OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Demi Pelanggan, PSK Terpaksa Layani Pelanggan Tanpa Kondom

Meski tahu berisiko tinggi terjangkit HIV/AIDS, banyak pekerja seks komersial (PSK) terpaksa melayani pelanggan tanpa pengaman (kondom).

Kantor berita Antara melaporkan bahwa sejumlah PSK yang ditemui di kawasan Kemayoran dan Matraman, Jakarta, sebenarnya tahu virus HIV dapat menular melalui hubungan seks, tetapi mereka terpaksa melayani pelanggan tanpa kondom agar pelanggan tidak lari. Tuntutan hidup menjadikan mereka menempuh jalan berisiko tinggi.

"Saya sebenarnya sudah tahu bahayanya, tapi untuk urusan pengaman (kondom --Red) buat saya adalah kebebasan pelanggan. Mau pakai atau tidak, terserah mereka," kata wanita yang mengaku bernama Cecil, seorang PSK di kawasan Kemayoran, Minggu (25/6).

Dia mengatakan kebanyakan pelanggan yang dilayaninya tidak mau menggunakan pengaman. Hal itu dinilai wajar karena kebanyakan pelanggan yang datang ke tempatnya berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Cecil menyatakan saat ini dirinya belum pernah melakukan tes darah untuk mengecek apakah dirinya bersih dari penyakit yang melemahkan sistem kekebalan tubuh itu.

"Wah, soal itu sampai sekarang belum pernah melakukan tes. Kata teman-teman mahal, sekitar dua jutaan. Saya tidak punya uang untuk itu," katanya.

Sementara wanita yang mengaku bernama Donna, yang biasa mangkal di sebuah warung di kawasan Matraman mengatakan, terkadang ada pelanggannya yang tersinggung jika ditawari untuk menggunakan kondom. Padahal dia mengakui dirinya takut terjangkit virus tersebut.

"Saya sebenarnya takut kena AIDS, tapi banyak orang yang malah marah jika disarankan pakai kondom. Lalu mau bilang apa lagi, sudah risiko kerja saya daripada tidak bisa makan," katanya.

Sedangkan Viena, punya aturan yang tegas untuk setiap pelanggannya. Menurutnya saat bertransaksi dia selalu minta calon pelangannya harus memakai pengaman.

"Saya tegas, harus pakai kondom. Saya juga bawa persediaan kondom setiap kerja," katanya.

Dia sadar pekerjaannya berisiko tingga akan bahaya HIV/AIDS. Tetapi karena keinginannya itu, dirinya sering ditinggal pergi pelanggannya karena mereka menolak untuk menggunakan pengaman.

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah suatu gejala infeksi yang menyerang manusia karena adanya kerusakan sistem kekebalan tubuh akibat virus serangan Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Kasus HIV/AIDS muncul di Indonesia pada 1987, dan terus meningkat secara signifikan. Pada 2005, jumlah penderita (orang dengan HIV/AIDS-ODHA) melonjak menjadi 5.321, dari jumlah 1.488 pada 2003. Saat ini ODHA yang terinveksi HIV sebanyak 4.244 orang.

Kota-kata yang jumlah penderita HIV/AIDS cukup tinggi, antara lain Jakarta, Batam, Medan, Semarang, Banyuwangi, dan Palembang.

Sebelumnya, menurut data Family Health International (FHI), presentase mereka yang memiliki risiko tinggi terjangkit HIV/AIDS di Indonesia antara lain, pengguna narkoba (34 persen), PSK (tujuh persen), pelanggan PSK (31 persen), waria (satu persen), gay (delapan persen), partner group berisiko tinggi (12 persen), dan lain-lain (tujuh persen).

Menurut prediksi Departemen Kesehatan (Depkes), pada 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi epidemi dengan jumlah kasus infeksi HIV bisa mencapai satu juta hingga lima juta orang, sementara akumulatif kasus AIDS pada 2010 (sejak 1987) akan mencapai 80-130 ribu orang, dan diprediksi akan terus menggelembung. [EL, Ant]

sumber: Gatra.com

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan