OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Keberanian dan Ketabahan Mereka Patut Dipuji

REMAJA berusia 16 tahun itu terlihat sangat tabah dan berani. Padahal, saat dirinya dinyatakan positif menderita virus HIV, dunia seakan berakhir. Tapi kini keberanian mereka berbagi pengalaman di depan umum sungguh membuat hati banyak orang terharu sekaligus takjub.

Rudy, sebut saja demikian nama remaja yang Sabtu (17/01) menghadiri acara Ngobrol Bareng Remaja mengenai HIV/AIDS, Seks, dan Drugs di Gedung Yustinus, Kampus Semanggi, Universitas Atma Jaya, tampak tidak berbeda dengan remaja-remaja lainnya.

Dengan keberanian luar biasa dia mengatakan bahwa pada usia 14 tahun dia sudah menggunakan narkoba dengan cara suntik. Jarum yang tidak steril itulah yang menyebabkan penularan virus HIV yang kini mulai menggerogoti kekebalan tubuhnya. ''Sejak usia 14 tahun saya sudah memakai narkoba. Dua tahun setelah menggunakan narkoba suntik, saya mulai merasakan sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mengatakan saya positif HIV,'' katanya.

Saat vonis itu dijatuhkan, Rudy merasa hidup telah berakhir. Untunglah keluarganya terus memberi semangat sehingga Rudy bisa hidup normal dan tahan menghadapi sikap masyarakat yang masih sering mengucilkan. ''Tapi terus terang sampai sekarang saya masih sulit menghentikan penggunaan narkoba. Saya mencoba berhenti selama tiga bulan tetapi tidak mempan. Saya sekarang masih memakai narkoba,'' ujar Rudy dengan nada putus asa.

Kisah lain diungkapkan seorang ibu yang sebut saja bernama Wati. Dia menuturkan bahwa virus HIV yang bersarang di tubuhnya berasal dari suami. ''Saya sangat terpukul dengan status baru itu. Setiap saat dihinggapi kekhawatiran, apalagi ketika ada wabah malaria. Saya khawatir tertular, padahal kekebalan tubuh sudah menurun. Tapi yang paling membuat saya terpukul adalah perasaan dikucilkan oleh masyarakat, bahkan ketika dirawat di rumah sakit,'' tuturnya.

Perasaan dikucilkan itu sungguh membuat dirinya menderita, apalagi saat perusahaan tempatnya bekerja memutuskan pemutusan hubungan kerja karena mengetahui dirinya sudah tertular virus HIV.

''Rekan-rekan di perusahaan juga meminta saya meninggalkan tempat itu. Padahal, penularan HIV tidak bisa terjadi hanya dengan kita bersentuhan atau berbicara dengan penderita. Saya masih bisa bekerja seperti orang sehat. Menghadapi cobaan ini, saya berusaha tetap menjalani hidup dengan senyum. Banyak orang yang hidupnya lebih sulit dari saya,'' ujar Wati.

Pukulan psikologis juga dialami Rini. ''Saya malu sekali saat mengetahui menderita HIV. Saat berjalan di keramaian, saya merasa orang melihat saya seperti barang aneh. Saya sendiri jijik dengan diri sendiri. Pokoknya dunia serasa kiamat,'' katanya.

Untunglah Rini bisa mengatasi perasaan itu setelah tim pendamping dari LSM menjelaskan tentang seluk-beluk HIV/AIDS. ''Sekarang saya tidak perlu takut dan malu lagi. Saya semakin optimistis dapat hidup layak seperti orang-orang pada umumnya.''

Keberanian yang ditampilkan Rudy, Wati, dan Rini memang luar biasa. Tidak salah jika Fadjroel pembawa acara itu mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang berani. Keberanian orang-orang dengan HIV/AIDS (ODHA) ini patut diacungi jempol. Mereka berani membuka diri agar orang-orang tahu betul tentang HIV/AIDS sehingga tidak mengalami nasib seperti mereka. Dan tentu saja mereka menyimpan harapan besar agar keberadaan ODHA tidak dikucilkan lagi. Sebab penularannya hanya bisa terjadi dengan cara tertentu, misalnya seks, jarum yang tidak steril, dan lewat luka. ''Jadi, mereka tetap bisa hidup dengan normal,'' kata artis Nurul Arifin yang hadir juga dalam acara diskusi yang berlangsung sangat interaktif, dihadiri pelajar SMP dan SMU dari 100 sekolah di Jakarta itu. (Drd/M-3)

sumber: Media Indonesia Selasa, 20 Januari 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan