|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Malaria
dan HIV/AIDS
Latar
Belakang:
Penyebaran
HIV berinteraksi dengan berbagai penyakit infeksi lain,
difasilitasi oleh kenaikan jumlah orang yang mengalami immunosuppressed
(penurunan kekebalan) dan karena gambaran klinisnya dapat
diganggu oleh infeksi-infeksi yang lain.
Penyakit-penyakit infeksi sering saling bersinergi,
saling mempengaruhi secara negatif, dan yang paling terkenal
adalah antara HIV
dan tuberkulosis (TBC).
Di daerah-daerah dengan prevalensi HIV tinggi, angka
insidensi (kasus baru) TBC semakin meningkat, dibarengi dengan
peningkatan angka kematian.
Selain itu, kerentanan terhadap HIV dapat meningkat
oleh adanya infeksi lain, yang sudah diketahui adalah berbagai
infeksi menular seksual (IMS), menyebabkan tingginya penularan
HIV di masyarakat yang tinggi prevalensi IMSnya.
Di
Afrika, pandemi HIV didukung oleh pandemi malaria yang
berlangsung lama, di mana malaria karena P.
falciparum secara konsisten merupakan penyebab utama
kematian bayi dan anak. Tingginya
prevalensi infeksi HIV dan malaria di Afrika mempunyai arti
bahwa interaksi yang kecil saja di antaranya keduanya dapat
memiliki efek yang substansial pada populasi.
Dengan
adanya kerjasama Roll Back Malaria pada tahun 1998,
diketahui bahwa pola penurunan secara gradual kematian karena
malaria telah berbalik arah pada tahun 1990an, dan interaksi
antara malaria dan HIV diduga sebagai salah satu
kontributornya.
Penelitian
awal tidak menunjukkan hubungan biologis langsung antara HIV
dan malaria, walaupun diketahui bahwa malaria yang berhubungan
dengan anemia yang diobati dengan transfusi darah yang tidak
diskrining berkontribusi terhadap penularan HIV.
Pada tahun-tahun belakangan ini, penelitian telah
difokuskan pada tiga isu kunci:
1.
Apakah HIV/AIDS meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi malaria atau meningkatkan keparahan episode-episode
malaria akut?
2.
Apakah infeksi malaria mempercepat perkembangan
HIV/AIDS?
3.
Apa dampak ko-infeksi malaria dan HIV selama kehamilan?
Status
pada saat ini:
Efek
HIV pada malaria:
Infeksi
HIV meningkatkan angka insidensi dan keparahan klinis malaria.
Pada orang dewasa yang tidak hamil, infeksi HIV
diketahui meningkatkan risiko malaria parasitemia dan malaria
klinis sekitar dua kali lipat.
Di Afrika Timur dan Selatan, di mana prevalensi HIV
sekitar 30%, diperkirakan sekitar ¼ sampai 1/3 malaria klinis
pada orang dewasa (termasuk orang hamil) disebabkan oleh HIV.
Penelitian pada anak-anak masih sedikit, walaupun
anemia karena berbagai sebab sering terjadi dan dihubungkan
dengan kenaikan kematian anak-anak yang terinfeksi HIV.
Efek
malaria terhadap HIV:
Walaupun
efek malaria terhadap HIV belum didokumentasikan dengan baik,
beberapa penelitian akhir-akhir ini menambah bukti-bukti yang
ada. Infeksi
malaria akut meningkatkan viral load, dan sebuah penelitian
menemukan bahwa kenaikan viral load ini dapat diturunkan
dengan pengobatan malaria yang efektif.
Peningkatan viral load yang berhubungan dengan malaria
ini menyebakan peningkatan penularan HIV dan perkembangan yang
lebih cepat dengan implikasi kesehatan masyarakat yang penting.
Sebuah
penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pengobatan
profilaksis dengan cotrimoxazole harian di antara orang dewasa
dengan infeksi HIV menurunkan insidensi malaria sebesar 80% di
Uganda. Walaupun
efeknya mungkin akan bervariasi tergantung seting
epidemiologis dan pola kekebalan obat, efek tersebut mungkin
relevan baik untuk perempuan hamil maupun orang dewasa secara
umum.
Ko-infeksi
HIV dan malaria selama kehamilan:
Infeksi
malaria lebih sering terjadi dan lebih parah pada perempuan
hamil dengan HIV positif di daerah endemik malaria.
Multigravida dengan infeksi HIV sama dengan
primigravida dengan infeksi HIV dalam hal kerentanan terhadap
infeksi malaria dan mendapatkan konsekuensi negatif dari
malaria. Jadi,
dengan adanya infeksi HIV, risiko yang terhadap malaria
plasental tidak tergantung pada jumlah kehamilan.
Perempuan
hamil yang terinfeksi malaria dan Hiv sekaligus memiliki
risiko lebih tinggi untuk mengalami anemia, melahirkan bayi
dengan berat lahir rendah dan bayi premature.
Viral load yang lebih tinggi meningkatkan kemungkinan
transmisi HIV dari ibu ke anak.
Infeksi malaria selama kehamilan meningkatkan risiko
penularan HIV dari ibu ke anak saat dalam rahim, saat
persalinan dan periode menyusui, kemungkinan besar oleh karena
kenaikan viral load HIV.
Upaya
lain masih perlu dilakukan untuk menilai efek-efek kesehatan
masyarakat dari implikasi HIV dan malaria.
Doperkirakan
5%-10% infeksi baru HIV disebabkan oleh produk-produk darah
yang tidak aman. Hal
ini mempunyai implikasi yang besar terhadap managemen anemia
berat, termasuk yang terajdi selama masa kanak-kanak sebagai
hasil dari infeksi malaria berat.
Readings:
·
Corbett
EL et al, AIDS In Africa III: HIV-1/AIDS and the control of
other infectious diseases in Africa. Lancet
2002; 359: 2177-87.
Sumber:
UNICEF
Malaria Technical Note # 6
, February 2003
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |