OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette
Siti Nurul Qomariyah
Raihana Alkaff
Widiastuti Dewi

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Malaria dan HIV/AIDS

Latar Belakang:

Penyebaran HIV berinteraksi dengan berbagai penyakit infeksi lain, difasilitasi oleh kenaikan jumlah orang yang mengalami immunosuppressed (penurunan kekebalan) dan karena gambaran klinisnya dapat diganggu oleh infeksi-infeksi yang lain.  Penyakit-penyakit infeksi sering saling bersinergi, saling mempengaruhi secara negatif, dan yang paling terkenal adalah antara  HIV dan tuberkulosis (TBC).   Di daerah-daerah dengan prevalensi HIV tinggi, angka insidensi (kasus baru) TBC semakin meningkat, dibarengi dengan peningkatan angka kematian.  Selain itu, kerentanan terhadap HIV dapat meningkat oleh adanya infeksi lain, yang sudah diketahui adalah berbagai infeksi menular seksual (IMS), menyebabkan tingginya penularan HIV di masyarakat yang tinggi prevalensi IMSnya. 

Di Afrika, pandemi HIV didukung oleh pandemi malaria yang berlangsung lama, di mana malaria karena P. falciparum secara konsisten merupakan penyebab utama kematian bayi dan anak.  Tingginya prevalensi infeksi HIV dan malaria di Afrika mempunyai arti bahwa interaksi yang kecil saja di antaranya keduanya dapat memiliki efek yang substansial pada populasi.

Dengan adanya kerjasama Roll Back Malaria pada tahun 1998, diketahui bahwa pola penurunan secara gradual kematian karena malaria telah berbalik arah pada tahun 1990an, dan interaksi antara malaria dan HIV diduga sebagai salah satu kontributornya. 

Penelitian awal tidak menunjukkan hubungan biologis langsung antara HIV dan malaria, walaupun diketahui bahwa malaria yang berhubungan dengan anemia yang diobati dengan transfusi darah yang tidak diskrining berkontribusi terhadap penularan HIV.  Pada tahun-tahun belakangan ini, penelitian telah difokuskan pada tiga isu kunci:

1.   Apakah HIV/AIDS meningkatkan kerentanan terhadap infeksi malaria atau meningkatkan keparahan episode-episode malaria akut?

2.   Apakah infeksi malaria mempercepat perkembangan HIV/AIDS?

3.   Apa dampak ko-infeksi malaria dan HIV selama kehamilan?

 

Status pada saat ini:

Efek HIV pada malaria:

Infeksi HIV meningkatkan angka insidensi dan keparahan klinis malaria.  Pada orang dewasa yang tidak hamil, infeksi HIV diketahui meningkatkan risiko malaria parasitemia dan malaria klinis sekitar dua kali lipat.  Di Afrika Timur dan Selatan, di mana prevalensi HIV sekitar 30%, diperkirakan sekitar ¼ sampai 1/3 malaria klinis pada orang dewasa (termasuk orang hamil) disebabkan oleh HIV.  Penelitian pada anak-anak masih sedikit, walaupun anemia karena berbagai sebab sering terjadi dan dihubungkan dengan kenaikan kematian anak-anak yang terinfeksi HIV.

Efek malaria terhadap HIV:

Walaupun efek malaria terhadap HIV belum didokumentasikan dengan baik, beberapa penelitian akhir-akhir ini menambah bukti-bukti yang ada.  Infeksi malaria akut meningkatkan viral load, dan sebuah penelitian menemukan bahwa kenaikan viral load ini dapat diturunkan dengan pengobatan malaria yang efektif.  Peningkatan viral load yang berhubungan dengan malaria ini menyebakan peningkatan penularan HIV dan perkembangan yang lebih cepat dengan implikasi kesehatan masyarakat yang penting. 

Sebuah penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pengobatan profilaksis dengan cotrimoxazole harian di antara orang dewasa dengan infeksi HIV menurunkan insidensi malaria sebesar 80% di Uganda.  Walaupun efeknya mungkin akan bervariasi tergantung seting epidemiologis dan pola kekebalan obat, efek tersebut mungkin relevan baik untuk perempuan hamil maupun orang dewasa secara umum. 

Ko-infeksi HIV dan malaria selama kehamilan:

Infeksi malaria lebih sering terjadi dan lebih parah pada perempuan hamil dengan HIV positif di daerah endemik malaria.   Multigravida dengan infeksi HIV sama dengan primigravida dengan infeksi HIV dalam hal kerentanan terhadap infeksi malaria dan mendapatkan konsekuensi negatif dari malaria.  Jadi, dengan adanya infeksi HIV, risiko yang terhadap malaria plasental tidak tergantung pada jumlah kehamilan. 

Perempuan hamil yang terinfeksi malaria dan Hiv sekaligus memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami anemia, melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan bayi premature.  Viral load yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan transmisi HIV dari ibu ke anak.  Infeksi malaria selama kehamilan meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak saat dalam rahim, saat persalinan dan periode menyusui, kemungkinan besar oleh karena kenaikan viral load HIV.

Upaya lain masih perlu dilakukan untuk menilai efek-efek kesehatan masyarakat dari implikasi HIV dan malaria. 

Doperkirakan 5%-10% infeksi baru HIV disebabkan oleh produk-produk darah yang tidak aman.  Hal ini mempunyai implikasi yang besar terhadap managemen anemia berat, termasuk yang terajdi selama masa kanak-kanak sebagai hasil dari infeksi malaria berat. 

 

Readings:

·     Corbett EL et al, AIDS In Africa III: HIV-1/AIDS and the control of other infectious diseases in Africa. Lancet 2002; 359: 2177-87.

 

Sumber: UNICEF Malaria Technical Note # 6    , February 2003

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan