OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Penguji HIV/AIDS Buatan Mataram

LEMBAGA Hepatika Mataram, Nusa Tenggara Barat, kembali menorehkan sejarah penting dalam pembuatan alat diagnosis HIV/AIDS. Namanya, IC Nitroselulose. Alat berbentuk plester penutup luka itu mempunyai sayatan kecil. Di dalamnya ada lima strip tebal. Pengoperasiannya praktis, tak perlu peralatan tambahan dan listrik.

Sampel darah diteteskan pada plester tadi. Bila hanya satu strip yang berubah warna jadi hitam, artinya orang tadi sehat. Tapi, bila dua strip atau lebih yang berubah, berarti positif kena HIV. Harganya pun cuma Rp 10.000 sekali tes. Alat itu tinggal menunggu pengesahan dari Departemen Kesehatan.

Temuan baru ini menambah jumlah peralatan tes HIV karya Hepatika. Sebelumnya, Hepatika menciptakan alat berbentuk seperti sisir. Namanya, Dipstick. Di ujung sisir ditempeli reagen, pelacak HIV. Sisir tadi dicelupkan dalam sampel darah. Dari situ akan ketahuan seseorang terkena virus AIDS atau tidak. Peralatan ini ditemukan pada 1983 dan dipasarkan sejak 1991.

Alat tes itu sudah diujicobakan pada para calon tenaga kerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri. Bahkan juga pernah dites di laboratorium Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Belgia dan Thailand. Hasil di Thailand menunjukkan tingkat sensitivitas Dipstick 100%. Atau, akurasinya sekelas Elisa. Dipstick sudah mendapat lisensi dari Program for Appropriate Technology in Health, Amerika Serikat.

Kini, Hepatika mampu memproduksi sejuta alat per tahun. Banyak lembaga memakai alat seharga Rp 10.000 itu. Sebagian besar dibeli Palang Merah Indonesia, sisanya diekspor ke berbagai negara seperti Thailand, Swiss, India, dan Papua Nugini. Harga ekspornya US$ 1. "Ini lebih murah ketimbang tes Elisa yang harganya US$ 3," kata Mulyanto, Direktur Lembaga Hepatika Mataram.

Temuan tersebut tentu disambut gembira oleh Samsuridjal Djauzi, ahli penyakit AIDS dari FK-UI. Alat ini tergolong praktis dan murah. "Proses pemeriksaannya cuma sejam," ujarnya. Ini lebih cepat ketimbang memakai tes Elisa yang butuh waktu tiga-empat hari. Biaya pemeriksaan Elisa di Pokdisus AIDS FK-UI, misalnya, sebesar Rp 60.000. Repotnya, Elisa cuma tersedia di rumah sakit di kota-kota besar.

Selain praktis, alat ini bisa dimanfaatkan untuk daerah-daerah terpencil yang minim fasilitas diagnosis HIV, seperti Papua. Apalagi, provinsi paling timur Indonesia ini memang dikenal rawan AIDS. Hingga Desember tahun lalu, terdata 851 kasus HIV/AIDS. Papua menempati posisi kedua di bawah Jakarta.


[Aries Kelana, Amalia K. Mala, dan Hernawardi (Mataram)]

Sumber: GATRA, Nomor 13 Beredar Senin 10 Februari 2003

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan