|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Penguji
HIV/AIDS Buatan Mataram
LEMBAGA Hepatika Mataram, Nusa Tenggara Barat, kembali
menorehkan sejarah penting dalam pembuatan alat diagnosis
HIV/AIDS. Namanya, IC Nitroselulose. Alat berbentuk plester
penutup luka itu mempunyai sayatan kecil. Di dalamnya ada lima
strip tebal. Pengoperasiannya praktis, tak perlu peralatan
tambahan dan listrik.
Sampel darah diteteskan pada plester tadi. Bila hanya satu
strip yang berubah warna jadi hitam, artinya orang tadi sehat.
Tapi, bila dua strip atau lebih yang berubah, berarti positif
kena HIV. Harganya pun cuma Rp 10.000 sekali tes. Alat itu
tinggal menunggu pengesahan dari Departemen Kesehatan.
Temuan baru ini menambah jumlah peralatan tes HIV karya
Hepatika. Sebelumnya, Hepatika menciptakan alat berbentuk
seperti sisir. Namanya, Dipstick. Di ujung sisir ditempeli
reagen, pelacak HIV. Sisir tadi dicelupkan dalam sampel darah.
Dari situ akan ketahuan seseorang terkena virus AIDS atau
tidak. Peralatan ini ditemukan pada 1983 dan dipasarkan sejak
1991.
Alat tes itu sudah diujicobakan pada para calon tenaga kerja
Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri. Bahkan juga pernah
dites di laboratorium Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di
Belgia dan Thailand. Hasil di Thailand menunjukkan tingkat
sensitivitas Dipstick 100%. Atau, akurasinya sekelas Elisa.
Dipstick sudah mendapat lisensi dari Program for Appropriate
Technology in Health, Amerika Serikat.
Kini, Hepatika mampu memproduksi sejuta alat per tahun. Banyak
lembaga memakai alat seharga Rp 10.000 itu. Sebagian besar
dibeli Palang Merah Indonesia, sisanya diekspor ke berbagai
negara seperti Thailand, Swiss, India, dan Papua Nugini. Harga
ekspornya US$ 1. "Ini lebih murah ketimbang tes Elisa
yang harganya US$ 3," kata Mulyanto, Direktur Lembaga
Hepatika Mataram.
Temuan tersebut tentu disambut gembira oleh Samsuridjal Djauzi,
ahli penyakit AIDS dari FK-UI. Alat ini tergolong praktis dan
murah. "Proses pemeriksaannya cuma sejam," ujarnya.
Ini lebih cepat ketimbang memakai tes Elisa yang butuh waktu
tiga-empat hari. Biaya pemeriksaan Elisa di Pokdisus AIDS FK-UI,
misalnya, sebesar Rp 60.000. Repotnya, Elisa cuma tersedia di
rumah sakit di kota-kota besar.
Selain praktis, alat ini bisa dimanfaatkan untuk daerah-daerah
terpencil yang minim fasilitas diagnosis HIV, seperti Papua.
Apalagi, provinsi paling timur Indonesia ini memang dikenal
rawan AIDS. Hingga Desember tahun lalu, terdata 851 kasus
HIV/AIDS. Papua menempati posisi kedua di bawah Jakarta.
[Aries Kelana, Amalia K. Mala, dan Hernawardi (Mataram)]
Sumber:
GATRA, Nomor 13 Beredar Senin 10 Februari 2003
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |