OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Rapat KPA Lahirkan 'Kesepakatan Sentani' untuk Membendung Penyebaran HIV/AIDS

Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dengan enam gubernur provinsi prioritas dalam penanggulangan bahaya HIV/AIDS di Indonesia melahirkan 'Kesepakatan Sentani'. Kesepakatan itu akan dijadikan landasan gerakan nasional untuk membendung penyebaran virus mematikan itu di Indonesia, khususnya enam provinsi prioritas.

Demikian hasil rapat koordinasi KPA, kemarin di Sentani, Jayapura, Papua. Pada acara yang dibuka dan ditutup Menko Kesra Jusuf Kalla itu hadir wakil dari enam provinsi, Menkes Achmad Sujudi, Menag Said Agil Husin Al Munawar, Mensos Bachtiar Chamsah, Ketua Komisi VII DPR RI Sanusi Tambunan, Gubernur Papua JP Solossa, dan Wakil Gubernur Bali I GN Alit Kesuma Kelakan, serta sejumlah pejabat pemerintah pusat/daerah, dan LSM setempat.

Menurut Jusuf Kalla, bila Indonesia tidak mau seperti masyarakat Uganda dan Afrika Selatan dalam hal penularan HIV/AIDS (Human Immunodefiecency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome), tiap daerah harus lebih meningkatkan penanggulangan penyebaran virus mematikan itu. Kita harus berbuat lebih baik dari yang dibuat Uganda dan Afrika Selatan, bila tidak mau seperti mereka,'' tegas Menko Kesra, Minggu malam (18/1).

Pada rapat koordinasi yang berlangsung 18-19 Januari itu, Jusuf Kalla juga mempertanyakan apakah implementasi dari kebijakan dan program KPA sudah berlangsung baik sampai ke tingkat daerah-daerah, terutama di enam wilayah provinsi prioritas yang keadaan penyebaran HIV/AIDS-nya sudah mengkhawatirkan.

Sementara itu, rapat koordinasi KPA yang berakhir kemarin petang menetapkan 'Kesepakatan Sentani' sebagai landasan program Gerakan Nasional 2004-2005. Gerakan nasional tersebut untuk membendung tingkat penyebaran epidemi HIV/AIDS yang kini masih terkonsentrasi di enam provinsi, yaitu Papua, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Riau agar tidak menyebar ke populasi umum.

Komitmen Sentani itu terdiri dari tujuh pasal, antara lain tentang kesepakatan untuk mempromosikan penggunaan kondom pada setiap aktivitas seksual berisiko dengan target pencapaian 50% pada 2005. Selain itu ada pasal-pasal tentang upaya pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntik, dan pengobatan HIV/AIDS, termasuk penggunaan ARV kepada minimum 5.000 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) pada tahun ini. Juga pasal tentang upaya pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, sebagai taruhan untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari keadaan yang lebih buruk lagi.

Menkes Achmad Sujudi menjelaskan, sampai Desember 2003 di Indonesia tercatat ada 1.371 penderita AIDS dan 2.720 pengidap HIV. Estimasi ODHA-nya pada 2002 mencapai 90.000-130.000 orang. Dan epidemi virus ini lebih terkonsentrasi di enam provinisi, yaitu Papua menduduki persentase tertinggi, menyusul DKI Jakarta, Riau, Jawa Barat dan Jawa Timur, berikut Bali.

Terintegrasi

Pada kesempatan yang sama, Mensos Bachtiar Chamsah mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS harus terintegrasi, baik di tingkat pusat maupun berbagai instansi/sektor di daerah. Untuk itu, Mensos berharap agar dana dekonsentrasi yang ada di daerah dapat dialokasikan bagi upaya-upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Sedangkan Menteri Agama Said Agil menyodorkan program dengan pendekatan kurikulum di setiap tingkatan pendidikan. Menag juga mengatakan pentingnya peran tokoh agama dalam mendorong gaya hidup sehat beragama di tengah-tengah masyarakat luas.

Menurut Ketua Harian KPA Daerah Papua Constan Karma, saat ini kasus HIV/AIDS di Papua Nugini enam kali lebih tinggi dari Papua. ''Maka dikhawatirkan Papua dalam waktu dekat akan sama seperti Uganda,'' katanya.

Menurut Constan, titik kulminasi dari grafik yang menunjukkan gerak pertumbuhan HIV/AIDS di Papua diperkirakan baru terjadi empat tahun lagi, sedangkan proses penyebarannya jauh lebih cepat dari efek penanggulangannya.

Rapat koordinasi KPA dengan enam gubernur provinsi prioritas penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia yang dilaksanakan dua hari itu ditutup Menko Kesra kemarin petang. Menurut rencana, rapat evaluasi Kesepakatan Sentani untuk pertama kalinya akan dilaksanakan dalam rapat yang sama di Riau tiga bulan mendatang. (MY/V-4)

sumber: Media Indonesia Selasa, 20 Januari 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan