|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Islam Mengimbau agar ODHA Diperlakukan Manusiawi
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, peran ulama
dalam menanggulangi HIV/AIDS menjadi penting. Menurut mantan Menteri Agama
KH dr Tarmizi Taher, sikap Islam telah jelas dalam penanggulangan
HIV/AIDS. Dalam tindakan preventif, katanya, Islam mengajarkan umatnya
untuk tidak berbuat zina.
''Islam juga mengajarkan suami harus setia pada
istrinya. Dia tidak
boleh berhubungan seks selain dengan istrinya. Hal itu termuat dalam
Alquran surat Al Baqarah 177. Sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang
melarang melakukan perbuatan zina,'' kata Tarmizi.
Namun, lanjut President of War Indonesia Againts Narcotics &
HIV/AIDS itu, tidak semua umat Islam memegang ajaran itu dengan baik.
Mereka masih tergoda untuk berbuat dosa hingga terinfeksi HIV/AIDS.
Tarmizi mengingatkan bahwa bagi mereka yang telah terinfeksi harus
diperlakukan sebagaimana pasien yang sakit.
Dikaitkan dengan peran ulama, penanggulangan HIV/AIDS merupakan hal
penting. Pasalnya, apa yang disampaikan para ulama menjadi petunjuk bagi
umat dalam menjalankan kehidupannya.
Menurut Tarmizi, ketika pertama kalinya pengidap HIV/AIDS ditemukan di
negara-negara Islam, seperti Afrika Utara, Tunisia, dan Somalia, para
ulama sebetulnya mulai turun tangan. Pada 1980-an, misalnya, para ulama di
negara Afrika itu mengadakan pertemuan untuk membahas serangan HIV/AIDS.
Ulama gencar mengampanyekan larangan untuk berbuat zina. Tetapi mereka
yang sudah positif terinfeksi virus HIV harus diperlakukan secara
manusiawi.
Di Indonesia, lanjut Tarmizi, tokoh-tokoh Islam dari Nadlatul
Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan pertemuan di
Jakarta dan Makassar saat ditemukannya kasus HIV/AIDS pada 1990-an.
Ketika mengetahui betapa besar kemungkinan penyebaran HIV/AIDS kepada
siapa pun, ulama memberi perhatian bahwa ODHA (orang dengan HIV/AIDS)
harus diperlakukan secara baik. Ulama juga menyadari bahwa mencegah orang
untuk tidak berbuat zina bukan hal yang mudah. Kampanye penggunaan kondom
bagi para pelacur pun diterima di kalangan ulama. Penggunaan kondom itu
bukanlah untuk melegalkan pelacuran, tetapi mencoba menekan peningkatan
jumlah ODHA.
''Yang perlu diingat, dalam mengampanyekan penggunaan kondom jangan
vulgar dan jam tayangnya harus malam hari ketika anak-anak telah tidur,''
kata Tarmizi. (Drd/V-4)
Sumber:
Media Indonesia Online
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |