|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Banyak Ibu dan Anak Tertular HIV/AIDS dari sang Suami
Pada beberapa kasus HIV/AIDS yang menimpa kaum
perempuan yang sudah berkeluarga, tidak sedikit penderitanya berasal dari
keluarga 'baik-baik'. Bahkan, ibu rumah tangga yang sepanjang hari berada
di rumah hanya untuk melayani suami dan membesarkan anak pun tidak luput
dari penyakit yang mematikan ini.
Dari sekian banyak kasus yang dihadapi oleh Yayasan
Pelita Ilmu (YPI), sebuah yayasan yang bergerak di bidang pencegahan dan
penanganan HIV/AIDS, lebih dari 40 kasus merupakan istri yang tertular
virus HIV/AIDS dari suaminya.
''Banyak kasus seperti itu. Sebagai contoh, belum
lama ini saya didatangi oleh seorang ibu rumah tangga yang baru
melahirkan. Setelah melahirkan, ternyata kondisi kesehatannya tiba-tiba
menurun. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia tertular virus HIV.
Dan lebih menyedihkan lagi, darah bayi yang belum genap berumur tiga bulan
itu sudah mengandung virus HIV. Hancur sekali hatinya. Terlebih setelah
dia tahu bahwa dirinya tertular dari suaminya tercinta,'' ujar konselor di
YPI, Atik Surya Atmaja.
Hancurnya hati sang istri, lanjut Atik, akibat
bertubi-tubinya kenyataan pahit yang dialaminya. Benar-benar tidak
disangka bahwa suami yang disayangi dan sangat dibanggakannya ternyata
sering 'jajan' saat dirinya sedang hamil. Hal ini masih bercampur dengan
kenyataan bahwa dirinya telah terjangkiti penyakit yang bisa membuat daya
tahan tubuhnya hilang.
''Kesehatan dan mentalnya drop sekali saat
itu. Istri mana yang dapat menerima kenyataan bahwa suaminya suka 'jajan'
di luar. Ia pun merasa seperti sudah tidak punya lagi harapan untuk hidup.
Masa depannya seperti sudah hilang,'' tambah Atik.
Kini, sambung Atik, sang istri hanya dapat menyesali
kondisi yang menimpanya. Selain dirinya telah terinfeksi HIV/AIDS, anak
pertama yang baru dilahirkannya pun telah tertular darinya.
Beban bertambah
Masalah perempuan tersebut ternyata belum selesai.
Suaminya, yang telah menjadi ODHA (orang dengan HIV/AIDS) selama tiga
tahun, mulai menurun kondisi kesehatannya. Suaminya pun terpaksa masuk
rumah sakit dan dirawat selama berbulan-bulan. Praktis sang suami harus
berhenti dari pekerjaannya dan sang istri pun kini bertambah perannya
menjadi penopang kehidupan keluarga.
''Bisa dibayangkan betapa berat beban yang harus
dipikulnya. Belum habis ia menyesali penyakit yang diderita dan rasa sakit
hatinya akibat suami yang suka 'jajan', ia pun dipaksa harus merawat
suaminya yang tergolek di rumah sakit. Ia juga harus mencari pemasukan
buat ongkos berobat suaminya. Padahal, selama ini ia hanya seorang ibu
rumah tangga. Dan perlu diketahui, banyak lo kasus seperti ini,''
tambahnya.
Celakanya, tidak lama kemudian suaminya pun
meninggal. Kondisi mental sang ibu rumah tangga itu pun kian jatuh.
Bahkan, sambung Atik, ibu itu sempat berpikir akan mengakhiri hidupnya
bersama bayi kesayangannya tersebut.
''Untung saja, suatu hari ia sempat terpikirkan
untuk datang mengunjungi lembaga penanganan HIV/AIDS. Di sini, kami
mencoba membantu untuk mengembalikan kembali semangat hidupnya yang sempat
hilang,'' lanjutnya.
Ternyata, upaya mengembalikan semangat hidup
tidaklah mudah. Para konselor tidak boleh bosan memberi pengarahan kepada
para istri yang telah terjangkiti virus HIV/AIDS. Konselor yang
menanganinya pun harus benar-benar cocok dengan kepribadian penderita.
Pasalnya, konselor tersebut dituntut untuk dapat selalu menemani penderita
saat dibutuhkan.
Upaya lainnya adalah dengan mengajak Orang Dengan
HIV AIDS (ODHA) untuk mendatangi kelompok diskusi yang juga sesama ODHA.
Dipandu oleh seorang konselor, mereka diajak untuk saling berbicara
terbuka dengan menceritakan masalahnya masing-masing.
Bagi yang mentalnya sudah kembali pulih diminta
untuk menceritakan pengalamannya saat berupaya mengembalikan semangat
hidup. Sedangkan mereka yang masih berjuang diminta untuk tidak menutup
diri dan hanyut dengan pikiran mereka sendiri.
Bagi yang mentalnya masih rapuh, YPI yang bekerja
sama dengan tokoh-tokoh agama meminta para rohaniwan untuk memberi siraman
spiritual kepada mereka.
''Pokoknya kita mengingatkan bahwa mereka masih
memiliki masa depan. Para istri biasanya mulai bangkit kembali setelah
disadarkan bahwa anak yang mereka miliki membutuhkan kasih sayang mereka,
dan berhak untuk hidup dengan baik. Proses yang terpenting adalah adanya
komunikasi yang terbuka, baik antara sesama ODHA maupun antara konselor
dengan ODHA,'' jelas Atik.
Jika masih ada yang malu atau tidak tahu keberadaan
lembaga penanganan HIV/AIDS, YPI dengan nomor telepon (021) 829 6163 dan
(021) 8379 5480 adalah salah satu lembaga yang bisa dihubungi, saran Atik
kemudian. (Msc/V-2)
Sumber:
Media Indo Jum'at, 04 Februari 2005
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |