OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

WHO Meninjau Keterseiaan Pengobatan AIDS
Oleh Julian Meldrum

WHO telah mengeluarkan laporan yang, untuk pertama kali, mencoba
mengukur ketersediaan pengobatan dan layanan pencegahan kesehatan untuk
HIV dan AIDS di negara penghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan
sasaran yang ditentukan pada Deklarasi Komitmen Sidang Umum PBB tentang
AIDS pada Juni 2001, ini menunjukkan bahwa masih ada jalan jauh untuk
menemukan sasaran tersebut.

Survei WHO terbatas pada layanan kesehatan, sementara mengakui bahwa
tanggapan apa saja yang berhasil pada AIDS harus melewati sektor
kesehatan. Justru, lebih dari 30 pemerintah di Afrika dilaporkan oleh
UNAIDS telah membentuk Komisi AIDS Nasional yang bertanggung jawab
langsung pada Presiden atau Perdana Menteri.

Khususnya, WHO meninjau:

* tes sukarela yang disertai konseling (VCT), kecuali tes pada pasien
  rumah sakit yang sakit untuk maksud diagnosis

* pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (MTCT)

* terapi antiretroviral dengan tiga atau lebih obat dalam kombinasi

* pengobatan untuk infeksi oportunistik

* profilaksis (pencegahan medis) infeksi oportunistik dengan
  kotrimoksazol atau isoniazid

* skrining darah donor pada layanan transfusi

* DOTS (pengobatan yang diawasi langsung, jangka waktu pendek) untuk TB

Untuk masing-masing topik, WHO mengestimasikan jumlah orang yang
membutuhkan layanan di setiap negara. [Angka untuk Indonesia dicatat
dalam tanda kurung persegi]

Misalnya, kebutuhan untuk obat antiretroviral (ARV) diestimasikan
sebagai dua kali jumlah orang yang meninggal karena AIDS pada satu
tahun. Ini berdasarkan pendapatan bahwa orang yang memenuhi kriteria
saat ini untuk pengobatan mempunyai harapan hidup rata-rata dua tahun
jika mereka tidak diobati. Ini estimasi yang berhati-hati, jika jumlah
orang yang meninggal karena AIDS dalam negara tersebut sedang
meningkat.

WHO kemudian berkonsultasi dengan para ahli di masing-masing negara
untuk menilai keadaan pada 2001, dalam tingkat ketersediaan yang
diberikan.

Akses ke VCT

WHO mengestimasikan kebutuhan tahunan VCT di setiap negara sebagai dua
kali prevalensi HIV nasional, selama lima tahun.

Secara keseluruhan, WHO mengestimasikan bahwa hanya 12% orang yang
butuhnya terjangkau. [Indonesia: 1%]

Pencegahan MTCT

Di sini, kebutuhan berdasakan estimasi jumlah kelahiran hidup, dengan
asumsi bahwa semuanya harus ada akses pada konseling, tes, dan--jika
dibutuhkan--pengobatan termasuk ARV dan nasihat dan dukungan tentang
pemberian makanan pada bayi.

Tantangan berbeda-bead di seluruh dunia, tergantung pada prevalensi HIV
dan ketesediaan perawatan sebelum lahir dan bidan yang terlatih.
[Indonesia: 0%]

Akses pada ARV

Dari semua negara yang disurvei oleh WHO, separo melaporkan bahwa
terapi antiretroviral (ART) tidak tersedia di sektor pemerintah.
[Indonesia: 1%]

Perawatan dan pengobatan

Menggambarkan tingkat perawatan dan pengobatan adalah sulit, karena apa
yang dibutuhkan adalah rumit dan beraneka ragam. WHO sudah menyusun
daftar kebutuhan dan mengolongkannya sebagai paket layanan 'esensial',
'menengah', dan 'lanjutan'. WHO kemudian minta para ahli lokal untuk
mengestimasikan tingkat akses berdasarkan golongan itu di ibu kota,
daerah perkotaan lain, dan daerah pedesaan. [Indonesia: ibu kota:
menengah; daerah perkotaan lain: esensial; daerah pedesaan: kurang ada]

Profilaksis terhadap infeksi oportunistik

WHO memperkirakan kebutuhan untuk ini sebagai sama dengan kebutuhan
untuk ART. Penemuaan adalah bahwa kotrimoksazol [untuk PCP dan tokso]
dan isoniazid [untuk TB] sangat kurang dipakai, terutama di daerah yang
paling membutuhkannya. [Indonesia: kotrimoksazol: 8%; isoniazid: 16%]

Keamanan darah

Sementara lebih dari 90% darah yang disumbang dilaporkan diskrining
untuk HIV, masih ada risiko terkait dengan transfusi di banyak negara.
Beberapa transfusi terjadi dalam keadaan darurat, di luar layanan darah
resmi. Kadang kala kekurangan kit tes untuk skrining menyebabkan proses
skrining rusak. [Indonesia: 100%]

Pengobatan TB dengan DOTS

Satu-satunya bagian pengobatan di mana ketersediaan di Afrika dapat
sama dengan atau lebih daripada yang tersedia di bagian dunia lain
terkait dengan TB. Rata-rata. kurang-lebih 36% warga Afrika dapat
memperoleh pengobatan yang diberi sesuai dengan petunjuk WHO. Walau ini
tidak cukup untuk memberantas TB, ada potensial untuk meluaskan program
ini untuk meliputi peratawan dan pengobatan untuk HIV. [Indonesia: 19%]

Untuk masa depan, WHO berjanji untuk melakukan survei yang lebih rinci
untuk mendapatkan gambaran yang lebih persis tentang tingkat
ketersediaan layanan secara nyata. Namun, apa yang sudah dilakukan
adalah sangat berharga sebagai referensi, 'bench-mark' dan peringatan
untuk tanggapan global pada AIDS.

Referensi

WHO Coverage of selected health services for HIV/AIDS prevention and
care in less developed countries in 2001. Geneva: World Health
Organization, 2002.

http://www.aidsmap.com/news/newsdisplay2.asp?newsId=1776

sumber: aids-ina 

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan