OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Odha Boleh Punya Anak

Orang dengan HIV/AIDS (Odha) bisa memperoleh keturunan melalui program inseminasi maupun bayi tabung agar keturunannya bisa terhindar dari penularan HIV/AIDS.

"Setelah itu, kata Noroyono, proses kelahiran harus melalui bedah caesar, dan ibu tidak boleh memberi ASI (air susu ibu) kepada bayinya. ASI boleh diganti susu formula," kata spesialis kandungan dan kebidanan dr Noroyono Wibowo dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, di Jakarta Jumat (15/7), dalam seminar bertema Kesehatan reproduksi bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Jadi, lanjutnya, meski Odha dimungkinkan memiliki anak, sebaiknya tidak melalui kehamilan alami. Dalam seminar yang diselenggarakan Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS dan Reproduksi (Sandar), Noroyono mengatakan bayi yang terlanjur lahir dari ODHA juga harus diberi obat ARV (antiretroviral) untuk pencegahan.

"Langkah-langkah itulah yang saat ini dilakukan di berbagai negara di dunia. Sayangnya, tingkat keberhasilannya hanya 2%-4%. Jadi, risiko penularan orang tua ke anak masih tetap besar.

Noroyono menerangkan, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan pasangan Odha saat merencanakan kehamilan. Pertama, matang mengambil keputusan saat kondisi kesehatan relatif baik. Misalnya, rendahnya angka VL dan tingginya CD4. Keduanya merupakan parameter tingkat keparahan HIV/AIDS yang di Indonesia umumnya dapat diketahui melalui tes PCR (polymerase chain reaction). Tes ini dijalani seseorang yang
menderita HIV/AIDS.

Selain itu, apabila dalam tubuh pasangan suami istri terdapat infeksi toksoplasma, tuberkulosis (Tb), kandidiasis dan lain-lain, harus diobati dulu.

Lebih lanjut, Noroyono mengatakan dalam persiapan kehamilan Odha perempuan harus melakukan pencucian vagina dengan antiseptik di mulut rahim (serviks) untuk menghilangkan kandungan virus, sebab secara medis daerah tersebut merupakan tempat sangat disukai berbagai virus termasuk HIV/AIDS. Sedangkan bagi pria perlu melakukan pencucian sperma agar bebas dari virus HIV/AIDS.

Bila tidak ada masalah, barulah proses kehamilan buatan dilakukan. (Nik/H-1)


sumber: Media Indonesia Online, Senin, 18 Juli 2005

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan