|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Keberanian dan
Ketabahan Mereka Patut Dipuji
REMAJA berusia 16 tahun itu
terlihat sangat tabah dan berani. Padahal, saat dirinya
dinyatakan positif menderita virus HIV, dunia seakan berakhir.
Tapi kini keberanian mereka berbagi pengalaman di depan umum
sungguh membuat hati banyak orang terharu sekaligus takjub.
Rudy, sebut saja demikian nama
remaja yang Sabtu (17/01) menghadiri acara Ngobrol
Bareng Remaja mengenai HIV/AIDS, Seks, dan Drugs di
Gedung Yustinus, Kampus Semanggi, Universitas Atma Jaya,
tampak tidak berbeda dengan remaja-remaja lainnya.
Dengan keberanian luar biasa
dia mengatakan bahwa pada usia 14 tahun dia sudah menggunakan
narkoba dengan cara suntik. Jarum yang tidak steril itulah
yang menyebabkan penularan virus HIV yang kini mulai
menggerogoti kekebalan tubuhnya. ''Sejak usia 14 tahun saya
sudah memakai narkoba. Dua tahun setelah menggunakan narkoba
suntik, saya mulai merasakan sakit. Setelah dilakukan
pemeriksaan, dokter mengatakan saya positif HIV,'' katanya.
Saat vonis itu dijatuhkan, Rudy
merasa hidup telah berakhir. Untunglah keluarganya terus
memberi semangat sehingga Rudy bisa hidup normal dan tahan
menghadapi sikap masyarakat yang masih sering mengucilkan. ''Tapi
terus terang sampai sekarang saya masih sulit menghentikan
penggunaan narkoba. Saya mencoba berhenti selama tiga bulan
tetapi tidak mempan. Saya sekarang masih memakai
narkoba,'' ujar Rudy dengan nada putus asa.
Kisah lain diungkapkan seorang
ibu yang sebut saja bernama Wati. Dia menuturkan bahwa virus
HIV yang bersarang di tubuhnya berasal dari suami. ''Saya
sangat terpukul dengan status baru itu. Setiap saat dihinggapi
kekhawatiran, apalagi ketika ada wabah malaria. Saya khawatir
tertular, padahal kekebalan tubuh sudah menurun. Tapi yang
paling membuat saya terpukul adalah perasaan dikucilkan oleh
masyarakat, bahkan ketika dirawat di rumah sakit,'' tuturnya.
Perasaan dikucilkan itu sungguh
membuat dirinya menderita, apalagi saat perusahaan tempatnya
bekerja memutuskan pemutusan hubungan kerja karena mengetahui
dirinya sudah tertular virus HIV.
''Rekan-rekan di perusahaan
juga meminta saya meninggalkan tempat itu. Padahal, penularan
HIV tidak bisa terjadi hanya dengan kita bersentuhan atau
berbicara dengan penderita. Saya masih bisa bekerja seperti
orang sehat. Menghadapi cobaan ini, saya berusaha tetap
menjalani hidup dengan senyum. Banyak orang yang hidupnya
lebih sulit dari saya,'' ujar Wati.
Pukulan psikologis juga dialami
Rini. ''Saya malu sekali saat mengetahui menderita HIV. Saat
berjalan di keramaian, saya merasa orang melihat saya seperti
barang aneh. Saya sendiri jijik dengan diri sendiri. Pokoknya
dunia serasa kiamat,'' katanya.
Untunglah Rini bisa mengatasi
perasaan itu setelah tim pendamping dari LSM menjelaskan
tentang seluk-beluk HIV/AIDS. ''Sekarang saya tidak perlu
takut dan malu lagi. Saya semakin optimistis dapat hidup layak
seperti orang-orang pada umumnya.''
Keberanian yang ditampilkan
Rudy, Wati, dan Rini memang luar biasa. Tidak salah jika
Fadjroel pembawa acara itu mengatakan bahwa mereka adalah
orang-orang yang berani. Keberanian orang-orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) ini patut diacungi jempol. Mereka berani
membuka diri agar orang-orang tahu betul tentang HIV/AIDS
sehingga tidak mengalami nasib seperti mereka. Dan tentu saja
mereka menyimpan harapan besar agar keberadaan ODHA tidak
dikucilkan lagi. Sebab penularannya hanya bisa terjadi dengan
cara tertentu, misalnya seks, jarum yang tidak steril, dan
lewat luka. ''Jadi, mereka tetap bisa hidup dengan normal,''
kata artis Nurul Arifin yang hadir juga dalam acara diskusi
yang berlangsung sangat interaktif, dihadiri pelajar SMP dan
SMU dari 100 sekolah di Jakarta itu. (Drd/M-3)
sumber:
Media Indonesia Selasa, 20 Januari 2004
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |