|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Infeksi
Saluran Reproduksi dan Keluarga Berencana
Infeksi Saluran
Reproduksi (ISR) sangat berhubungan dengan isu Keluarga
berencana (KB). Gejala umum dari ISR, seperti keputihan, rasa
sakit saat berhubungan seks, ataupun penyakit radang panggul (PRP),
dapat disalahartikan sebagai efek samping penggunaan alat
kontrasepsi yang dapat mengakibatkan klien KB mengganti metode
kontrasepsi yang digunakan atau bahkan sama sekali
menghentikan penggunaannya.
ISR dan Sikap Masyakarat
terhadap Metode Kontrasepsi
¨ Gejala ISR
mungkin berhubungan dengan metode kontrasepsi dan pada
akhirnya dapat mengubah sikap seseorang terhadap penggunaan
alat kontrasepsi.
¨ Metode KB
tertentu dapat menimbulkan risiko ISR atau memperburuk ISR
yang telah ada sebelumnya.
¨ Metode KB
yang paling efektif mencegah kehamilan yang tidak diinginkan,
belum tentu merupakan metode pencegahan penyakit menular
seksual (PMS) yang paling efektif.
¨ Semua ini
mempengaruhi metode penyediaan pelayanan dan pemberian
konseling untuk individu dan pasangan.
PMS dan
Kontrasepsi
¨ Metode KB
yang paling efektif belum tentu merupakan metode pencegahan
penularan PMS yang efektif pula.
¨ Metode
kontrasepsi yang paling efektif untuk mencegah kehamilan
adalah: sterilisasi pria dan wanita, susuk KB, Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)/IUD, suntik, dan pil. Namun,
tidak satupun di antaranya yang dapat melindungi dari
penularan PMS.
¨ Metode
kontrasepsi yang paling efektif mencegah penularan PMS adalah
kondom untuk laki-laki dan wanita. Diafragma dengan spermisida
kemungkinan dapat juga digunakan untuk mencegah penularan PMS
walaupun efektivitasnya masih dipertanyakan, terutama PMS yang
disebabkan oleh virus dan parasit.
¨ Konselor dan
petugas kesehatan harus membantu individu dan pasangannya
dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk mencegah
kehamilan dan melindungi diri dari PMS.
¨ Jalan keluar
yang direkomendasikan adalah strategi "proteksi ganda"
yaitu menggunakan sebuah metode kontrasepsi yang efektif
membatasi kehamilan dan dalam waktu bersamaan juga menggunakan
kondom (pria atau wanita) untuk melindungi dari PMS.
¨ Alternatif
lainnya adalah menggunakan kondom sebagai metode kontrasepsi
utama yang dilengkapi dengan kontrasepsi darurat (emergency
contraception) bila terjadi kerusakan kondom.
Pelayanan yang
Terpadu
Banyak sekali
keuntungan yang akan didapatkan apabila pelayanan ISR
dipadukan ke dalam pelayanan KB karena keterkaitan antara ISR
dan KB.
¨ Umumnya
klien KB adalah perempuan seksual aktif yang berusia 15-44
tahun (usia reproduktif). Mereka juga berisiko tertular PMS.
Namun, mengintegrasikan pelayanan ISR yang terintegrasi dengan
klinik KB kemungkinan tidak dapat menjangkau kelompok risiko
lainnya seperti remaja, perempuan yang belum menikah, pekerja
seks, ibu yang mengalami komplikasi kehamilan, dan laki-laki.
¨ Pemasangan
AKDR tidak boleh dilakukan pada perempuan yang telah
terinfeksi ISR. Oleh karena itu, petugas kesehatan harus
menyadari dan mewaspadainya.
¨ Apabila
upaya skrining dan pengobatan tidak mungkin dilakukan, petugas
KB dapat membimbing klien KB untuk melakukan self-assessment
of risk atau upaya menilai sendiri risiko tertular PMS.
Melalui konseling tentang perilaku dan riwayat seksual,
perempuan dapat mengidentifikasi apakah mereka berada pada
kelompok risiko tinggi untuk tertular PMS atau bukan.
Berdasarkan informasi yang benar dan lengkap dari petugas KB,
klien dapat memilih metode kontrasepsi yang tepat sekaligus
melindungi dirinya dari PMS.
Referensi
Buzsa, Joanna. Reproductive
Tract Infections: A Set of Factsheet. Bangkok: Population
Council, 1999.
Artikel yang berhubungan:
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |