|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Waspadai Peningkatan Jumlah Pengguna Narkoba Suntikan!
Oleh: dr. Samsuridjal Djauzi Kelompok Studi Khusus AIDS Fakultas Kedokteran UI/RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Jumlah pengguna narkoba suntikan di Indonesia cenderung meningkat.
Indonesia ternyata telah merupakan salah satu negara di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara yang jumlah pengguna narkoba suntikannya telah melampaui 100.000 orang selain Banglades, India, Iran, Pakistan, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam.
Pengguna narkoba suntikan di Indonesia pada mulanya hanya terdapat di kota besar, tetapi sekarang juga sudah didapati di kota-kota kecil di seluruh Indonesia. Bahkan, sejak tiga tahun terakhir ini kasus HIV/AIDS baru yang berobat di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo 65 persen berasal dari kalangan pengguna narkoba suntikan. Sebagain besar adalah remaja yang berumur antara 15 sampai 25 tahun.
Kecenderungan peningkatan pengguna narkoba suntikan ini rupanya terjadi juga di seluruh dunia. Pada akhir tahun 2003 diperkirakan terdapat 13,2 juta pengguna narkoba suntikan di dunia. Sekitar 22 persen di antaranya hidup di negara maju, sedangkan sisanya berada di negara yang sedang berkembang atau sedang mengalami transisi.
Di Eropa Barat terdapat sekitar 1 juta sampai 1,4 juta pengguna narkoba suntikan (9,41 persen), sedangkan di Eropa Timur dan Asia Tengah mencapai 2,3 sampai 4,1 juta (24,18 persen). Di Asia Selatan dan Asia Tenggara jumlahnya jauh lebih banyak lagi, yaitu mencapai 5,3 juta (25,36 persen). Sementara di Asia Timur dan Pasifik empat juta orang (17,66 persen), Afrika Utara dan Timur Tengah 0,6 juta orang, Amerika Latin 1,3 juta, Amerika Utara 1,4 juta, Australia dan Selandia Baru hanya sekitar 298.000 orang.
Kekhawatiran terhadap peningkatan jumlah pengguna narkoba suntikan di dunia terungkap pada pertemuan WHO di Lisabon 13 sampai 15 Juni 2005 yang lalu. Pada pertemuan ini negara Rusia, Uzbekistan, Portugal, dan beberapa negara lain mengungkapkan pengalaman mereka dalam menanggulangi permasalahan penggunaan narkoba suntikan ini, terutama dari segi intervensi medik. Pengalaman tersebut penting bagi kita untuk menyempurnakan langkah dalam upaya penanggulangan narkoba di Tanah Air.
Ketergantungan narkoba
Penggunaan narkoba dapat menimbulkan ketergantungan. Ketergantungan terhadap narkoba ternyata tidak mudah diatasi.
Meski cukup banyak remaja yang berjuang untuk keluar dari ketergantungan narkoba, acap kali mereka jatuh kembali. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan program substitusi obat dengan menggunakan metadon. Diharapkan dengan pemberian metadon ini penggunaan narkoba suntikan dapat dikurangi atau dihentikan. Penggunaan narkoba suntikan amat berisiko menularkan penyakit Hepatitis C dan HIV.
Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo mendapatkan angka kekerapan Hepatitis C di kalangan pengguna narkoba suntikan mencapai 77 persen. Sedangkan kekerapan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia berkisar antara 60 persen sampai 90 persen.
Dengan demikian, remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan berisiko tertular Hepatitis C dan HIV akibat penggunaan jarum suntik bersama. Selain itu jarum yang digunakan untuk menggunakan narkoba biasanya tidak steril sehingga juga dapat menimbulkan infeksi paru dan jantung (endokarditis). Mungkinkah remaja yang mengalami berbagai masalah kesehatan ini dipulihkan kembali sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif?
Obat Antiretroviral (ARV) telah mengubah perjalanan penyakit HIV/AIDS. Sebelum era ARV mereka yang terinfeksi HIV setelah lima sampai delapan tahun akan masuk ke stadium AIDS. Sedangkan mereka yang telah berada dalam stadium AIDS biasanya akan meninggal setelah enam bulan sampai satu tahun. Berkat ARV dewasa ini banyak orang yang terinfeksi HIV dapat tetap produktif. <
Mungkinkah manfaat obat ARV juga akan dapat dinikmati oleh remaja pengguna narkoba suntikan yang terinfeksi HIV?
WHO menegaskan bahwa riwayat penggunaan narkoba suntikan tidak menjadi halangan untuk mengakses obat ARV. Dengan persiapan yang baik serta upaya dukungan yang memadai, hasil terapi ARV pada pengguna narkoba suntikan akan sama baiknya dengan yang bukan pengguna narkoba . Layanan metadon dapat mendukung kepatuhan berobat karena itu layanan ini dapat diperbanyak di negara yang mempunyai masalah narkoba suntikan. Di Indonesia layanan metadon baru terbatas di Jakarta dan Bali dan layanan tersebut di kota-kota tadi masih sedikit. Rusia mempunyai layanan AIDS dan layanan narkoba secara terpisah, tetapi dengan kerja sama yang baik kedua layanan tersebut mampu menyediakan layanan yang terpadu.
Mendukung pemulihan
Setelah beban fisik pengguna narkoba suntikan dapat diatasi, maka masih ada beban psikologis dan sosial.
Beban psikologis dan sosial ini kadang-kadang amat berat sehingga dapat menyebabkan remaja kambuh kembali menggunakan narkoba suntikan.
Oleh karena itu, perlu diwujudkan lingkungan yang mendukung. Di Indonesia lingkungan yang paling penting adalah keluarga. Kesediaan keluarga untuk menerima remaja yang pernah menggunakan narkoba suntikan di tengah keluarga merupakan dukungan yang amat berharga. Sebagian remaja dapat meneruskan pendidikannya dan memperoleh pekerjaan. Namun, sebagian lagi tak mungkin meneruskan sekolah dan harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus berjuang untuk hidup dengan bekal pendidikan yang terbatas.
Masyarakat dapat memberi tempat pada remaja tersebut agar mereka dapat produktif dan mempersiapkan diri untuk mandiri dalam kehidupan ini. Upaya yang dilakukan oleh Yayasan Pelita Ilmu di Kampung Bali, Jakarta Pusat, merupakan upaya yang sederhana seperti mendirikan bengkel cuci motor untuk remaja pria dan kursus membuat kue bagi remaja putri. Namun, upaya sederhana ini dapat menjadi bekal permulaan untuk memulai hidup baru menjadi anggota masyarakat yang produktif.
Peran lembaga keagamaan seperti yang ditunjukkan oleh Pesantren Inabah di Tasikmalaya, yang sejak tahun 1970 memberikan dukungan terhadap remaja pengguna narkoba, dapat menjadi modal bahwa lembaga kemasyarakatan kita sebenarnya peduli terhadap permasalahan ini. Hendaknya kita dapat meningkatkan berbagai potensi yang ada di tengah masyarakat. Kita perlu bergandeng tangan untuk mencegah remaja menggunakan narkoba.
Adapun bagi remaja yang telah menggunakan diperlukan layanan yang terpadu untuk membawa mereka kembali ke tengah masyarakat. Layanan tersebut rumit dan memerlukan upaya jangka panjang, tetapi semua upaya itu patut kita kerjakan karena sebagian masa depan Indonesia ada di tangan mereka
mereka.
sumber:
Kompas Cyber Media
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |