|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Odha Boleh Punya Anak
Orang dengan HIV/AIDS (Odha)
bisa memperoleh keturunan melalui program inseminasi maupun
bayi tabung agar keturunannya bisa terhindar dari penularan
HIV/AIDS.
"Setelah itu, kata Noroyono, proses kelahiran harus
melalui bedah caesar, dan ibu tidak boleh memberi ASI (air
susu ibu) kepada bayinya. ASI boleh diganti susu
formula," kata spesialis kandungan dan kebidanan dr
Noroyono Wibowo dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, di Jakarta
Jumat (15/7), dalam seminar bertema Kesehatan reproduksi bagi
orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Jadi, lanjutnya, meski Odha dimungkinkan memiliki anak,
sebaiknya tidak melalui kehamilan alami. Dalam seminar yang
diselenggarakan Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS dan
Reproduksi (Sandar), Noroyono mengatakan bayi yang terlanjur
lahir dari ODHA juga harus diberi obat ARV (antiretroviral)
untuk pencegahan.
"Langkah-langkah itulah yang saat ini dilakukan di
berbagai negara di dunia. Sayangnya, tingkat keberhasilannya
hanya 2%-4%. Jadi, risiko penularan orang tua ke anak masih
tetap besar.
Noroyono menerangkan, ada beberapa langkah yang harus
diperhatikan pasangan Odha saat merencanakan kehamilan.
Pertama, matang mengambil keputusan saat kondisi kesehatan
relatif baik. Misalnya, rendahnya angka VL dan tingginya CD4.
Keduanya merupakan parameter tingkat keparahan HIV/AIDS yang
di Indonesia umumnya dapat diketahui melalui tes PCR
(polymerase chain reaction). Tes ini dijalani seseorang yang
menderita HIV/AIDS.
Selain itu, apabila dalam tubuh pasangan suami istri terdapat
infeksi toksoplasma, tuberkulosis (Tb), kandidiasis dan
lain-lain, harus diobati dulu.
Lebih lanjut, Noroyono mengatakan dalam persiapan kehamilan
Odha perempuan harus melakukan pencucian vagina dengan
antiseptik di mulut rahim (serviks) untuk menghilangkan
kandungan virus, sebab secara medis daerah tersebut merupakan
tempat sangat disukai berbagai virus termasuk HIV/AIDS.
Sedangkan bagi pria perlu melakukan pencucian sperma agar
bebas dari virus HIV/AIDS.
Bila tidak ada masalah, barulah proses kehamilan buatan
dilakukan. (Nik/H-1)
sumber: Media
Indonesia Online, Senin, 18 Juli 2005
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |