|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
HIV/AIDS
di Indonesia: Terimpit Stigma Hingga Ajal
SEPOTONG
cerita duka disampaikan Baby Jim Aditya dengan suara bergetar.
"Satu lagi penderita AIDS meninggal di hadapanku, dan aku
tak bisa berbuat apa-apa," katanya kepada GATRA,
Jumat siang pekan lalu. Perempuan penggiat masalah acquired
immune deficiency syndrome (AIDS) di Tanah Air itu
menambahkan dengan air mata berlinang: "Aku betul-betul
sedih, nasib mereka sampai sekarang masih sangat menderita.
Dikucilkan, dan akhirnya meninggal dalam sepi. Sedikit sekali
yang peduli."
Baby, 40 tahun, sudah kerap mendampingi penderita AIDS
dijemput ajal. Tapi, kematian Koko (sebut saja begitu), Sabtu
pagi dua pekan lalu, sungguh menyentuh perasaannya. Maklumlah,
kepergian Koko, 27 tahun, sangat mengenaskan. Pemuda drop out
satu perguruan tinggi di Yogyakarta itu meninggal setelah lima
hari dinyatakan positif mengidap AIDS. Lebih mengenaskan lagi,
Koko sempat ditolak berobat oleh sejumlah rumah sakit, sebelum
akhirnya meninggal di satu rumah sakit di Jakarta Utara.
Syahdan, Baby mendapat telepon dari orangtua Koko pada 5
Januari lalu. Sebagai Ketua Klub Partisipasi Kemanusiaan yang
memberi bimbingan dan penyuluhan masalah AIDS, Baby sangat
sering mendapat telepon dari keluarga penderita yang ingin
berkonsultasi. Orangtua Koko bercerita perihal kondisi
kesehatan Koko yang cepat drop pada sebulan terakhir. Baby
menganjurkan Koko secepatnya dibawa ke rumah sakit untuk
diperiksa.
Seperti sudah diduga Baby, hasil pemeriksaan menyatakan Koko
terkena AIDS, yang disebabkan human immunodeficiency virus
(HIV). Mengherankan sebetulnya, kok deteksi HIV/AIDS terhadap
Koko amat terlambat, padahal status sosial ekonomi orangtuanya
cukup bagus. Diduga, virus itu telah lama bercokol di tubuh
inangnya, dan akhirnya berkembang menjadi mematikan lantaran
sang inang teledor merawat kesehatannya. Harap maklum, Koko
pecandu narkoba yang parah.
Warga Bekasi, Jawa Barat, itu pun dibawa ke rumah sakit untuk
diopname. Malang, sejumlah rumah sakit tak mau menerima Koko.
"Alasannya, rumah sakit bersangkutan tak punya sarana
merawat penderita AIDS. Biasalah, cari-cari alasan," Baby
menuturkan. Beruntung, satu rumah sakit di Jakarta Utara
bersedia menampung. Saat ditengok Baby, 10 Januari lalu,
beberapa jam setelah Koko dirawat, kondisi pemuda itu sudah
amat parah.
Tubuhnya kurus kering. Lambungnya penuh luka digerogoti
penyakit mag, mulut dan bibir dijejali sariawan sebesar kacang
kedelai. Benjolannya merah dan dipenuhi nanah. Sepanjang hari,
mata Koko tak dapat menutup. Menurut dokter yang merawat Koko,
mata dan telinga Koko tak berfungsi lagi. Hilang sudah
sisa-sisa ketampanan pemuda malang itu. Dengan suara tak jelas,
Koko nyeracau menanyakan teman-temannya, kok tak ada yang
menengoknya.
Baby ingin sekali menolong dia. Hal yang mendesak dilakukan
adalah memberi penderita obat antiretroviral (ARV) guna
meningkatkan kekebalan tubuh. Tapi, untuk mendapatkan obat
cukup mujarab itu mesti waiting list dulu. Maka, bekas pemain
teater yang kini menekuni usaha butik itu bergegas mengontak
Dokter Samsuridjal Djauzi, mencoba jalur cepat.
"Tolong gue dong obat ARV. Ada yang lagi butuh
banget nih, please," ibu dua anak itu meminta penuh harap.
Baby memang akrab dengan Samsuridjal, yang juga Ketua Kelompok
Studi Khusus AIDS, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Pokdisus
AIDS FK-UI). Pokdisus merupakan distributor tunggal obat ARV
generik yang diimpor dari India dan Thailand.
Sayang, Samsuridjal ketika itu sedang bersiap berangkat ke
luar kota sehingga tak dapat memenuhi permintaan Baby, meski
sang dokter berjanji mengusahakannya. Kondisi Koko terus
memburuk. Besoknya, pukul 06.00, ia meninggal. Orangtua Koko
kalang kabut. Dan, kata Baby, si orangtua mewanti-wanti semua
pihak agar merahasiakan sebab kematian Koko sesungguhnya.
"Fakta" yang dimunculkan, Koko menderita lever dan
mag akut. Artinya, penderita AIDS masih saja dianggap pembawa
aib yang mesti ditutup-tutupi.
Begitulah sekelumit kisah pilu pengidap HIV/AIDS yang sempat
"direkam" Baby. Koko menambah panjang daftar
penderita HIV/AIDS yang meninggal. Secara nasional, tentu
hanya berdasarkan data yang masuk, ada 306 penderita HIV/AIDS
yang meninggal hingga Desember lalu. Rekor tetap dipegang
Papua dengan 177 jiwa yang melayang, disusul Jakarta (95) dan
Jawa Timur (43). Angka-angka ini sangat mungkin cuma permukaan
dari kondisi sebenarnya. Diyakini, korban HIV/AIDS yang
"KO" sebetulnya jauh lebih banyak.
Di Tanah Air masih ada ratusan ribu, atau bahkan lebih banyak
lagi, penderita penyakit mematikan itu yang mungkin bakal
bernasib seperti Koko. Mereka terinfeksi, tapi alpa --atau
sengaja alpa dengan segala motifnya-- kemudian merana, dan
akhirnya mati sia-sia. Kalau orangtua Koko saja sampai lalai
memeriksakan anaknya, bagaimana dengan keluarga penderita yang
berasal dari golongan ekonomi lemah, yang notabene jumlahnya
lebih banyak?
Itulah sebabnya, Zubairi Djoerban, Ketua Masyarakat Peduli
AIDS Indonesia, melihat fenomena HIV/AIDS seperti gunung es:
yang terlihat itu baru secuil. Sampai Agustus lampau, jumlah
penderita HIV/AIDS di Indonesia diperkirakan 100.000-120.000
orang. Jumlah ini tiap tahun akan terus membengkak. Angka
estimasi Departemen Kesehatan ini jauh melampaui data resmi
dari instansi yang sama, yang cuma 3.568 kasus per Desember
2002.
Tapi, menurut taksiran Zubairi, jumlah penderita sebenarnya
mencapai 1,2 juta orang, yang disumbang terbanyak dari
kalangan pecandu narkoba. Asumsinya, dari kalangan pemadat
yang berjumlah 4 juta orang, diperkirakan 30% terjangkit HIV.
Ini belum termasuk pengidap HIV akibat hubungan seksual. Juga
bayi-bayi yang mewarisi "azab" itu dari ibunya.
Angka asumsi kasar ini sendiri diperoleh Zubairi dari
temuannya di ruang praktek, dua tahun belakangan. Menurut
hematolog dari FK-UI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu, dari
30-50 pasien HIV/AIDS yang ditanganinya, sebanyak 80% pecandu
narkoba. Sementara dari 45 pecandu narkoba yang memeriksakan
darahnya, 30% positif HIV.
Bisa dimaklumi bila pecandu narkoba kebanyakan pengidap HIV
potensial. Mereka menyebar virus mematikan itu lewat kebiasaan
menggunakan jarum suntik bersama. Menurut estimasi Population
Council dan Family Health International, 43% penyebaran
HIV/AIDS berasal dari jarum suntik pemadat.
Maka, Zubairi amat khawatir akan nasib bangsa ini, mengingat
cukup banyak penduduknya yang pecandu narkoba. "Indonesia
sedang mengalami ledakan besar penderita HIV/AIDS akibat
narkoba yang merajalela," kata dokter kelahiran
Yogyakarta, 11 Februari 1947, itu kepada GATRA.
Kalau kekhawatiran ini beralasan, lalu bagaimana langkah
antisipasi? Siapkah pemerintah menanggulanginya bersama-sama?
Secara formal, pemerintah memang cukup peduli. Setidaknya, itu
bisa dilihat dari dicanangkannya kembali Gerakan Nasional
Penanggulangan HIV/AIDS, April silam.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jusuf
Kalla, pemerintah terus berusaha keras menekan penyebaran
AIDS. "Kampanye tentang AIDS tak hentinya dilakukan.
Rumah sakit selalu terbuka 24 jam bagi penderita AIDS,"
kata Jusuf, yang juga Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS.
Benarkah? Kalau kampanye mungkin iya. Sikap rumah sakit yang
terbuka? Tentu tak sepenuhnya betul. Satu buktinya, ya, nasib
Koko yang sampai ditolak masuk rumah sakit itu. Kalaupun
diterima pihak rumah sakit, biasanya penderita mendapat
perlakuan menyakitkan. Pengalaman Muchlisin bisa dijadikan
contoh.
Duda berusia 33 tahun itu terjangkit HIV dan dirawat di satu
rumah sakit di Jakarta, beberapa tahun lampau. Begitu
diketahui positif HIV, ia sempat diisolasi di kamar perawatan
yang terkunci rapat. Perawat dan dokter melayaninya
takut-takut lewat jendela kecil. "Sangat tidak manusiawi,"
tutur Muchlisin kepada GATRA.
Belum lama ini diberitakan, sejumlah rumah sakit di Banda Aceh
menolak menerima pasien HIV/AIDS bernama Joylee Ernsting
Sadller, perawat relawan berusia 57 tahun asal Amerika.
Seperti dilaporkan koresponden GATRA Hendra Syahputra
Malamsyah, Joylee akhirnya memilih bersakit-sakit di sel
Lembaga Pemasyarakatan Keudah, Banda Aceh. Celakanya pula,
terpidana empat bulan penjara kasus penyalahgunaan visa itu
nekat mogok makan sebagai aksi protes atas penahanannya.
Kondisi tubuhnya terus melorot.
Memang berat nian beban pengidap HIV/AIDS. Sudah badan soak
digerogoti virus mematikan, harus pula merana dikucilkan dan
didiskriminasi, bahkan sampai ajal menjemput sekalipun.
Penyebab kematian Koko, misalnya, sampai dirahasiakan
keluarganya. Di Surabaya, Jawa Timur, ada jenazah penderita
HIV/AIDS yang meninggal di rumah sakit cepat-cepat dimakamkan
keluarganya. Alasannya, takut masyarakat marah dan mengamuk
bila jenazah mampir ke rumah duka.
Semua itu gara-gara stigma atau stempel buruk yang melekat
erat pada HIV/AIDS. Sebetulnya, seperti pernah dikemukakan
Dokter Kartono Mohamad, stigma serupa melekat pada penyakit
sampar dan lepra di masa silam. Namun, stigma HIV/AIDS menjadi
lebih berat karena dikait-kaitkan dengan masalah moral:
narkoba dan seks liar. Stigma itu menumbuhkan rasa malu amat
sangat, rasa bersalah dan rasa tidak berharga bagi yang
menyandangnya.
Akibatnya, tak ada orang yang mau tertular penyakit mengerikan
ini. Ada dugaan pula, stigma buruk itu awalnya muncul lantaran
HIV/AIDS gampang menular dan belum ada obatnya. Orang-orang
jadi ngeri terjangkit. Dalam pandangan Baby Jim Aditya, itu
semacam legitimasi untuk mengucilkan penderitanya. "Jelas
sikap itu salah. Penderita HIV/AIDS justru butuh pertolongan,
bukan dikucilkan," Baby menyesalkan.
Apa boleh buat, penderita HIV/AIDS, meski belum tentu akibat
narkoba dan seks, selalu disalahkan. Penelitian di Amerika
tahun 1997 menunjukkan, sebagian besar responden menganggap
para penderita HIV/AIDS bertanggung jawab sepenuhnya atas
penyakit mereka. Andreas Pundung, pengidap HIV/AIDS asal
Bekasi, pernah dicemooh penelepon interaktif saat tampil di
satu stasiun televisi di Jakarta, Desember silam. Waktu itu,
ia dengan "pede" alias percaya diri memberikan
testimoni pengalamannya.
"Saya cuma ingin mengatakan, Anda memang pantas kena HIV
karena kelakuan buruk Anda," kata si penelepon, seperti
diutarakan Andreas kepada GATRA. Duda berusia 25 tahun
ini terkena HIV akibat kecanduan narkoba. Istrinya, juga
pemadat, meninggal ketika Andreas mendekam di sel kantor
polisi lantaran terlibat perampokan.
Bagaimana reaksi Andreas atas telepon pedas yang tidak sempat
disensor pengarah acara tersebut? "Saya kaget dan sedih.
Saya mengharapkan pengertian dan dukungan masyarakat agar saya
tegar dan merasa berguna, kok malah dicemooh. Tapi, saya
berusaha tidak larut," kata Andreas, yang rambutnya dicat
kuning.
Cap buruk itu pula yang mendorong si penderita dan keluarganya
menyimpan erat rahasia penyakitnya. Malah, tidak jarang, pihak
keluarga ikut-ikutan mengucilkan si penderita. Biasalah,
keluarga besar tak mau dikotori aib memalukan. Padahal,
dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan. Andreas membuktikan
itu. Berkat kasih sayang dan dorongan ibunya yang tulus,
Andreas yang tadinya putus asa akhirnya bangkit semangat
hidupnya.
Masih sedikit sekali pengidap HIV/AIDS yang berani tampil
terus terang. Di Indonesia, keterusterangan ini mungkin
dipelopori Didi Mirhad. Model ganteng ini dengan mantap
membeberkan deritanya itu kepada pers, tahun 1998. Sayangnya,
waktu itu kondisi Didi sudah demikian parah karena terlambat
terdeteksi. Didi akhirnya meninggal dunia.
Menurut Baby Jim Aditya, sikap terus terang ala Didi Mirhad
sangat diperlukan sebagai upaya mendobrak stigma buruk tadi.
Sehingga diharapkan, kelak orang yang merasa berpotensi
mengidap HIV/AIDS tidak ragu-ragu memeriksakan diri. Soalnya,
meski ketahuan orang banyak, toh tidak perlu khawatir dihukum
secara sosial lagi. Keuntungannya, penyakit tersebut cepat
terdeteksi sehingga dapat segera diupayakan antisipasinya.
"Keluarga pun akan men-support dengan dada lapang,"
kata Baby.
Mungkin harapan ini ibarat jauh panggang dari api. Di negara
maju saja, stigma itu masih melekat. Tapi, seperti dikatakan
Baby lagi, kalau tidak dimulai dengan cara yang lugas,
perubahan dan harapan itu tak akan pernah ada.
[Taufik Alwie, Taurusita Nugrani, Heru Pamuji, dan Asmayani
Kusrini]
[Laporan Khusus, GATRA, Nomor 10 Beredar Senin
20 Januari 2003]
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |