OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Banyak Ibu dan Anak Tertular HIV/AIDS dari sang Suami

Pada beberapa kasus HIV/AIDS yang menimpa kaum perempuan yang sudah berkeluarga, tidak sedikit penderitanya berasal dari keluarga 'baik-baik'. Bahkan, ibu rumah tangga yang sepanjang hari berada di rumah hanya untuk melayani suami dan membesarkan anak pun tidak luput dari penyakit yang mematikan ini.

Dari sekian banyak kasus yang dihadapi oleh Yayasan Pelita Ilmu (YPI), sebuah yayasan yang bergerak di bidang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS, lebih dari 40 kasus merupakan istri yang tertular virus HIV/AIDS dari suaminya.

''Banyak kasus seperti itu. Sebagai contoh, belum lama ini saya didatangi oleh seorang ibu rumah tangga yang baru melahirkan. Setelah melahirkan, ternyata kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ia tertular virus HIV. Dan lebih menyedihkan lagi, darah bayi yang belum genap berumur tiga bulan itu sudah mengandung virus HIV. Hancur sekali hatinya. Terlebih setelah dia tahu bahwa dirinya tertular dari suaminya tercinta,'' ujar konselor di YPI, Atik Surya Atmaja.

Hancurnya hati sang istri, lanjut Atik, akibat bertubi-tubinya kenyataan pahit yang dialaminya. Benar-benar tidak disangka bahwa suami yang disayangi dan sangat dibanggakannya ternyata sering 'jajan' saat dirinya sedang hamil. Hal ini masih bercampur dengan kenyataan bahwa dirinya telah terjangkiti penyakit yang bisa membuat daya tahan tubuhnya hilang.

''Kesehatan dan mentalnya drop sekali saat itu. Istri mana yang dapat menerima kenyataan bahwa suaminya suka 'jajan' di luar. Ia pun merasa seperti sudah tidak punya lagi harapan untuk hidup. Masa depannya seperti sudah hilang,'' tambah Atik.

Kini, sambung Atik, sang istri hanya dapat menyesali kondisi yang menimpanya. Selain dirinya telah terinfeksi HIV/AIDS, anak pertama yang baru dilahirkannya pun telah tertular darinya.

Beban bertambah

Masalah perempuan tersebut ternyata belum selesai. Suaminya, yang telah menjadi ODHA (orang dengan HIV/AIDS) selama tiga tahun, mulai menurun kondisi kesehatannya. Suaminya pun terpaksa masuk rumah sakit dan dirawat selama berbulan-bulan. Praktis sang suami harus berhenti dari pekerjaannya dan sang istri pun kini bertambah perannya menjadi penopang kehidupan keluarga.

''Bisa dibayangkan betapa berat beban yang harus dipikulnya. Belum habis ia menyesali penyakit yang diderita dan rasa sakit hatinya akibat suami yang suka 'jajan', ia pun dipaksa harus merawat suaminya yang tergolek di rumah sakit. Ia juga harus mencari pemasukan buat ongkos berobat suaminya. Padahal, selama ini ia hanya seorang ibu rumah tangga. Dan perlu diketahui, banyak lo kasus seperti ini,'' tambahnya.

Celakanya, tidak lama kemudian suaminya pun meninggal. Kondisi mental sang ibu rumah tangga itu pun kian jatuh. Bahkan, sambung Atik, ibu itu sempat berpikir akan mengakhiri hidupnya bersama bayi kesayangannya tersebut.

''Untung saja, suatu hari ia sempat terpikirkan untuk datang mengunjungi lembaga penanganan HIV/AIDS. Di sini, kami mencoba membantu untuk mengembalikan kembali semangat hidupnya yang sempat hilang,'' lanjutnya.

Ternyata, upaya mengembalikan semangat hidup tidaklah mudah. Para konselor tidak boleh bosan memberi pengarahan kepada para istri yang telah terjangkiti virus HIV/AIDS. Konselor yang menanganinya pun harus benar-benar cocok dengan kepribadian penderita. Pasalnya, konselor tersebut dituntut untuk dapat selalu menemani penderita saat dibutuhkan.

Upaya lainnya adalah dengan mengajak Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) untuk mendatangi kelompok diskusi yang juga sesama ODHA. Dipandu oleh seorang konselor, mereka diajak untuk saling berbicara terbuka dengan menceritakan masalahnya masing-masing.

Bagi yang mentalnya sudah kembali pulih diminta untuk menceritakan pengalamannya saat berupaya mengembalikan semangat hidup. Sedangkan mereka yang masih berjuang diminta untuk tidak menutup diri dan hanyut dengan pikiran mereka sendiri.

Bagi yang mentalnya masih rapuh, YPI yang bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama meminta para rohaniwan untuk memberi siraman spiritual kepada mereka.

''Pokoknya kita mengingatkan bahwa mereka masih memiliki masa depan. Para istri biasanya mulai bangkit kembali setelah disadarkan bahwa anak yang mereka miliki membutuhkan kasih sayang mereka, dan berhak untuk hidup dengan baik. Proses yang terpenting adalah adanya komunikasi yang terbuka, baik antara sesama ODHA maupun antara konselor dengan ODHA,'' jelas Atik.

Jika masih ada yang malu atau tidak tahu keberadaan lembaga penanganan HIV/AIDS, YPI dengan nomor telepon (021) 829 6163 dan (021) 8379 5480 adalah salah satu lembaga yang bisa dihubungi, saran Atik kemudian. (Msc/V-2)

Sumber: Media Indo Jum'at, 04 Februari 2005

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan