OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette
Siti Nurul Qomariyah
Raihana Alkaff
Widiastuti Dewi

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Islam Mengimbau agar ODHA Diperlakukan Manusiawi

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, peran ulama dalam menanggulangi HIV/AIDS menjadi penting. Menurut mantan Menteri Agama KH dr Tarmizi Taher, sikap Islam telah jelas dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dalam tindakan preventif, katanya, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berbuat zina.

''Islam juga mengajarkan suami harus setia pada istrinya. Dia tidak boleh berhubungan seks selain dengan istrinya. Hal itu termuat dalam Alquran surat Al Baqarah 177. Sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang melarang melakukan perbuatan zina,'' kata Tarmizi.

Namun, lanjut President of War Indonesia Againts Narcotics & HIV/AIDS itu, tidak semua umat Islam memegang ajaran itu dengan baik. Mereka masih tergoda untuk berbuat dosa hingga terinfeksi HIV/AIDS. Tarmizi mengingatkan bahwa bagi mereka yang telah terinfeksi harus diperlakukan sebagaimana pasien yang sakit.

Dikaitkan dengan peran ulama, penanggulangan HIV/AIDS merupakan hal penting. Pasalnya, apa yang disampaikan para ulama menjadi petunjuk bagi umat dalam menjalankan kehidupannya.

Menurut Tarmizi, ketika pertama kalinya pengidap HIV/AIDS ditemukan di negara-negara Islam, seperti Afrika Utara, Tunisia, dan Somalia, para ulama sebetulnya mulai turun tangan. Pada 1980-an, misalnya, para ulama di negara Afrika itu mengadakan pertemuan untuk membahas serangan HIV/AIDS. Ulama gencar mengampanyekan larangan untuk berbuat zina. Tetapi mereka yang sudah positif terinfeksi virus HIV harus diperlakukan secara manusiawi.

Di Indonesia, lanjut Tarmizi, tokoh-tokoh Islam dari Nadlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan pertemuan di Jakarta dan Makassar saat ditemukannya kasus HIV/AIDS pada 1990-an.

Ketika mengetahui betapa besar kemungkinan penyebaran HIV/AIDS kepada siapa pun, ulama memberi perhatian bahwa ODHA (orang dengan HIV/AIDS) harus diperlakukan secara baik. Ulama juga menyadari bahwa mencegah orang untuk tidak berbuat zina bukan hal yang mudah. Kampanye penggunaan kondom bagi para pelacur pun diterima di kalangan ulama. Penggunaan kondom itu bukanlah untuk melegalkan pelacuran, tetapi mencoba menekan peningkatan jumlah ODHA.

''Yang perlu diingat, dalam mengampanyekan penggunaan kondom jangan vulgar dan jam tayangnya harus malam hari ketika anak-anak telah tidur,'' kata Tarmizi. (Drd/V-4)

Sumber: Media Indonesia Online

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan