|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Berperang
Melawan AIDS di Indonesia
oleh I Made Setiawan*
Sekitar 80.000 dan 120.000 orang Indonesia positif HIV atau
terkena AIDS, menurut perkiraan terakhir. Artinya angka
infeksinya sebesar 0,04%-0,06%. Angka tersebut merupakan angka
infeksi terendah di Asia Tenggara, namun laporan tahun lalu
oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menunjukkan bahwa
kasus HIV/AIDS mulai meningkat tajam selama dua tahun terakhir,
terutama di antara pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks,
baik laki-laki maupun perempuan.
Komisi ini juga melaporkan data yang menunjukkan bahwa di
beberapa daerah, 6-26% pekerja seks positif HIV, dan 40%
pengguna narkoba suntikan sedang menjalani pengobatan di
Jakarta. Di Bali, dari hasil pemeriksaan darah yang dilakukan
pada 2000 narapidana yang menggunakan jarum suntik menunjukkan
bahwa lebih dari separuh positif HIV.
Seperti
yang telah dijelaskan laporan nasional ini, meningkatnya
tingkat infeksi HIV pada kelompok paling berisiko
dikombinasikan dengan frekuensi hubungan seksual yang tinggi
antara mereka dengan populasi umum dapat mempercepat epidemi
HIV/AIDS di Indonesia.
Tahun
1998, penulis melakukan wawancara terhadap 30 pengguna narkoba
suntikan di daerah perkotaan di Bali dan menemukan bahwa
mereka selalu atau biasa menggunakan jarum suntik bersamaan.
Walaupun diakui sampelnya kecil, tetapi hasilnya membuktikan
bahwa penggunaan jarum suntik bersama jelas merupakan cara
penularan virus HIV di antara mereka. Menurut UNAIDS, sekitar
10% dari semua infeksi HIV diakibatkan oleh penggunaan narkoba
suntikan, dan lebih dari 50% di beberapa negara Eropa dan
Asia. Pada tiga bulan terakhir tahun 2001, sekitar 25% dari
kasus HIV/AIDS di Indonesia yang baru dilaporkan ternyata
ditularkan melalui narkoba suntik (namun demikian, kelemahan
dalam sistem surveilans harus diperhitungkan saat
mempertimbangkan keakuratan itu).
Dari hasil
studi pada beberapa daerah di sekitar Jakarta, penulis
menyimpulkan bahwa risiko infeksi meningkat pada kelompok di
mana sudah tinggi. Pekerja seks dan pengguna narkoba suntikan,
dua kelompok yang tadinya terpisah beberapa tahun yang lalu,
kini telah menyatu di Indonesia. Banyak pengguna narkoba yang
menjajakan seks untuk membiayai kebiasaannya itu, dan banyak
pekerja seks yang mulai menggunakan narkoba suntikan seperti
heroin.
Walaupun
tidak ada angka perkiraan nasional mengenai jumlah pengguna
narkoba suntikan yang dapat dipercaya, namun beberapa temuan
penelitian menunjukkan jumlah tersebut meningkat tajam. Di
Jakarta, kota dengan konsentrasi tertinggi dari pengguna
narkoba suntikan dan pekerja seks, serta jumlah tertinggi dari
kasus HIV/AIDS, dapat dilihat bahwa satu dari lima pekerja
seks menunjukkan tanda-tanda akibat menggunakan narkoba
suntikan. Studi tahun 1998 di Bali menunjukkan bahwa lebih
dari seperempat pengguna narkoba suntikan yang diwawancarai
mengakui melakukan hubungan seks dengan pekerja seks dan
sangat sedikit yang menggunakan kondom.
Dengan
tumpang tindihnya populasi pengguna narkoba suntikan dan
pekerja seks, risiko yang dialami oleh setiap kelompok menjadi
berlipat ganda. Sehingga sekarang ini ada sebuah populasi
dengan risiko sangat tinggi dan berdasarkan berbagai indikator,
juga mempunyai angka prevalensi infeksi tinggi yang terus
bertambah.
Saat ini,
tingkat infeksi pada populasi pengguna narkoba suntikan,
sering digambarkan sebagai “Self Contained”, tidak
hanya meningkat tetapi infeksi dari kelompok ini sekarang
memiliki saluran langsung ke populasi umum melalui pekerja
seks dan pelanggannya. Proporsi bermakna dari laki-laki
Indonesia “biasa” menjadi pelanggan pekerja seks.
Selama
studi etnografis di daerah pedesaan di timur Bali tahun 2000,
penulis mendokumentasikan lusinan cerita mengenai seringnya
hubungan seksual dengan pekerja seks. “Hampir semua penjudi
sering melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks,” kata
seorang laki-laki. Mereka juga mempunyai hubungan gelap dengan
perempuan pedagang setempat.
Tidak ada
dari laki-laki yang diwawancarai menggunakan kondom. Mereka
lebih suka menggunakan metode pencegahan lainnya, termasuk
memeriksa apakah perempuan itu terlihat
bersih, berbau wangi dan meminum antibiotik—yang
dijual di apotek dan rumah bordil tanpa resep—sebelum
hubungan seksual. Beberapa dokter malah menyebarkan
miskonsepsi itu, seperti yang dikatakan seorang laki-laki.
”Saya
pergi ke dokter dan dia mengatakan, “Infeksi ini bukan
masalah, tetapi di masa depan harap menggunakan pelindung, ‘
dan dia menjelaskan beberapa obat antibiotik.”
Masyarakat
dan pemerintah memahami kebutuhan program pencegahan dan pusat
rehabilitasi akibat narkoba meningkat, dan telah banyak
gerakan serupa. Tetapi hal itu tidak mampu mencegah epidemi
yang lebih besar tanpa elemen ketiga: program pengurangan
bahaya (harm-reduction) untuk pengguna narkoba suntikan
yang telah mencoba tetapi tidak bisa lepas dari ketergantungan
obat, atau belum siap untuk berhenti. Untuk mencegah
penyebaran AIDS pada kelompok ini dan untuk menyelamatkan jiwa
pada populasi yang lebih luas, harus ada dukungan untuk
pengurangan bahaya.
Artinya,
mendirikan program penggantian jarum suntik dan obat-obatan,
serta konseling mengenai penggunaan obat dan praktik seksual
yang lebih aman. Program ini sangat penting untuk mencegah
epidemi AIDS internasional dari empat negara terbanyak
penduduknya.
________________________________
Penulis
adalah seorang antropologi medis dari Bali yang telah lama
bekerja pada beberapa proyek pencegahan AIDS.
Jane
H. Patten, konsultan, turut berkontribusi pada tulisan ini.
Sumber: Far
Eastern Economic Review (28/3/02)
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |