OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Mencari Celah Murah Obat AIDS

SEBULAN terakhir ini, Muchlisin rajin mengonsumsi obat anti-acquired immune deficiency syndrome (AIDS) bergenerik Zidovudin. Obat untuk mengurangi volume human immunodeficiency virus (HIV) di dalam darahnya itu diminum dua kali sehari, masing-masing dua butir. Tapi, tablet yang juga berguna untuk mempertahankan sistem kekebalan tubuh ini mulai menimbulkan efek samping.

"Sejak pekan ketiga setelah minum obat tadi, saya jadi pusing, mual, dan gatal-gatal," kata pria berusia 33 tahun ini. Muchlisin terpaksa menelan Zidovudin, setelah terbukti mengidap HIV sejak 1998. Toh, Muchlisin berharap bisa terus minum obat itu. Sebab, bila berhenti sehari saja, volume virus meningkat lagi dan makin resisten terhadap obat-obatan.

Nahasnya lagi, selain mengidap HIV, tangan kanan Muchlisin juga digerogoti sarkoma kaposi, sejenis kanker kulit yang ditandai membesarnya bisul yang tak bisa sembuh. Tangan kanannya itu memang sudah diamputasi, tapi sel-sel kanker telanjur menyebar ke paru-paru. "Saya minum obat retroviral agar virus kanker melemah dan tidak mengganas," kata Ketua Program Pelita Plus ini. Pelita Plus adalah kelompok persahabatan orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

Muchlisin hanya satu dari 3.000 lebih pengidap HIV/AIDS di Indonesia. Beruntung, dia termasuk di antara 300 pengidap HIV yang mendapat pengobatan murah. "Biayanya Rp 600.000 sebulan," kata Dokter Zubairi Djoerban, Ketua Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI). Pengidap yang tak masuk kelompok 300 itu, tentu, harus merogoh kocek lebih dalam, karena harga obat yang masih diimpor ini terbilang mahal.

Guna mengatasi mahalnya harga obat itu, dua pekan lalu Pokdisus AIDS FK-UI menggelar pertemuan di kantornya, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Sejumlah pejabat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Departemen Kesehatan, PT Indofarma, Organisasi Kesehatan Dunia, dan sejumlah lembaga lain hadir dalam pertemuan selama dua jam itu. Hasilnya, mereka sepakat menunjuk Indofarma untuk memproduksi obat generik anti-AIDS.

Selain obat impor mahal, niat memproduksi sendiri obat AIDS juga disebabkan makin meningkatkan jumlah kasus AIDS di Tanah Air. Sampai Desember tahun lalu, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, Departemen Kesehatan, mencatat 3.374 kasus HIV/AIDS di Indonesia. Sebanyak 306 orang di antara pengidap itu meninggal.

Jumlah pengidap HIV/AIDS yang tak terdata diperkirakan lebih banyak. Lihat saja di tempat praktek Zubairi Djoerban, yang hampir tiap hari didatangi pasien pengidap HIV/AIDS. "Setiap bulan rata-rata saya menerima 50 pasien baru," ujar Zubairi. Para pengidap HIV/AIDS itu kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi menengah-bawah. Bila harga obatnya tetap mahal, akan kian banyak pengidap AIDS yang tak tertolong nyawanya.

Indofarma yang ditunjuk memproduksi obat anti-AIDS itu menyatakan kesanggupannya. "Kami memang bersedia memproduksinya," kata Eryzal Rivai, Direktur Produksi Indofarma. Eryzal yakin, pabriknya bisa membuat obat anti-AIDS, karena teknologinya sudah maju dan memenuhi persyaratan cara pembuatan obat yang baik dari BPOM.

Toh, ia tetap merasa perlu mempelajari seluk-beluk obat ini. Karena itu, Ahad pekan ini Indofarma mengirim tim ke Thailand. Di "negeri gajah putih" itu, mereka akan meneken kerja sama dengan lembaga pemerintah yang mengurusi produksi obat anti-AIDS. Bukan hanya ke Thailand, tim Indofarma juga akan mengujungi India. Dari negara ini akan diimpor bahan baku untuk pembuatan obat anti-AIDS. Mereka juga akan bertandang ke sebuah perusahaan pemilik paten obat anti-AIDS ini.

Soal paten obat anti-AIDS memang harus menjadi perhatian serius. Samsuridjal Djauzi, ahli penyakit AIDS FK-UI, mengingatkan bahwa Indonesia bakal menghadapi persoalan paten dalam perdagangan bebas. Pertemuan informal anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Sydney, Australia, akhir tahun lalu, menegaskan bahwa ekspor obat generik tetap dilarang. Ini terkait dengan hak intelektual. "Negara yang memerlukan obat HIV/AIDS, tapi tak mampu mengakses obat paten, harus bisa memproduksi obat generik sendiri," katanya.

Bila kesepakatan WTO yang terkait dengan hak cipta diterapkan pada 2005, kelangsungan konsumsi obat anti-AIDS murah bisa terancam. Sebab, India dan barangkali Indonesia dilarang menciptakan obat generik yang mengacu pada pemegang hak paten.

Beberapa celah aturan itu coba dimanfaatkan. Misalnya, masa berlakunya paten Zidovudin (AZT) akan habis. Pokdisus pun mencoba menjajaki pendekatan pada Brasil. Di Brasil, pembuatan obat generik anti-AIDS dilakukan lembaga riset. Dalam klausul WTO, pembuatan AIDS diperbolehkan untuk keperluan riset. Nah, Pokdisus sebagai lembaga riset bisa menirunya. Indofarma menjadi bagian kegiatan riset Pokdisus.

Sementara jalan keluar mengatasi masalah paten sedang dicari, Indofarma sudah berancang-ancang berproduksi. Setiap tahun akan dibuat 1,5 juta butir obat anti-AIDS. Jumlah ini berdasarkan asumsi jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia tahun ini 2.000 orang. Setiap pengidap HIV/AIDS membutuhkan obat ini 60 tablet sebulan. "Sekitar itulah yang akan kami produksi," kata Eryzal kepada Sujud Dwi Pratisto dari Gatra.

Indofarma memang bukan pemain baru dalam perdagangan obat anti-AIDS. Selama ini, perusahaan itu adalah importir produk obat anti-AIDS, khususnya obat antijamur fluconazol asal Thailand. Obat ini dipakai pengidap AIDS yang juga terjangkit kandidiasis, penyakit yang disebabkan jamur candida. Indofarma juga diberi izin oleh BPOM untuk mengimpor sembilan obat retroviral, seperti Zidovudin, Navirapin, Lamivudin, dan beberapa obat kombinasi.

"Obat itu hanya didatangkan berdasarkan permintaan dokter yang bertanggung jawab," ujar Linda Sitanggang, Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi, BPOM. Sebenarnya BPOM membuka pintu bagi produsen farmasi lainnya untuk memproduksi obat anti-AIDS. Cuma, baru Indofarma yang tertarik.


[Aries Kelana, Kholis Bahtiar Bakri, dan Dudun Parwanto]

Sumber: GATRA, Nomor 13 Beredar Senin 10 Februari 2003

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan