OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Berperang Melawan AIDS di Indonesia
oleh I Made Setiawan*


Sekitar 80.000 dan 120.000 orang Indonesia positif HIV atau terkena AIDS, menurut perkiraan terakhir. Artinya angka infeksinya sebesar 0,04%-0,06%. Angka tersebut merupakan angka infeksi terendah di Asia Tenggara, namun laporan tahun lalu oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menunjukkan bahwa kasus HIV/AIDS mulai meningkat tajam selama dua tahun terakhir, terutama di antara pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks, baik laki-laki maupun perempuan.  

Komisi ini juga melaporkan data yang menunjukkan bahwa di beberapa daerah, 6-26% pekerja seks positif HIV, dan 40% pengguna narkoba suntikan sedang menjalani pengobatan di Jakarta. Di Bali, dari hasil pemeriksaan darah yang dilakukan pada 2000 narapidana yang menggunakan jarum suntik menunjukkan bahwa lebih dari separuh positif HIV. 

Seperti yang telah dijelaskan laporan nasional ini, meningkatnya tingkat infeksi HIV pada kelompok paling berisiko dikombinasikan dengan frekuensi hubungan seksual yang tinggi antara mereka dengan populasi umum dapat mempercepat epidemi HIV/AIDS di Indonesia.

Tahun 1998, penulis melakukan wawancara terhadap 30 pengguna narkoba suntikan di daerah perkotaan di Bali dan menemukan bahwa mereka selalu atau biasa menggunakan jarum suntik bersamaan. Walaupun diakui sampelnya kecil, tetapi hasilnya membuktikan bahwa penggunaan jarum suntik bersama jelas merupakan cara penularan virus HIV di antara mereka. Menurut UNAIDS, sekitar 10% dari semua infeksi HIV diakibatkan oleh penggunaan narkoba suntikan, dan lebih dari 50% di beberapa negara Eropa dan Asia. Pada tiga bulan terakhir tahun 2001, sekitar 25% dari kasus HIV/AIDS di Indonesia yang baru dilaporkan ternyata ditularkan melalui narkoba suntik (namun demikian, kelemahan dalam sistem surveilans harus diperhitungkan saat mempertimbangkan keakuratan itu).   

Dari hasil studi pada beberapa daerah di sekitar Jakarta, penulis menyimpulkan bahwa risiko infeksi meningkat pada kelompok di mana sudah tinggi. Pekerja seks dan pengguna narkoba suntikan, dua kelompok yang tadinya terpisah beberapa tahun yang lalu, kini telah menyatu di Indonesia. Banyak pengguna narkoba yang menjajakan seks untuk membiayai kebiasaannya itu, dan banyak pekerja seks yang mulai menggunakan narkoba suntikan seperti heroin. 

Walaupun tidak ada angka perkiraan nasional mengenai jumlah pengguna narkoba suntikan yang dapat dipercaya, namun beberapa temuan penelitian menunjukkan jumlah tersebut meningkat tajam. Di Jakarta, kota dengan konsentrasi tertinggi dari pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks, serta jumlah tertinggi dari kasus HIV/AIDS, dapat dilihat bahwa satu dari lima pekerja seks menunjukkan tanda-tanda akibat menggunakan narkoba suntikan. Studi tahun 1998 di Bali menunjukkan bahwa lebih dari seperempat pengguna narkoba suntikan yang diwawancarai mengakui melakukan hubungan seks dengan pekerja seks dan sangat sedikit yang menggunakan kondom.  

Dengan tumpang tindihnya populasi pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks, risiko yang dialami oleh setiap kelompok menjadi berlipat ganda. Sehingga sekarang ini ada sebuah populasi dengan risiko sangat tinggi dan berdasarkan berbagai indikator, juga mempunyai angka prevalensi infeksi tinggi yang terus bertambah.

Saat ini, tingkat infeksi pada populasi pengguna narkoba suntikan, sering digambarkan sebagai “Self Contained”, tidak hanya meningkat tetapi infeksi dari kelompok ini sekarang memiliki saluran langsung ke populasi umum melalui pekerja seks dan pelanggannya. Proporsi bermakna dari laki-laki Indonesia “biasa” menjadi pelanggan pekerja seks.

Selama studi etnografis di daerah pedesaan di timur Bali tahun 2000, penulis mendokumentasikan lusinan cerita mengenai seringnya hubungan seksual dengan pekerja seks. “Hampir semua penjudi sering melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks,” kata seorang laki-laki. Mereka juga mempunyai hubungan gelap dengan perempuan pedagang setempat.  

Tidak ada dari laki-laki yang diwawancarai menggunakan kondom. Mereka lebih suka menggunakan metode pencegahan lainnya, termasuk memeriksa apakah perempuan itu terlihat  bersih, berbau wangi dan meminum antibiotik—yang dijual di apotek dan rumah bordil tanpa resep—sebelum hubungan seksual. Beberapa dokter malah menyebarkan miskonsepsi itu, seperti yang dikatakan seorang laki-laki.

”Saya pergi ke dokter dan dia mengatakan, “Infeksi ini bukan masalah, tetapi di masa depan harap menggunakan pelindung, ‘ dan dia menjelaskan beberapa obat antibiotik.”

Masyarakat dan pemerintah memahami kebutuhan program pencegahan dan pusat rehabilitasi akibat narkoba meningkat, dan telah banyak gerakan serupa. Tetapi hal itu tidak mampu mencegah epidemi yang lebih besar tanpa elemen ketiga: program pengurangan bahaya (harm-reduction) untuk pengguna narkoba suntikan yang telah mencoba tetapi tidak bisa lepas dari ketergantungan obat, atau belum siap untuk berhenti. Untuk mencegah penyebaran AIDS pada kelompok ini dan untuk menyelamatkan jiwa pada populasi yang lebih luas, harus ada dukungan untuk pengurangan bahaya. 

Artinya, mendirikan program penggantian jarum suntik dan obat-obatan, serta konseling mengenai penggunaan obat dan praktik seksual yang lebih aman. Program ini sangat penting untuk mencegah epidemi AIDS internasional dari empat negara terbanyak penduduknya.

________________________________

Penulis adalah seorang antropologi medis dari Bali yang telah lama bekerja pada beberapa proyek pencegahan AIDS.

Jane H. Patten, konsultan, turut berkontribusi pada tulisan ini.


Sumber: Far Eastern Economic Review (28/3/02)

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan