|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Infeksi
Saluran Reproduksi: Masalah Dunia
Infeksi Saluran
Reproduksi (ISR) semakin disadari telah menjadi masalah
kesehatan dunia yang berdampak kepada laki-laki dan perempuan.
Dampaknya mulai dari kemandulan, kehamilan ektopik (di luar
kandungan), nyeri kronis pada panggul, keguguran, meningkatkan
risiko tertular HIV, hingga kematian.
1. Jenis-jenis
Infeksi Saluran Reproduksi (ISR)
Infeksi Saluran
Reproduksi (ISR) adalah terminologi umum yang digunakan untuk
tiga jenis infeksi pada saluran reproduksi:
• ISR
Endogen, mungkin merupakan jenis ISR yang pa-ling umum
di dunia. Timbul sebagai akibat dari pertumbuhan tidak
normal organisme yang seharusnya tumbuh normal di dalam
vagina. Masuk dalam jenis ini adalah vaginosis bakteri dan
kandidiasis yang dapat dengan mudah disembuhkan. ISR
endogen juga dihubungkan dengan persalinan prematur dan bayi
berat lahir rendah (BBLR).
• ISR
Iatrogenik atau yang berhubungan dengan prosedur medis
timbul ketika penyebab infeksi (bakteri atau mikroorganisme
lainnya) masuk ke dalam saluran reproduksi melalui prosedur
medis yang kurang/tidak steril. Misalnya induksi haid,
aborsi, pemasangan AKDR (IUD), saat melahirkan, atau bila
infeksi yang sudah ada di saluran reproduksi bagian bawah
menyebar melalui mulut rahim hingga ke saluran reproduksi
bagian atas. Beberapa gejala yang mungkin timbul antara
lain:
Ö Rasa sakit
di sekitar panggul
Ö Demam
tinggi secara tiba-tiba
Ö Menggigil
Ö Haid tidak
teratur
Ö Cairan
vagina yang tidak normal
Ö Timbul
rasa sakit saat berhubungan seksual
• Penyakit
Menular Seksual (PMS) disebabkan oleh virus, bakteri,
atau parasit mikroor-ganisme yang sebagian besar ditularkan
melalui hubungan seks dengan pasangan yang telah terinfeksi.
Beberapa di antaranya dapat diobati akan tetapi banyak pula
yang tidak dapat diobati seperti HIV/AIDS. PMS dapat
menyerang laki-laki maupun perempuan, dan juga dapat
ditularkan dari seorang ibu kepada anaknya selama kehamilan
dan persalinan.
2. Masalah
Dunia
• ISR telah
menyebar luas dan akan terus menjadi masalah kesehatan dunia.
Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada 1995
setiap tahunnya terdapat lebih dari 333 juta kasus baru PMS
yang dapat diobati. Dari perkiraan tersebut, trikomoniasis
menduduki angka tertinggi, yaitu 170 juta kasus baru per tahun.
Klamidia pada urutan kedua dengan 89 juta kasus baru/tahun,
kemudian gonore dengan 62 juta serta sifilis dengan 12 juta
kasus baru tiap tahunnya (UNAIDS/WHO, 1999b:6). Sementara itu,
WHO dan UNAIDS juga memperhitungkan bahwa pada akhir tahun
1999 sekitar 32,4 juta orang dewasa dan 1,2 juta anak-anak
akan hidup dengan HIV/AIDS (UNAIDS/WHO, 1999a:4). ISR yang
bukan ditularkan melalui hubungan seksual diyakini lebih
banyak lagi jumlahnya.
• Dampak
negatif ISR sangat serius, terutama bagi perempuan, antara
lain (Buzsa, 1999):
Ö Komplikasi
kehamilan
Ö Penyakit
Radang Panggul (PRP) yang dapat berkem-bang dan menyebabkan
kemandulan, kehamilan di luar kandungan, serta rasa sakit
yang berkepan-jangan.
Ö
Meningkatkan risiko penularan HIV.
Ö Banyak ISR
yang gejala dan tanda-tandanya tidak dirasakan, terutama
pada perempuan, hingga ter-lambat untuk menghin-dari
kerusakan pada organ reproduksi.
Ö 30-70%
kasus Human Papilloma Virus (HPV) berakhir dengan
kanker mulut rahim (serviks) yang merupakan kanker
ter-banyak yang ditemukan pada perempuan, yaitu 370.000
kasus baru tiap tahunnya, dan 80% di antaranya di
negara berkembang.
• ISR dan
berbagai penyakit yang ditimbulkannya tidak hanya berpengaruh
terhadap kesehatan tetapi juga tingkat produktivitas dan
kualitas hidup perempuan maupun laki-laki, yang pada akhirnya
seluruh masyarakat.
• ISR
tidak seperti infeksi lainnya, mereka sangat lekat dengan
stigma dan merefleksikan adanya ketidaksetaraan antara
perempuan dan laki-laki.
3. Pencegahan
• Strategi
terbaik adalah mencegah infeksi baru dengan memutus jalur
penularannya.
• ISR endogen
dapat dicegah melalui peningkatan kebersihan individu (misalnya
dengan menghindari penggunaan vaginal douching atau
pembasuh/pembersih vagina). Dampak negatifnya dapat dikurangi
melalui peningkatan akses pada fasilitas pelayanan kesehatan
yang bermutu dan promosi perilaku mencari pengobatan ke
pelayanan kesehatan.
• ISR
iatrogenik dapat dicegah melalui sterilisasi peralatan medis
yang digunakan, kedisiplinan untuk mengikuti protokol standar
penggunaan peralatan yang steril selama pemeriksaan, serta
skrining atau pengobatan terhadap ISR sebe-lum melaksanakan
prosedur medis.
• PMS dapat
dicegah dengan menghindari hubungan seks atau mengadopsi
strategi perilaku "seks yang aman", termasuk
perilaku monogami, seks tanpa penetrasi (seks oral), dan
penggunaan kondom pria dan/atau kondom wanita yang benar dan
konsisten.
Referensi
Haberland,
Nicole dkk. "Case Finding and Case Management of
Chlamydia and Gonorrhea Infections Among Women: What We Do and
Do Not Know" dalam the Robert H. Ebert Program on
Critical Issues in Reproductive Health. New York:
Population Council, 1999.
Buzsa, Joanna. Reproductive
Tract Infections: A Set of Factsheet. Bangkok: Population
Council, 1999.
Tsui, Amy. O.,
Judith N. Wasserheit, dan John G. Hagaa (eds). Reproductive
Health in Developing Countries: Expanding Dimensions, Building
Solutions. Washington, D.C.: National Academy Press, 1997.
United Nations.
Summary of the Programme of Action of the International
Conference on Population and Development. New York: United
Nations, 1995.
UNAIDS/WHO. AIDS
Epidemic Update: December 1999. Geneva: UNAIDS/WHO, 1999a.
UNAIDS/WHO. Sexually
Transmitted Diseases: Policies and Principles for Prevention
and Care. Geneva: UNAIDS/WHO, 1999b.
Artikel yang berhubungan:
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |