|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Narkoba Suntik
Kontribusi Penyebaran HIV di Indonesia
Kobe, Jepang, 1 Juli 2005 – Hasil tes terhadap para pengguna
narkoba suntik di Jakarta menunjukkan bahwa satu dari dua
pengguna narkoba suntik yang dites HIV, ditemukan positif
terinfeksi virus tersebut. Sementara di Pontianak, Kalimantan
Barat, 70% dari pengguna narkoba suntik yang meminta untuk di
tes HIV, juga ditemukan telah terinfeksi virus tersebut.
Demikian menurut laporan UNAIDS yang disampaikan pada Kongres
Internasional AIDS Asia-Pasifik atau ICAAP (International
Congress on AIDS in Asia and the Pacific), yang dibuka hari
ini di Kobe, Jepang.
Secara total, terdapat 8 juta orang yang hidup dengan HIV di
wilayah Asia-Pasifik. Angka tersebut adalah yang terbesar
kedua setelah wilayah Sub-Sahara Afrika. Asia Timur menghadapi
tingkat penyebaran yang paling cepat di dunia, disebabkan oleh
cepatnya penyebaran HIV di Cina, Indonesia dan Vietnam.
Meskipun epidemi AIDS terutama berkonsentrasi pada kelompok
yang rentan di hampir seluruh wilayah di Asia, HIV bisa
menyebar ke kelompok masyarakat luas kecuali ada tindakan
tegas yang dilakukan, demikian menurut laporan UNAIDS dalam
kongres tersebut.
“Resiko penyebaran AIDS yang lebih luas di Asia dan Pasifik
saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya,” kata
Dr. Peter Piot, Executive Director UNAIDS, dalam sambutan pada
saat pembukaan kongres. “Rasio penggunaan kondom yang
rendah, terbatasnya akses untuk tes HIV, ketidaksetaraan
gender, penyebaran penggunaan narkoba suntik dan pekerja seks
memberikan kontribusi berbahaya yang dapat memicu cepatnya
peningkatan epidemi. Jika upaya-upaya pencegahan dapat di
tingkatkan, 6 juta infeksi HIV baru dapat di cegah dalam lima
tahun kedepan di wilayah Asia-Pasifik. Jika negara-negara Asia
tidak memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini, akan
ada 12 juta orang baru yang akan terinfeksi,” lanjut Dr.
Piot.
Menurut laporan UNAIDS, epidemi AIDS berjalan lebih cepat
dibandingkan dengan respons pencegahan yang dilakukan,
meskipun sesungguhnya terdapat kemajuan dalam beberapa tahun
terakhir dengan adanya peningkatan komitmen politik terhadap
AIDS, pertambahan dana untuk program-program AIDS,
keterlibatan yang semakin aktif dari sektor swasta, dan
meningkatnya akses terhadap perawatan HIV.
Lebih lanjut dalam laporan UNAIDS, program-program pencegahan
tidak menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Kelompok yang
rentan, seperti pekerja seks, kelompok homoseksual, pengguna
narkoba suntik, pekerja migran, dan kelompok usia muda tidak
memiliki akses yang cukup untuk pelayanan pencegahan dan
perawatan. Sebagai contoh, di Asia Selatan dan Asia Tenggara
di tahun 2003, program pencegahan HIV hanya menjangkau 19 %
pekerja seks, 5 % pengguna narkoba suntik, dan tidak lebih
dari 2 % kelompok homoseksual. Menurut estimasi terakhir yang
diterbutkan oleh UNAIDS dan WHO, dari 1.1 juta orang yang
membutuhkan perawatan antiretroviral (ARV) hanya 14 % yang
menerima.
Perempuan di Asia juga mengalami peningkatan kerentanan
terhadap HIV. Ketidaksetaraan gender bersama-sama dengan
masalah HIV menempatkan perempuan dan gadis Asia dalam bahaya
yang berlipat. Data menunjukkan, 30 % dari gadis Asia menikah
sebelum berusia 15 tahun, dan 62 % sebelum 18 tahun, dengan
suami yang usianya jauh lebih dewasa.
Meskipun dana untuk AIDS di wilayah Asia-Pasifik diharapkan
meningkat dalam kurun waktu 2003 dan 2007, dari kira-kira
US$681 juta ke US$1.6 milyar, jumlah tersebut ternyata belum
cukup untuk memperlambat laju perkembangan epidemi. Menurut
laporan, jumlah dana yang dibutuhkan tahun 2007 diperkirakan
sebesar US$ 5 milyar. “Banyak dana yang tersedia untuk AIDS
tapi tidak teralokasi dengan baik dan tidak menjangkau
kelompok yang rentan terhadap HIV,” kata Dr. Piot. Lebih
lanjut Dr. Piot menegaskan, “selama program-program
pencegahan tidak mendapatkan cukup dana, kita tidak akan bisa
mengalahkan epidemi AIDS. Kita harus berbuat semaksimal
mungkin untuk membuat dana tersebut bermanfaat.”
Dalam laporannya, UNAIDS mengajak para pemimpin untuk
mempertimbangkan empat rekomendasi utama yang dapat memberikan
harapan bagi upaya pencegahan epidemi AIDS di Asia-Pasifik.
Rekomendasi tersebut adalah:
1. Menempatkan AIDS di Asia dan Pasifik menjadi isu prioritas
global, sama halnya yang berlaku di Afrika.
2. Merealisasikan komitmen menjadi aksi yang nyata. AIDS harus
dilihat sebagai krisis yang luar biasa dan membutuhkan
penanganan darurat (emergency response).
3. Mengadopsi pendekatan yang komprehensif yang terfokus pada
peningkatan program pencegahan HIV dan perawatan. Upaya yang
maksimal harus dilakukan untuk menjangkau kelompok masyarakat
yang rentan, termasuk pekerja seks dan pelanggannya, kelompok
yang berpindah atau migran, homoseksual, pengguna narkoba
suntik, dan kelompok usia muda.
4. Memastikan bahwa civil society merupakan bagian dari
program respons nasional terhadap AIDS, termasuk organisasi
keagamaan, kelompok HIV positif (ODHA), elemen kelompok
masyarakat lainnya dan pihak swasta.
sumber:
Siaran Pers UNAIDS
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |