|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Satu
dari Dua Pengguna Narkoba Suntik di Jakarta Positif HIV
Hasil tes Badan AIDS
Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNAIDS) terhadap para pengguna
narkoba suntik di Jakarta menunjukkan bahwa satu dari dua
pengguna yang dites HIV didapati positif terinveksi virus
tersebut.
Hasil penelitian UNAIDS yang
dilaporkan dalam Kongres Internasional AIDS Asia-Pasifik
(ICAAP) di Kobe, Jepang, Jumat (1/7) itu, juga menunjukkan
bahwa 70 persen pengguna narkoba suntik di Pontianak,
Kalimantan Barat, mengidap virus HIV.
Secara keseluruhan, delapan
juta pengidap HIV hidup di wilayah Asia-Pasifik. Angka
tersebut merupakan kedua terbesar setelah wilayah Sub-Sahara
Afrika.
Masih menurut keterangan
tertulis UNAIDS yang diterima Antara, Sabtu, kawasan
Asia Timur menghadapi tingkat penyebaran yang paling cepat di
dunia, berdasarkan cepatnya penyebaran HIV di China,
Indonesia, dan Vietnam.
UNAIDS menyatakan, meski
epidemi AIDS terutama terpusat pada kelompok yang rentan di
hampir seluruh wilayah di Asia, namun HIV bisa saja menyebar
ke kelompok luas kecuali ada tindakan tegas yang diambil.
"Resiko penyebaran AIDS
yang lebih luas di Asia dan Pasifik saat ini lebih tinggi
dibandingkan dengan periode sebelumnya," kata Direktur
Ekskutif UNAIDS Peter Piot dalam kongres tersebut.
Piot menjelaskan, "Rasio
penggunaan kondom yang rendah, terbatasnya akses untuk tes
HIV, ketidaksetaraan gender, penyebaran penggunaan narkoba
suntik, dan pekerja seks memberikan kontribusi berbahaya yang
bisa memicu cepatnya peningkatan epidemi."
"Jika upaya-upaya
pencegahan dapat ditingkatkan, enam juta orang yang terinfeksi
HIV baru bisa dicegah penularannya di Asia-Pasifik hingga lima
tahun ke depan. Namun jika tidak diberikan perhatian khusus,
maka bakal ada 12 juta orang baru yang terinfeksi HIV,"
katanya.
UNAIDS menyatakan epidemi AIDS
berjalan lebih cepat dibandingkan dengan respons pencegahan
yang dilakukan, meskipun sesungguhnya terdapat kemauan dalam
beberapa tahun terakhir dengan adanya peningkatan komitmen
potilik terhadap AIDS, pertambahan dana untuk progam-progam
memerangi AIDS, keterlibatan yang semakin aktif dari sektor
swasta, serta meningkatnya akses perawatan bagi pasien HIV.
Laporan terbaru UNAIDS
menunjukkan progam-progam pencegahan dan perawatan tidak
menjangkau kelompok yang paling membutuhkan, seperti pekerja
seks, homoseksual, penggunan narkoba suntik, dan pekerja
migran.
Sebagai contoh, progam
pencegahan HIV di Asia Selatan dan Asia Tenggara pada tahun
2003 hanya menjangkau 19 persen pekerja seks, lima persen
pengguna narkoba suntik, dan kurang dari 2 persen kaum
homoseksual.
Menurut perkiraan terakhir yang
diterbitkan oleh UNAIDS dan WHO, dari 1,1 juta orang yang
membutuhkan perawatan antiretroviral (ARV) hanya 14 persen
yang menerimanya.
Selain itu, UNAIDS menekankan
bahwa perempuan Asia juga mengalami peningkatan kerentanan
terhadap HIV. Ketidaksetaraan gender bersama-sama dengan
masalah HIV menempatkan perempuan dan gadis Asia dalam bahaya
yang berlipat.
Data menunjukkan 30 persen
gadis Asia menikah pada usia di bawah 15 tahun dan 62 persen
lagi malah menikah sebelum genap 18 tahun, dengan pria yang
usianya jauh lebih tua.
Kendala dana adalah masalah
berikutnya. Meski dana untuk memerangi AIDS di wilayah Asia
Pasifik diharapkan bisa meningkat dalam kurun waktu tahun
2003-2007, yakni dari 681juta dolar menjadi satu miliar dolar
AS, namun ternyata jumlah tersebut masih belum cukup untuk
memperlambat laju perkembangan wabah tersebut.
Menurut UNAIDS, dana yang
dibutuhkan hingga tahun 2007 adalah lima miliar dolar.
"Banyak dana yang tersedia untuk AIDS tapi tidak
teralokasi dengan baik dan menjangkau kelompok-kelompok yang
rentan HIV," kata Piot sebagaimana dikutip dalam
pernyataan UNAIDS.
Ia menambahkan, "Selama
progam-progam pencegahan tidak mendapatkan dana yang cukup,
kita tidak akan bisa mengalahkan epidemi AIDS. Itu sebabnya
kita harus berbuat semaksimal mungkin untuk membuat dana itu
bermanfaat."
Dalam kongres ICAAP, UNAIDS
mengajukan empat butir rekomendasi kepada para pemimpin
Asia-Pasifik, dengan harapan epidemi AIDS di Asia-Pasifik bisa
dicegah.
Pertama ialah menempatkan
masalah AIDS di Asia-Pasifik sebagai prioritas global, seperti
apa yang berlaku di Benua Afrika.
Kedua, mewujudkan komitmen
menjadi aksi yang nyata, AIDS harus dilihat sebagai krisis
yang luar biasa dan membutuhkan penanganan darurat.
Rekomendasi ketiga adalah
mengadopsi pendekatan yang komprehensif dan terpusat pada
peningkatan progam pencegahan HIV serta perawatan terhadap
kelompok-kelompok yang rentan terinfeksi.
Terakhir ialah dengan
memastikan bahwa masyarakat sipil merupakan bagian dari progam
respons nasional terhadap AIDS, termasuk organisasi keagamaan,
kelompok Orang Hidup Dengan HIV/AIDS (ODHA), serta pihak
swasta. (Ant/OL-2)
sumber:
Media Indonesia Online 02 Juli
2005 16:24 WIB
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |