OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Survei Nasional Penyalah-Gunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia, 2005

Oleh : Prof. DR. Dr. Bud; Utomo (Puslitkes UI)

1. Latar Belakang

Peningkatan penyalah-gunaan narkoba di Indonesia dengan dampak buruk sosial dan ekonomi semakin mengkhawatirkan. Kerugian sosial-ekonomi penyalah-gunaan narkoba dalam tahun 2004 diperkirakan Rp.23,6 triliun, dengan perkiraan jumlah penyalah-guna 2,9 juta sampai 3,6 juta orang atau setara 1,5% penduduk Indonesia (BNN & Puslitkes VI, 2005).

Berbagai laporan dan pengamatan menunjukkan semakin meluasnya masalah narkoba. Dalam lima tahun terakhir, jumlah tangkapan kasus narkoba termasuk barang bukti sitaan berbagai jenis narkotika cenderung meningkat (Dit IV -Bareskrim Polri, September 2005). Dengan meningkatnya penangkapan dan penyitaan narkoba ini semakin banyak pula kita dengar dan kita lihat korban penyalah-guna di sekitar kita.

2. Tujuan

Dengan latar-belakang di atas, Survei Nasional Penyalah-gunaan Narkoba dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga di Indonesia telah dilakukan pada tahun 2005. Survei ini bertujuan untuk memahami lebih jauh situasi masalah narkoba di tingkat rumah tangga atau masyarakat. Pemahaman ini menjadi penting sehubungan dengan pengembangan suatu upaya strategis pencegahan dan penanggulangan masalah narkoba yang perlu dimulai dari tingkat keluarga. Lebih spesifik, survei ini bertujuan untuk:

1. Mengevaluasi estimasi nasional prevalensi penyalah-gunaan narkoba;

2. Mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat rawan penyalah-gunaan narkoba;

3. Mendapatkan gambaran peredaran gelap narkoba;

4. Menilai pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang narkoba dan HIV/AIDS.

 

3. Lokasi survei

Survei dilakukan di 23 lokasi yang terdiri dari 16 kota dan 7 pedesaan di 16 propinsi di Indonesia. Satu lokasi kota dan satu lokasi pedesaan per propinsi mencakup 7 propinsi (Sumatera Vtara, Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Vtara), sedangkan hanya satu lokasi kota per propinsi mencakup 9 propinsi lainnya (Jambi, Lampung, Jakarta; Jateng, Yogyakarta, Bali, NTB, Papua,

Kerjasama Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (puslitkes VI). Disajikan kembali pada Seminar Sehari Survey Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga tahun 2005, di Hotel Bidakara, Jakarta, 20 Juni 2006.

Yang dianggap lokasi kota adalah ibukota propinsi, sedangkan lokasi perdesaan adalah seluruh kecamatan di kabupaten yang terpilih. Ketujuh lokasi pedesaan tersebut mencakup Kabupaten berikut: Minahasa Utara di Sulawesi, Sambas di Kalimantan Barat, Madiun di Jawa Timur, Deli Serdang di Sumatera Utara, Cirebon di Jawa Barat, Indragiri Hulu di Riau, dan Maros di Sulawesi Selatan.

Melengkap survei rumah tangga, dilakukan pula survei Rumah Kos di tujuh lokasi kota propinsi: Jakarta (DKI Jakarta), Yogyakarta (DI Yogyakarta), Surabaya (Jawa Timur), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatera Utara), dan Makassar (Sulawesi Selatan).

 

4. Metode

4.1 Survei dan responden

Estimasi prevalensi penyalah-gunaan narkoba dilakukan melalui dua macam survei: (1) survei rumah tangga pada masyarakat umum, dan (2) survei rumah kos pada masyarakat khusus, yang mencakup kelompok pelajar dan mahasiswa dan kelompok pekeIja. Sebagai responden adalah anggota rumah tangga dan penghuni rumah kos yang berusia 10-60 tahun.

Untuk mendapatkan informasi tentang tingkat peredaran gelap narkoba, dilakukan wawancara khusus terhadap tiga kelompok informan, yaitu: penyalah-guna narkoba, orangtua penyalah-guna narkoba, dan pihak kepolisian. Informan dari kepolisian adalah Kepala Bagian Reserse dan Kriminal atau yang mewakili di setiap lokasi.

4.2 Resar sampel

Besar sampel survei rumah tangga ditentukan 200 rumah tangga per lokasi, sedangkan survei rumah kos 500 orang penghuni per lokasi. Penarikan sampel rumah tangga dan rumah kos dilakukan secara random. Dengan sampel sebesar ini dan cara penarikan random, nilai estimasi prevalensi penyalah-gunaan narkoba terhadap nilai populasi akan menyimpang tidak lebih dari 10% dengan tingkat keyakinan 90%.

4.3 Cara penarikan sampel

Penarikan sampel rumah tangga di setiap lokasi dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama menarik sampel 10 desa/ kelurahan dengan cara PPS (probability proportional to size). Tahap kedua menarik sampel 2 RT (Rukun Tetangga) dengan cara PPS pada setiap desa/ kelurahan terpilih. Tahap ketiga menarik 10 rumah tangga dengan cara random sederhana pada setiap RT terpilih. Untuk penarikan sampel rumah tangga dengan cara random sederhana pada setiap RT terpilih terleblh dahulu dilakukan sensus rumah tangga untuk mendapatkan daftar rumah tangga yang layak sampel di RT yang bersangkutan.

Penarikan sampel rumah kos didahului dengan pemetaan rumah kos di sekitar tempat pendidikan dan tempat pekeIjaan atau perburuhan, termasuk kampus/ sekolah, perkantoran, industril pabrik, pasar, dan temp at hiburan. Pemetaan rumah kos ini memasukkan informasi tentang alamat dan karakteristik lokasi dan jumlah penghuni rumah koso Hasil pemetaan rumah kos ini digunakan sebagai kerangka penarikan sampel rumah kos di setiap lokasi. Besar sampel penghuni rumah kos ditentukan secara proporsional dan penarikan simple dilakukan dengan cara random sistematik.

4.4 Data dan cara pengumpulan

Survei rumah tangga dan survei rumah kos melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur mengumpulkan data pengetahuan dan perilaku penyalah-gunaan narkoba, perilaku merokok dan minum alkohol, dan pengetahuan dan persepsi cara penegahan HIV/AIDS. Wawancara khusus dengan informan penyalah-guna narkoba mengumpulkan data riwayat penyalah-gunaan narkoba, termasuk jenis narkoba yang dipakai atau pemah digunakan, cara menggunakan, riwayat pengobatan, dan pengalaman menawarkan atau kontak dengan orang lain. Wawancara dengan orang tua penyalah-guna narkoba mengumpulkan data tentang riwayat penyalah-gunaan narkoba pada anggota rumah tangga, upaya yang telah dilakukan, dan kerugian ekonomi dan sosial di rumah tangga. Sedangkan dari kepolisian melalui wawancara dan dokumen! laporan terkait dikumpulkan data yang terkait dengan peredaran narkoba.

5. Basil

5.1 Angka penerimaan survei

Survei mencakup 4.355 rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga 20.302 orang atau rata-rata terdapat 4,7 orang per rumah tangga. Dari jumlah anggota rumah tangga ini, 70% berada di kota dan sisanya di pedesaan. Jumlah anggota rumah tangga yang memenuhi syarat sebagai responden (berusia 10-60 tahun) sebanyak 15.604 orang atau 77%, tetapi yang berhasil diwawancarai 11.053 orang atau 71 %.

Pemetaan rumah kos mendata 3.653 rumah kos dengan penghuni 27.380 orang. Dari jumlah ini, diambil sampel 600 rumah kos yang tersebar di 6 kota dengan penghuni 3.008 orang.

Mengenai jumlah informan, dari kelompok penyalah-guna 26 orang, orang tua penyalah-guna 20 orang, dan dari kepolisian 20 orang.

5.2 Karakteristik latar-belakang responden

Sosio-demografi

Pada survei rumah tangga, responden laki-Iaki (47%) lebih sedikit dibanding responden perempuan (53%). Komposisi jenis kelamin ini tidak berbeda antara kota dan pedesaan. Lebih separuh responden laki-Iaki maupun perempuan di kota maupun pedesaan berusia 30 tahun ke atas, dan sebagian besar menikah.

Seperti diduga, pendidikan respond en di kota lebih tinggi dibanding pedesaan. Lebih separuh responden di kota dan hanya sepertiga di pedesaan berpendidikan SL TAke atas. Proporsi responden beketja jauh lebih besar pada laki-Iaki dibanding pada perempuan. Seperlima respond en baik laki-Iaki maupun perempuan berstatus relajar atau mahasiswa.

Berbeda dengan responden survei rumah tangga, responden survei rumah kos lebih banyak laki-Iaki (54%) dibanding perempuan (46%). Seperti diduga, responden di rumah kos lebih muda dibanding responden di rumah tangga. Responden rumah kos terkonsentrasi pada umur 20-29 tahun. Pendidikan responden di rumah kos juga jauh lebih tinggi dibanding responden di rumah tangga biasa. Lebih dari 90% responden di rumah kos baik laki-laki maupun perempuan berpendidikan SLTA ke atas. Sebagian besar responden rumah kos berstatus pelajar/mahasiswa.

Sosial-ekonomi

Sosial-ekonomi responden survei rumah tangga lebih tinggi di kota dibanding pedesaan. Proporsi responden dengan pendapatan lebih dari Rp 1,5 juta per bulan di kota 32%, sedangkan di pedesaan 12%. Demikian pula, proporsi responden dengan pemilikan TV, kulkas, telpon genggam, mobil atau motor lebih tinggi di kota dibanding pedesaan.

Karena sebagian besar responden di rumah kos berstatus mahasiswa atau pelajar, proporsi mereka dengan pendapatan Rp.l,5 juta per bulan sekitar 9%. Lebih separuh dari responden rumah kos bertempat tinggal di lingkungan sekitar kampus. Separuh responden rumah kos tinggal di rumah dengan fasiliats 10 kamar atau lebih.

Dari rumah kos yang disurvei, hanya 20% tidak mempunyai kejelasan tata-tertib penghunian, 40% tidak melakukan pemisahan antara penghuni perempuan dan penghuni laki-laki, dan 40% tidak mempunyai penjaga atau ada penjaga tetapi tidak tinggal di tempat.

5.3 Angka penyalah-gunaan narkoba

Dari segi waktu, angka atau prevalensi penyalah-gunaan narkoba dapat dibedakan menjadi 3 ukuran kurun waktu: semasa hidup, setahun terakhir, dan sebulan terakhir. Prevalensi semasa hidup didetinisikan sebagai persentase pemah memakai narkoba sampai saat ini tanpa membatasi kapan memakainya. Sedangkan prevalensi setahun terakhir adalah persentase memakai narkoba dalam setahun terakhir ini, dan sebulan terakhir adalah yang memakai narkoba dalam sebulan terakhir ini.

Prevalensi penyalah-gunaan narkoba semasa hidup di rumah tangga 2,4%. Prevalensi jauh lebih tinggi pada laki-laki (4,6%) dibanding perempuan (0,4%). Penyalah­gunaan narkoba sudah mulai pada umur muda. Angka penyalah-gunaan narkoba semasa hidup pada laki-laki kelompok usia 10-19 tahun 2,2%, dan tertinggi pada kelompok usia 20-29 tahun 10,6%. Angka penyalah-gunaan narkoba lebih tinggi di kota (pada laki-laki 5,4%) dibanding di pedesaan (pada laki-laki 2,6%).

Hasil survei menunjukkan angka penyalah-gunaan narkoba jauh lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan; lebih tinggi di kota dibanding pedesaan; dan tertinggi pada umur 20-29 tahun.

Prevalensi penyalah-gunaan narkoba bervariasi menurut lokasi. Angka penyalah­gunaan narkoba pada laki-laki terlaporkan lebih tinggi di Medan (11,7%), Bandung (11.7%), Jakarta (11,4%), Yogyakarta (8,5%), Semarang (7.4%), dan Pontianak (6%), dan terlaporkan lebih rendah di Makassar (4,3%), Mataram (3%), Lampung (2,9%), dan Manado (0,9%). Rendahnya angka di beberapa kota ini perlu disikapi hati-hati terutama di Manado yang mungkin sekali terkait dengan seringnya operasi narkoba yang bersamaan waktu dengan survei.

Angka penyalah-gunaan di 7 kabupaten (pedesaan) yang disurvei terlihat rendah, kecuali di Deli Serdang (11,5%) yang mencolok tinggi. Di pihak lain, satu kabupaten, yaitu Sambas, tidak ditemukan kasus penyalah-gunaan. Namun ini tidak berarti tidak ada masalah narkoba. Perlu dicatat bahwa kabupaten Sambas terletak di salah satu jalur pintu masuk ke Malaysia, sedangkan hasil survei di Pontianak menunjukkan angka prevalensi yang cukup tinggi, terutama di rumah koso Apa ada kemungkinan bahwa Kabupaten Sambas hanya sebagai lokasi transit saja?

Angka penyalah-gunaan narkoba bervariasi menurut lokasi

Tidak hanya usia dan jenis kelamin, angka penyalah-gunaan narkoba terkait juga dengan pendidikan.        

Prevalensi penyalah-gunaan narkoba lebih tinggi pada pendidikan SL TAke atas dibanding pendidikan yang lebih rendah. Demikian pula prevalensi lebih tinggi pada mereka yang berstatus mahasiswa atau pelajar dibanding mereka yang beketja atau tidak beketja. Lebih tingginya angka penyalah-gunaan pada kelompok pendidikan yang lebih tinggi dan kelompok pelajar/ mahasiswa dibanding kelompok lain kemungkinan faktor ekonomi atau kemampuan membeli narkoba dan juga keterpaparan terhadap pengaruh modemisasi atau globalisasi termasuk informasi dan kontak dengan narkoba.

Angka penyalah-gunaan narkoba lebih tinggi pada kelompok pendidikan tinggi dibanding pendidikan rendah; lebih tinggi pada kelompok pelajar atau mahasiswa dibanding mereka yang bekerja atau tidak bekerja.

Prevalensi penyalah-gunaan narkoba setahun terakhir dan sebulan terakhir tentu saja lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi semasa hidup. Angka prevalensi penyalah-gunaan narkoba setahun terakhir dan sebulan terakhir masing-masing 0,8% dan 0,4%. Angka ini mungkin sekali lebih rendah dari sebenamya karena masalah narkoba yang sensitif dan stigmatis, sehingga responden cenderung kurang terbuka dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan survei. Angka penyalah-gunaan narkoba setahun terakhir dan sebulan terakhir menurut jenis kelamin, umur dan kota­pedesaan konsisten dengan angka semasa hidup.

Angka penyalah-gunaan narkoba semasa hidup jauh lebih tinggi di rumah kos (13,1 %) dibandingkan di rumah tangga (2,4%). Angka penyalah-gunaan setahun terakhir dan sebulan terakhir di rumah kos relatif tinggi, 5,8% dan 2,1 %. Konsisten dengan karakteristik penyalah-gunaan narkoba di rumah tangga, prevalensi penyalah­gunaan narkoba di rumah kos lebih tinggi pada laki-Iaki (18,1%) dibanding perempuan (7,3%), dan tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun. Angka penyalah­gunaan di rumah kos bervariasi. Angka penyalah-gunaan lebih tinggi di rumah kos sekitar kampus, perkantoran, dan tempat hiburan dibanding rumah kos sekitar pabrik atau industri. Angka penyalah-gunaan lebih tinggi pada laki-Iaki dibanding perempuan, kecuali di rumah kos sekitar tempat hiburan. Pengecualian ini karena sebagian besar penghuni rumah kos sekitar tempat hiburan merupakan peketja di tempat hiburan, yang umumnya mereka lebih terpapar terhadap informasi dan penyalah-gunaan narkoba.

Angka penyalah-gunaan narkoba di rumah kos berlipat kali lebih tinggi dibanding di rumah tangga biasa, terutama rumah kos sekitar kampus, perkantoran dan tempat hiburan.

Angka penyalah-gunaan narkoba umumnya lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, tetapi di rumah kos sekitar tempat hiburan angka penyalah-gunaan narkoba justru lebih tinggi pada perempuan dibanding laki­laki.

5.4 Merokok, minum alkohol dan penyalah-gunaan narkoba

Survei rumah tangga menunjukkan bahwa mereka yang pemah merokok dan masih merokok lebih tinggi pada responden laki-Iaki (69% dan 56%) dibanding pada responden perernpuan (8% dan 3%).       

Prevalensi merokok meningkat dengan meningkatnya umur, tetapi mulai stabil setelah umur 30 tahun. Prevalensi merokok lebih tinggi pada mereka yang berpendidikan lebih tinggi dan mereka yang telah bekeIja. Tidak ada perbedaan prevalensi merokok antara kota dan pedesaan. Prevalensi pemah merokok dan masih merokok pada responden survei rumah kos lebih tinggi dibanding responden survei rumah tangga, tetapi keduanya berpola sarna dalarn karakteristik umur, jenis kelamin, dan pendidikan.

Konsisten dengan perilaku merokok, mereka yang pernah minum alkohol dan masih minum alkohol juga lebih tinggi pada respond en laki-Iaki (35% dan 6%), dan pada responden perernpuan (3% dan 1 %). Data menunjukkan bahwa praktek minum alkohol ini kebanyakan teIjadi setelah berumur 20 tahun, terutarna pada mereka yang berstatus keIja. Prevalensi minum alkohol sernakin tinggi dengan sernakin tingginya pendidikan. Tidak ada perbedaan prevalensi minum alkohol antara kota dan pedesaan.

Merokok dan minum alkohol merupakan perilaku dominasi laid-laid baik di kota maupun di pedesaan.

Angka penyalah-gunaan narkoba jauh lebih tinggi berlipat kali (40 sarnpai 100 kali) pada mereka yang merokok dan juga mereka yang minum alkohol. Perbandingan ini berlaku baik pada laki-Iaki maupun perernpuan di rumah tangga dan juga di rumah koso

Merokok dan juga minum alkohol terkait dengan penyalah-gunaan narkoba

5.5 Paparan narkoba

Responden survei rumah kos lebih terpapar terhadap penyalah-gunaan narkoba dibanding responden survei rumah tangga. Persentase responden survei rumah tangga dan survei rumah kos yang menyatakan merniliki ternan atau tetangga penyalah-guna masing-masing adalah 20% dan 50%. Satu dari 10 responden survei rumah tangga dan 4 dari 10 responden survei rumah kos pernah ditawari narkoba. Sebagian besar yang menawari narkoba adalah ternan responden. Pada responden survei rumah tangga, angka paparan terhadap penyalah-gunaan narkoba lebih tinggi di kota dibanding pedesaan.

Dari sisi penyalah-guna narkoba, 2 dari 10 penyalah-guna di rumah tangga dan 3 dari 10 penyalah-guna di rumah kos pemah menawarkan narkoba kepada orang lain.

Paparan terhadap narkoba lebih tinggi di rumah kos dibanding di rumah tangga, dan lebih tinggi di kota dibanding pedesaan.

5.6 Penyalahguna Narkoba

Sebanyak 264 atau 2,4% responden survei rumah tangga dan 393 orang atau 13% responden survei rumah kos mengaku penyalah-guna narkoba.

Responden penyalah-guna narkoba pada survei rumah tangga mernpunyai karakteristik sosial-ekonomi yang sarna dengan responden penyalah-guna pada survei rumah koso Penyalah-guna ini terkonsentrasi pada umur 20-29 tahun, kebanyakan laki-Iaki, dan berpendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan bukan penyalah-guna. Mobilitas penyalah-guna di rumah kos lebih tinggi dibanding penyalah guna di rumah tangga.

Penyalah-guna narkoba terkonsentrasi pada umur 20-29 tahun, kebanyakan laki-laki dan berpendidikan tinggi.

Umur pertama kali memakai narkoba

Rata-rata umur pertama kali memakai narkoba sekitar 18-19 tahun dengan rentang 10 sampai 32 tahun. Alasan mernakai narkoba pertama kali yang banyak dikemukakan penyalah-guna di rumah tangga adalah bersenang-senang (56%) dan karena paksaan (22%). Sedangkan pada penyalah-guna narkoba di rumah kos, alasan memakai narkoba pertama kali yang banyak dikemukakan adalah ingin mencoba (62%) dan karena ajakan/bujukan ternan (18%).

Jenis narkoba yang dipakai

Ganja dan ekstasi sebagai jenis narkoba yang banyak dipakai pertama kali baik di rumah tangga maupoo di rumah koso Jenis narkoba yang paling banyak digunakan setahoo terakhir: ganja, dan keeubung di kota; ganja dan barbiturat di pedesaan; dan ganja, morlin dan kokain di rumah koso

Ganja dan ekstasi sebagai jenis narkoba yang banyak dipakai pertama kali

Lebih separuh responden penyalah-guna (52%) pemah memakai narkoba lebih dari satu jenis narkoba. Jenis narkoba lainnya adalah shabu, ekstasi, heroinlputau, benzodiazepam, barbiturat, dan keeubunglmushroom. Barbiturat lebih banyak dikonsumsi di rumah tangga (21 %). Walaupoo angka keeil (1 %), pemakaian kokain teridentifkasi di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Lebih separuh responden penyalah-guna pernah memakai lebih dari satu jenis narkoba; Ganja, ekstasi, shabu dan heroin/ putau merupakan jenis narkoba yang paling ban yak dipakai

Ternan sebagai sumber pertama kali mendapatkan narkoba pada sebagian besar responden baik di rumah tangga maupoo rumah koso Di samping ternan, sumber narkoba yang lain adalah bandar dan apotik/toko obat. Di Denpasar, bandar banyak disebut sebagai sumber mendapatkan narkoba.

Pemakaian narkoba suntik

Dari responden penyalah-guna, 12% pemah memakai narkoba suntik dan 7% sampai sekarang masih aktif. Sebagian besar penyalah-guna narkoba sootik ini pemah menyuntik bersama dalam kelompok dan hampir separuh dari mereka masih menyuntik bersama dalam setahun terakhir.

Di rumah kos, 36% penyalah-guna pemah mernakai narkoba sootik dan 11 % sampai sekarang masih aktif menyuntik. Sebagian besar penyalah-guna narkoba suntik ini adalah laki-Iaki. Hampir separuh penyalah-guna suntik pemah menyuntik bersama dalam kelompok atau menggunakan jarum suntik bekas. Jenis narkoba yang paling banyak disootikkan adalah heroin.


Perilaku seks

Sebagian besar responden pemah melakukan hubungan seks. Sekitar 20% responden di rumah tangga dan separuh responden di rumah kos baik perernpuan ataupun laki-Iaki mempunyai lebih dari satu pasangan, termasuk berhubungan seks dengan peketja seks.

Over dosis

Over dosis atau OD terjadi karena penyalah-guna tidak mampu mengukur jumlah konsumsi narkoba sehingga tanpa sadar melebihi dosis ambang batas kernampuan tubuhnya. Sepuluh dari 100 penyalah-guna di di rumah tangga dan 4 dari 100 penyalah-guna narkoba di rumah kos pemah OD. Upaya pengobatan yang banyak dilakukan adalah minum susu atau air kelapa atau dibawa ke rumah sakit.

Pencarian pengobatan

Upaya pencarian pengobatan dapat mandiri atau dengan bantuan orang lain. Pengobatan mandiri dilakukan dengan pasang badan atau berusaha menahan rasa sakau dengan menahan rasa sakit tanpa bantuan orang lain. Sedangkan pengobatan dengan bantuan orang lain termasuk pergi ke dokter, pengobatan altematif, detoksifikasi, rehabilitasi, dan sebagainya.

Sepertiga penyalah-guna narkoba di rumah tangga dan 20% penyalah-guna di rumah kos pemah melakukan upaya pengobatan, termasuk pasang badan, detoksifikasi, rawat jalan, ikut program pendampingan, dan rehabilitasi. Walaupun telah berupaya keras mengatasi kecanduan, separuh penyalah-guna yang pemah berobat mengalami kambuh kernbali. Alasan kambuh kembali kebanyakan karena tergoda tawaran ternan untuk mernakai lagi narkoba.

 

5.7 Pengetahuan Responden

Narkoba

Sebagian besar responden di rumah tangga dan di rumah kos pemah dengar narkoba, tetapi yang tahu apa itu narkoba dan bahaya narkoba hanya 65% di rumah tangga dan 85% di rumah koso Secara umum ada 4 jenis narkoba yang paling banyak disebutkan spontan oleh responden, yaitu: ganja, shabu, ekstasi, dan heroin. TV merupakan sumber informasi pengetahuan tentang narkoba. Sumber informasi lain yang banyak disebut tentang narkoba adalah: surat kabar/ majalah, ternan, dan radio.

Hampir seluruh respond en menyatakan narkoba itu berbahaya. Bahaya narkoba yang banyak diungkapkan termasuk merusak fisik, OD/ kernatian, merusak mental! ernosi/ spiritual, dan ketagihan. Jenis bahaya lain yang juga banyak disebut oleh responden di rumah kos adalah tertular virus HIV/AIDS.

HIV/AIDS

Sebagian besar responden terutama di rumah kos pemah dengar HIV/AIDS. Proporsi mereka di rumah tangga yang pemah dengar HIV/AIDS hanya 67%. Proporsi ini sangat bervariasi menurut lokasi, dan lebih tinggi di kota dibanding pedesaan. Rentang proporsi responden yang pemah dengan HIV / AIDS di lokasi kota mulai dari 45% (Mataram) sampai 92% (Denpasar), sedangkan di lokasi perdesaan dari 36% (Indragili Hilir) sampai 69% (Minahasa).

Sumber infonnasi HIV / AIDS yang banyak disebut adalah televisi, buku/ majalahl koran, radio, teman, dan sekolah. TV merupakan sumber infonnasi HIV / AIDS yang banyak disebut di semua lokasi, kecuali Manado (66%) dan Jayapura (66%). Untuk respond en di rumah kos, sumber infonnasi lain yang banyak disebut adalah sekolahl kampus/ guru! dosen.

Sebagian besar responden terutama yang di rumah kos menyatakan bahwa penyakit HIV / AIDS dapat dihindari. Proporsi responden pada survei rumah tangga yang menyatakan bahwa HIV/AIDS dapat dihindari bervariasi menurut lokasi dengan rentang dari 60% sampai 95%. Pada survei rumah tangga, cara menghindari HIV / AIDS yang banyak disebut respond en adalah tidak berhubungan seks dengan banyak pasangan (65%), jangan bergaul bebas (46%), dan saling setia dengan satu pasangan (26%). Polajawaban serupa diberikan pula oleh responden rumah kos

Sekitar separuh responden di rumah tangga dan di rumah kos menyatakan mengetahui tempat melakukan tes HIV/AIDS, walaupun angkanya bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lain. Tempat yang paling banyak disebut untuk melakukan tes HIV/AIDS adalah rumah sakit, selain itu puskesmas dan klinik. Namun hanya sedikit (1,5%) yang menyatakan pemah melakukan tes HIV/AIDS. Persentase mereka yang pemah melakukan tes HIV / AIDS lebih tinggi di rumah kos dibandingkan di rumah tangga.

 

6. Pembahasan

Fokus pembahasan dilakukan pada hasil estimasi angka penyalah-gunaan narkoba, kelompok masyarakat rawan narkoba, dan pengetahuan masyarakat tentang narkoba dan HIV/AIDS.

6.1 Estimasi besaran narkoba

Survei menunjukkan perbedaan mencolok angka penyalah-gunaan narkoba menurut lokasi geografis/ administratif, dan menurut pengelompokan demografi dan sosial masyarakat. Terlihat penyalah-gunaan narkoba lebih terkonsentrasi pada kelompok tertentu masyarakat dengan karakteristik: usia remaja dan dewasa muda, laki-Iaki, pendidikan tinggi, daerah perkotaan, dan yang hidup dengan gaya yang lebih modem di lingkungan dengan aturan yang longgar. Variasi ini menyulitkan cara estimasi besaran penyalah-gunaan narkoba di tingkat nasional.

Dari segi rancangan sampel, survei dilakukan di daerah yang lebih mewakili kota dibanding pedesaan. Kenyataan bahwa penyalah-gunaan narkoba lebih terkonsentrasi di kota dibanding pedesaan mmbuat hasil estimasi angka penyalah-gunaan narkoba cenderung lebih tinggi dari yang sebenamya. Namun sebaliknya, cara pengukuran pemah tidaknya memakai narkoba melalui wawancara yang digunakan dalam survei cenderung memberi hasil estimasi yang lebih rendah dari yang sebenamya. Bukti di lapangan menunjukkan banyak responden yang jelas memakai narkoba tetapi tidak mengaku. Masalah narkoba yang ilegal dan stigmatis membuat responden tidak terbuka tentang masalah narkoba. Kedua bias di atas (faktor sampel di satu pihak dan faktor pengukuran di pihak lain) diharapkan saling menetralkan.

Faktor bias karena sampel di satu pihak yang cenderung meninggikan hasil estimasi penyalah-gunaan narkoba, dan faktor bias karena pengukuran di pihak lain yang cenderung merendahkan hasi/ estimasi diharapkan saling menetralkan.

Estimasi angka penyalah-gunaan narkoba hasil sernasa hidup sebesar 2% di rumah tangga dan 13% di rumah kos, dan setahun terakhir 1 % di rumah tangga dan 5% di rumah kos berdasarkan data hasil survei rumah tangga dan survei rumah kos yang barn saja dilakukan (tahoo 2005) tampaknya tidak menyimpang jauh dari estimasi angka penyalah-gunaan narkoba yang pernah dilakukan tahoo lalu sebesar 1,5%. Hasil survei rumah tangga narkoba ini juga memberi konfirmasi tentang keeratan hubungan antara perilaku merokok dan minum alkohol dengan perilaku penyalah-gunaan narkoba.

6.2 Kelompok rawan narkoba

Hasil survei berhasil mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang rawan narkoba. Beberapa karakteristik pokok kelompok masyarakat rawan narkoba ini, antara lain, rernaja dan dewasa mud a, pendidikan tinggi, ekonomi mampu, laki-Iaki, bergaya hidup modern, dan hidup di kota di lingkungan dengan aturan hidup yang lebih longgar. Dari identifikasi ini dapat dikenali beberapa faktor penting yang mendorong penyalah-gunaan narkoba, antara lain:

  • Perilaku mencoba, mencari identitas, interaksi/ pengaruh sebaya. Karakteristik ini menjadi penjelas mengapa penyalah-gunaan narkoba banyak teIjadi pada rernaja, pelajar dan mahasiswa dan penghuni rumah koso

  • Interaksi dengan dunia luar, perilaku hidup modern. Karakteristik ini tercermin pada penyalah-gunaan narkoba yang lebih banyak teIjadi pada kelompok pendidikan tinggi, mereka yang merokok dan minum alkohol, dan mereka yang hidup di kota.

  • Ekonomi mampu. Konsumsi narkoba adalah mahal, sehingga hanya mereka yang mampu secara ekonomi yang dapat teratur membeli dan mernakai narkoba. lni tercermin bahwa sebagain besar penyalah-guna adalah mereka yang bekeIja, pelajar atau mahasiswa.

  • Kemudahan akses dan peredaran narkoba. Kemudahan akses terhadap narkoba merupakan faktor penting dalam penyalah-gunaan narkoba. Ini tercermin dari banyaknya penyalah-gunaan di kota, dan mereka yang hidup dengan banyak ternan sebaya seperti di rumah koso

  • Lingkungan sosial yang permisif dan terbuka. lni terbukti dengan lebih banyaknya penyalah-gunaan narkoba di kota dan di rumah kos yang umumnya mempooyai aturan hidup yang lebih longgar.

6.3 Peredaran narkoba

Peningkatan kejadian penangkapan dan penyitaan narkoba mengindikasikan bahwa akses terhadap narkoba oleh masyarakat sernakin meningkat, bahkan di tingkat rumah tangga. Tidak saja di rumah kos, responden di tingkat rumah tangga banyak yang ditawari narkoba. Demikian pula narkoba dapat dibeli dari ternan, bandar, dan toko obat di sekitar rumah tangga. Intinya narkoba sudah mulai masuk pada kelompok masyarakat umum.

6.4 Pengetahuan narkoba

Hasil survei menunjukkan banyak responden yang pernah dengar tentang narkoba dan

juga tentang HIV/AIDS, tetapi di antara mereka masih banyak yang belum tahu

pengertian narkoba dan HIV/AIDS dan cara pencegahan yang sesuai. Lebih lanjut, survei menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu sejajar dengan praktek. Responden di rnmah kos yang pengetahuan tentang narkoba dan HIV/AIDS lebih tinggi justru mempunyai prevalensi penyalah-gunaan narkoba dan perilaku berisiko yang lebih tinggi.

7. Kesimpulan

Angka penyalah-gunaan narkoba berbeda nyata menurut geografis dan pengelompokan sosial dan demografi masyarakat. Beberapa indikasi menunjukkan angka hasil survei tidak menyimpang jauh dari estimasi besaran penyalahan narkoba yang telah dilakukan sebelumnya oleh BNN dan DI, namun masih diperlukan berbagai survei lain dengan pendekatan yang berbeda untuk lebih memantapkan estimasi.

Kelompok masyarakat rawan narkoba ditandai dengan karakteristik remaja dan dewasa muda, pendidikan tinggi, ekonomi mampu, laki-Iaki, bergaya hidup modern, dan hidup di kota di lingkungan dengan aturan hidup yang lebih longgar.

Banyaknya responden yang pernah ditawari narkoba menunjukkan bahwa peredaran gelap narkoba terns berlanjut.

Pengetahuan tentang narkoba dan bahaya narkoba tidak selalu menjamin praktek menghindari narkoba. Di samping itu, masih banyak anggota masyarakat yang belum tahu benar tentang narkoba dan HIV/AIDS.

Sebagai kesimpulan, penyalah-gunaan narkoba sudah sampai di rumah tangga, terutama mulai menyentuh kelompok generasi penerus.

sumber: Mekalah pada seminar sehari Survei Nasional Penyalah-gunaan Narkoba dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga, oleh BNN di Jakarta

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan