OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Kalau Ingin Tes HIV, ke Mana Ya?"

Bahaya HIV/AIDS sebenarnya pernah mereka dengar. Bahkan sejak di bangku sekolah. Tetapi saat itu, siapa yang peduli. Maklum, waktu itu mereka tengah hot-hot-nya memakai narkoba suntikan.

"Takut juga setelah mendengar penjelasan tadi. Jangan- jangan saya juga sudah tertular. Saya ingin tes HIV, tapi ke mana ya?" tanya Mulyono (26), narapidana kasus narkoba yang sebentar lagi berakhir masa hukumannya.

Pertanyaan senada dilontarkan rekan-rekannya seusai mendengar uraian dr Maya Tri Siswati dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta soal bahaya HIV/AIDS dan penyakit menular seksual di Lembaga (LP) Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, Senin (6/12).

Endar (24), ayah seorang anak, Adit, dan Mulyono berpikiran sama. Mulyono, lajang lulusan STM di Jakarta yang dalam waktu dekat selesai hukuman 18 bulannya, kecut hatinya mendengar ancaman HIV/AIDS.

Dua rekannya, satu di antaranya Yusuf (21), juga mengaku khawatir. "Dulu saya sering dengar HIV, tapi gak peduli, lagi enak-enaknya nyuntik sih...," tutur Yusuf, pemuda berkulit putih lulusan STM.

"Di mana ya bisa tes, bayarnya berapa?" tanya beberapa narapidana dengan rasa ingin tahu.

Sayang, fasilitas kesehatan yang menyediakan konseling dan pemeriksaan HIV/AIDS belum ada di LP Cipinang. Menurut Akbar, petugas yang mendampingi para tahanan, di LP itu ada empat dokter umum dan dua dokter gigi, tetapi belum ada fasilitas laboratorium.

Minimnya fasilitas kesehatan terkait dengan biaya kesehatan yang hanya Rp 1,5 juta per tahun per LP. Kalau satu LP rata-rata dihuni 500-an, maka per narapidana hanya mendapat biaya kesehatan Rp 2- 5 per tahun!

Memberi pengetahuan bahaya HIV/AIDS dan PMS kepada para narapidana adalah salah satu program PKBI DKI Jakarta guna menekan penyebaran HIV di penjara. Bukan rahasia, saat ini angka penyebaran HIV tertinggi lewat penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Ada kecurigaan, tahanan di LP/ rumah tahanan tak lepas dari masalah ini karena walau pemeriksaan ketat sudah dilakukan, transaksi dan pemakaian narkoba tetap ada.

PKBI sudah dua kali melakukan upaya penyadaran di LP maupun rumah tahanan. Program dilakukan bersama Indonesia HIV Prevention and Care Project (IHPCP) yang didanai Ausaid. Menurut Koordinator Nasional Penanggulangan HIV di Lembaga Pemasyarakatan pada IHPCP Inang Winarso, program serupa dilakukan di Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Bali, dan Papua.

ACARA penyuluhan yang berlangsung sekitar dua jam itu berlangsung serius tetapi santai. "HIV bisa menular lewat hubungan seks, misalnya antarsesama jenis dan sesama teman nyuntik karena pakai jarum suntik gantian. Kalau lewat ludah bisa nular gak?" tanya Maya lagi.

"Bisa tapi ludahnya harus banyak," jawab seorang narapidana.

Maya lalu menjelaskan, air ludah ataupun hidup serumah asal tak melakukan hubungan seks tak aman dengan orang yang positif HIV tak akan menularkan virus itu. Karena itu, Maya juga meminta mereka tak perlu takut jika hidup bersama dengan yang sudah terinfeksi HIV.

Selain memberi penjelasan soal HIV/AIDS, Maya dengan bantuan gambar-gambar dari komputer mengupas berbagai penyakit kelamin. Ia juga mengingatkan bahaya menyayat alat kelamin. "Di sayatan tadi diisi manik-manik, lalu lukanya ditutup kopi... iya kan. Saya tahu itu. Jangan lakukan itu karena alat kelamin bisa infeksi," katanya.

Seorang narapidana menyatakan, cara itu ditempuh agar lebih memuaskan saat berhubungan seks. "Siapa bilang. Justru itu memicu infeksi, juga pada perempuan yang menjadi pasangan kalian," jelasnya.

Memang banyak narapidana yang mendapat pengetahuan menyesatkan dari sesama tahanan. Karena itu, memberi pemahaman mengenai hidup sehat agar mencegah penularan HIV ke banyak orang mutlak mereka butuhkan. (TRI)

sumber: Harian Kompas 1 Desember 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan