|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
WHO
Meninjau Keterseiaan Pengobatan AIDS
Oleh Julian Meldrum
WHO telah mengeluarkan laporan yang, untuk pertama kali,
mencoba
mengukur ketersediaan pengobatan dan layanan pencegahan
kesehatan untuk
HIV dan AIDS di negara penghasilan rendah dan menengah.
Berdasarkan
sasaran yang ditentukan pada Deklarasi Komitmen Sidang Umum
PBB tentang
AIDS pada Juni 2001, ini menunjukkan bahwa masih ada jalan
jauh untuk
menemukan sasaran tersebut.
Survei WHO terbatas pada layanan kesehatan, sementara mengakui
bahwa
tanggapan apa saja yang berhasil pada AIDS harus melewati
sektor
kesehatan. Justru, lebih dari 30 pemerintah di Afrika
dilaporkan oleh
UNAIDS telah membentuk Komisi AIDS Nasional yang bertanggung
jawab
langsung pada Presiden atau Perdana Menteri.
Khususnya, WHO meninjau:
* tes sukarela yang disertai konseling (VCT), kecuali tes pada
pasien
rumah sakit yang sakit untuk maksud diagnosis
* pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (MTCT)
* terapi antiretroviral dengan tiga atau lebih obat dalam
kombinasi
* pengobatan untuk infeksi oportunistik
* profilaksis (pencegahan medis) infeksi oportunistik dengan
kotrimoksazol atau isoniazid
* skrining darah donor pada layanan transfusi
* DOTS (pengobatan yang diawasi langsung, jangka waktu pendek)
untuk TB
Untuk masing-masing topik, WHO mengestimasikan jumlah orang
yang
membutuhkan layanan di setiap negara. [Angka untuk Indonesia
dicatat
dalam tanda kurung persegi]
Misalnya, kebutuhan untuk obat antiretroviral (ARV)
diestimasikan
sebagai dua kali jumlah orang yang meninggal karena AIDS pada
satu
tahun. Ini berdasarkan pendapatan bahwa orang yang memenuhi
kriteria
saat ini untuk pengobatan mempunyai harapan hidup rata-rata
dua tahun
jika mereka tidak diobati. Ini estimasi yang berhati-hati,
jika jumlah
orang yang meninggal karena AIDS dalam negara tersebut sedang
meningkat.
WHO kemudian berkonsultasi dengan para ahli di masing-masing
negara
untuk menilai keadaan pada 2001, dalam tingkat ketersediaan
yang
diberikan.
Akses ke VCT
WHO mengestimasikan kebutuhan tahunan VCT di setiap negara
sebagai dua
kali prevalensi HIV nasional, selama lima tahun.
Secara keseluruhan, WHO mengestimasikan bahwa hanya 12% orang
yang
butuhnya terjangkau. [Indonesia: 1%]
Pencegahan MTCT
Di sini, kebutuhan berdasakan estimasi jumlah kelahiran hidup,
dengan
asumsi bahwa semuanya harus ada akses pada konseling, tes,
dan--jika
dibutuhkan--pengobatan termasuk ARV dan nasihat dan dukungan
tentang
pemberian makanan pada bayi.
Tantangan berbeda-bead di seluruh dunia, tergantung pada
prevalensi HIV
dan ketesediaan perawatan sebelum lahir dan bidan yang
terlatih.
[Indonesia: 0%]
Akses pada ARV
Dari semua negara yang disurvei oleh WHO, separo melaporkan
bahwa
terapi antiretroviral (ART) tidak tersedia di sektor
pemerintah.
[Indonesia: 1%]
Perawatan dan pengobatan
Menggambarkan tingkat perawatan dan pengobatan adalah sulit,
karena apa
yang dibutuhkan adalah rumit dan beraneka ragam. WHO sudah
menyusun
daftar kebutuhan dan mengolongkannya sebagai paket layanan 'esensial',
'menengah', dan 'lanjutan'. WHO kemudian minta para ahli lokal
untuk
mengestimasikan tingkat akses berdasarkan golongan itu di ibu
kota,
daerah perkotaan lain, dan daerah pedesaan. [Indonesia: ibu
kota:
menengah; daerah perkotaan lain: esensial; daerah pedesaan:
kurang ada]
Profilaksis terhadap infeksi oportunistik
WHO memperkirakan kebutuhan untuk ini sebagai sama dengan
kebutuhan
untuk ART. Penemuaan adalah bahwa kotrimoksazol [untuk PCP dan
tokso]
dan isoniazid [untuk TB] sangat kurang dipakai, terutama di
daerah yang
paling membutuhkannya. [Indonesia: kotrimoksazol: 8%;
isoniazid: 16%]
Keamanan darah
Sementara lebih dari 90% darah yang disumbang dilaporkan
diskrining
untuk HIV, masih ada risiko terkait dengan transfusi di banyak
negara.
Beberapa transfusi terjadi dalam keadaan darurat, di luar
layanan darah
resmi. Kadang kala kekurangan kit tes untuk skrining
menyebabkan proses
skrining rusak. [Indonesia: 100%]
Pengobatan TB dengan DOTS
Satu-satunya bagian pengobatan di mana ketersediaan di Afrika
dapat
sama dengan atau lebih daripada yang tersedia di bagian dunia
lain
terkait dengan TB. Rata-rata. kurang-lebih 36% warga Afrika
dapat
memperoleh pengobatan yang diberi sesuai dengan petunjuk WHO.
Walau ini
tidak cukup untuk memberantas TB, ada potensial untuk
meluaskan program
ini untuk meliputi peratawan dan pengobatan untuk HIV.
[Indonesia: 19%]
Untuk masa depan, WHO berjanji untuk melakukan survei yang
lebih rinci
untuk mendapatkan gambaran yang lebih persis tentang tingkat
ketersediaan layanan secara nyata. Namun, apa yang sudah
dilakukan
adalah sangat berharga sebagai referensi, 'bench-mark' dan
peringatan
untuk tanggapan global pada AIDS.
Referensi
WHO Coverage of selected health services for HIV/AIDS
prevention and
care in less developed countries in 2001. Geneva: World Health
Organization, 2002.
http://www.aidsmap.com/news/newsdisplay2.asp?newsId=1776
sumber:
aids-ina
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |