi standar bagi para penderita, di samping mengupayakan agar obat-obat yang mereka perlukan dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga yang terjangkau oleh setiap lapisan masyarakat.

Hak kedua yang berhubungan dengan masalah ini adalah hak untuk bebas dari diskriminasi. Hak untuk bebas dari diskriminasi adalah hak asasi fundamental yang dibangun di atas prinsip natural justice yang bersifat universal dan harus selalu terpenuhi. Dengan kata lain, hak untuk bebas dari diskriminasi termasuk ke dalam rumpun non-derogable rights – yakni hak-hak yang melekat pada setiap manusia dan tidak pernah boleh dilanggar di dalam keadaan apapun. Namun demikian, diskriminasi adalah hal yang selalu dialami oleh orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Dibandingkan dengan hak terhadap kesehatan, jalan keluar dari masalah diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS ini jauh lebih kompleks dan sulit.

Diskriminasi, Rasisme, Politics of Exclusion

Di Indonesia, diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS mungkin hampir serupa dengan diskriminasi rasial. Penderita HIV/AIDS diasingkan dari akses terhadap layanan dan fasilitas-fasilitas publik. Mereka ditolak oleh rumah sakit umum, layaknya dulu orang kulit hitam di Amerika ditolak duduk berbaur di dalam bus umum dengan warga kulit putih.

Diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS juga dituntun oleh mitos. Orang enggan berdekatan dengan penderita HIV/AIDS karena menyangka bisa tertular oleh keringat atau hembusan nafasnya. Mirip seperti dulu banyak cendekiawan kulit putih menyangka bahwa sperma orang Afrika berwarna sama dengan kulitnya.

Seperti halnya rasisme, diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS pada dasarnya adalah politics of exclusion. Bentuknya yang menyeramkan adalah ideologi kemurnian ras yang ditiup Hitler. Dalam bentuk yang berbeda, pengasingan terhadap penderita HIV/AIDS adalah juga politics of exclusion. Mereka disingkirkan dari masyarakat yang percaya bahwa HIV/AIDS adalah buah dari kehancuran moral – dan penderitanya adalah ancaman terhadap “kemurnian” akhlak atau moralitas.

Dalam suasana kesalahpahaman, ketakutan dan bahkan kebencian seperti itulah, orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS harus menjalani sisa hidupnya dengan hak-hak asasi yang dirampas.

Penutup

Kewajiban negara dalam melindungi warganya dari epidemi HIV/AIDS adalah kesepakatan internasional yang telah digariskan oleh PBB. Indonesia tidak lepas dari kewajiban itu. Pemerintah Indonesia berkewajiban untuk menyusun dan melaksanakan agenda nasional secara sungguh-sungguh untuk mencegah penularan HIV/AIDS.

Termasuk ke dalam agenda nasional itu adalah pendidikan bagi masyarakat untuk memandang masalah serius secara dewasa dan proporsional. Tidak mungkin upaya untuk mencegah dan menanggulangi epidemi HIV/AIDS dilakukan sendirian. Ia hanya bisa dilakukan dengan mendorong partisipasi masyarakat.

Diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS bukan saja melanggar hak-hak fundamental warga negara. Namun juga sama sekali tidak membantu usaha mencegah epidemi ini. Mengucilkan penderita HIV/AIDS tidak akan mengecilkan bahaya penularan HIV/AIDS.

Pemerintah memiliki kewajiban untuk menjamin dan melindungi hak-hak penderita HIVAIDS sama seperti terhadap warga negara lainnya. Diskriminasi terhadap mereka harus dikikis dengan cara memastikan bahwa hak-hak mereka terhadap layanan dan fasilitas kesehatan diakui dan dilindungi, untuk diperlakukan sebagai orang yang sedang sakit dan bukan orang yang membawa penyakit.

Seperti yang disajikan pada Seminar "Aspek Hukum Diskriminasi ODHA: Perlu dibawa Ke Pengadilan?", Jakarta, 30 November 2002.     

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan