OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Perilaku Dokter, Kepercayaan, dan Praktik Skrining Klamidia

Penelitian ini untuk mengetahui proporsi dari dokter umum yang melakukan skrining klamidia terhadap perempuan remaja yang aktif seksual dengan melihat faktor-faktor demografi, karakteristik perilaku, dan perilakuk yang berhubungan dengan skrining klamidia. 

Data dikumpulkan pada tahun 1998, dengan sampel random dari 1,600 dokter umum di Pennsylvania dengan menggunakan kuesioner survei tentang perilaku PMS.  Dari 1,600 kuesioner yang dikirim, 541 kembali dengan rata-rata respon 51%.

Hasil

Praktik Skrining Klamidia

  • Ketika ditanya apakah mereka akan melakukan skrining klamidia jika ada remaja seksual aktif tanpa gejala:
    • 49% dari dokter pediatric physicians mereka akan periksa.
    • 41% dari dokter internal medicine physicians mereka akan periksa.
    • 28% dari dokter gynecology mereka akan periksa.
    • 28% dari dokter family medicine physicians mereka akan periksa
    • 43% dari dokter perempuan dan 24% dari dokter laki-laki mereka akan periksa.
  • Dari dokter yang bekerja di klinik, 60% mengatakan mereka akan melakukan skrining klamidia.
  • Dari dokter yang bekerja di sebuah kelompok praktik, 32% akan melakukan skrining klamidia.
  • Dari dokter yang buka praktik pribadi,  18% akan melakukan skrining klamidia. 
  • Dari dokter yang bekerja di daerah metropolitan, 46% akan melakukan skrining klamidia.
  • Dari dokter yang bekerja di kota, 26% akan melakukan skrining klamidia.

Perilaku dan Kepercayaan

  • Ketika ditanya apakah mereka setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan: (informasi ada yang missing pada satu atau lebih responden; total jika dijumlah tidak sampai 100%)
    • 42% dokter setuju dan 21% tidak setuju dengan pernyataan, Saya bertanggungjawab untuk menjamin perempuan muda yang datang ke praktekku mendapatkan pelayanan pencegahan PMS yang tepat.
    • 37% dokter setuju dan 13% tidak setuju dengan pernyataan, Uji klamidia pada perempuan tanpa gejala dapat mencegah penyakit pelvic inflammatory disease.
    • 36% dokter setuju dan 12% tidak setuju dengan pernyataan, Setidaknya setengah dari remaja usia 18 tahun di praktikku aktif seksual.
    • 10% dokter setuju dan 42% tidak setuju dengan pernyataan, Klamidia sangat jarang ditemukan dari seluruh populasi pasien remaja perempuan tanpa gejala yang dilakukan skrining.
    • 31% dokter setuju dan 34% tidak setuju dengan pernyataan, Keterbatasan waktu membuat saya sulit untuk menyediakan pencegahan PMS yang efektif dan konseling.
    • 34% dokter setuju dan 32% tidak setuju dengan pernyataan, Keterbatasan reimbursement keuangan membuat saya sulit untuk menyediakan pencegahan PMS yang efektif dan konseling.
    • 29% dokter setuju dan 33% tidak setuju dengan pernyataan, Kebanyaka perempuan dengan klamidia memiliki gejala-gejala.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan Skrining Klamidia

  • Dokter yang melaporkan lebih dari 20% pasiennya keturunan Afrika-Amerika lebih banyak mengatakan bahwa mereka akan melakukan skrining klamidia pada remaja yang aktif  seksual dan tanpa gejala (54%).
  • Dokter yang melaporkan bahwa lebih dari 4% pasiennya yan datang terkena PMS lebih banyak mengatakan bahwa mereka akan melakukan skrining klamidia pada remaja yang aktif seksual dan tanpa gejala (40%).

Hasil penelitian menyatakan bahwa dokter yang mendapatkan prevalensi infeksi klamidia secara signifikan berhubungan dengan perilaku skrining yang mereka lakukan. Dokter secara signifikan lebih jarang melakukan skrining jika mereka percaya bahwa mayoritas pasien usia 18 tahun belum seksual aktif atau mereka percaya bahwa prevalensi infeksi klamidia sangat rendah untuk menjadikan skrining bermanfaat.

Penulis menyimpulkan bahwa sangat penting untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi intervensi untuk memperbaiki rata-rata skrining pada perempuan remaja sehingga komplikasi infeksi klamidia dapat dicegah. Penulis juga merekomendasikan untuk meningkatkan pengetahuan dokter dapat membantu memperbaiki konsep yang salah tentang aktif seksual pada perempuan remaja U.S, prevalensi infeksi klamidia tanpa gejala, juga klinik dan biaya yang didapat walaupun prevalensinya rendah.


sumber: SHOP Talk: School Health Opportunities and Progress Bulletin Volume 6, Number 4 May 4, 2001

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan