OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Hepatitis C Kronik sudah Bisa Diobati

Kombinasi obat interferon dan ribavirin (pegylated interferon) merupakan pengobatan terkini untuk penyakit hepatitis B dan C kronik.

Pakar penyakit hati Prof Dr LA Lesmana PhD SpPD-KGEH FACP-FACG dari Divisi Hepatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Ciptomangunkusumo mengatakan hal tersebut kepada Media kemarin di Jakarta. ''Hasilnya memang sangat baik terapi hepatitis C kronik dengan kombinasi interferon dan ribavirin untuk jumlah pasien dengan kondisi tertentu.''

Dia mengakui dahulu penyakit hepatitis C kronik tidak bisa diobati, sedangkan pengobatan kombinasi interferon dengan ribavirin untuk hepatitis B kronik hasilnya masih jauh lebih rendah dibandingkan hepatitis C. ''Walaupun hasilnya masih lebih rendah dibandingkan terapi hepatitis C, respons pengobatan untuk hepatitis B kronik ada kemajuannya,'' jelasnya.

Kombinasi dua obat tersebut sudah diperkenalkan di kalangan medis dua tahun lalu. Penyakit hepatitis C sendiri terbagi menjadi enam genotipe yang terdiri dari 50 subtipe. Untuk kombinasi kedua obat ini hanya dipergunakan pada hepatitis tipe dua dan tiga.

''Hanya tipe tertentu dua dan tiga untuk terapi kombinasi ini, sedangkan tipe satu pengobatannya masih belum optimal tetapi jauh lebih baik daripada dulu,'' kata Lesmana.

Di Indonesia sendiri sudah dilakukan penelitian terhadap pasien dengan terapi pengobatan jangka panjang lewat kombinasi berbeda. Hasilnya telah dilaporkan dalam berbagai pertemuan ilmiah hati internasional. Hasil penelitian tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan para pakar hati di luar negeri.

''Sekarang ini hasil terapi hepatitis C dengan kombinasi obat ini bisa mencapai 90%. Mungkin dari sepuluh orang yang diterapi sembilan di antaranya berhasil. Tetapi, untuk tipe satu hasilnya masih rendah yakni dari 10 orang yang diterapi yang berhasil sekitar enam orang.''

Sedangkan untuk terapi pengobatan hepatitis B kronik, tingkat keberhasilannya mencapai 45% di bawah hepatitis C kronik.

Oleh sebab itu, saat ini para peneliti di bidang penyakit hati akan melakukan penelitian lebih lanjut terapi pengobatan kombinasi untuk hepatitis B kronik agar membuahkan respons tinggi.

Hanya saja pemberian terapi kombinasi ini, menurut Lesmana, perlu waktu yang tepat agar hasilnya maksimal. ''Kalau pemberian terapi ini tidak tepat waktunya, hasilnya semakin buruk.''

Untuk mengetahui kapan pemberian terapi obat kombinasi ini, diperlukan pemeriksaan cukup teliti. ''Yang utama adalah apakah virus hepatitisnya masih aktif, nilai HBsAg normal dan tidak ada peradangan maka tidak perlu intervensi pengobatan.''

Pasien dalam keadaan demikian cukup dimonitoring ketat sampai pada waktunya pemberian terapi kombinasi.

Biaya mahal

Sekarang ini, pengobatan kombinasi tersebut biayanya cukup tinggi sehingga hanya sedikit pasien hepatitis yang bisa melakukannya. ''Untuk Indonesia masih mahal yang berobat hanya sebagian kecil saja. Kita harus meningkatkan upaya untuk biaya pengobatan ini dengan asuransi misalnya.''

Sebab, hingga kini pemerintah pun tidak memberikan bantuan pengobatan bagi penderita hepatitis.

Sedangkan, menurut Dt Mohd Ismail Merican, hepatolog dari Malaysia, dalam penjelasannya di seminar menyebutkan interferon dan ribovarin memiliki efek samping yang perlu diperhatikan pasien.

Ia menyebutkan interferon memiliki efek berupa fatigue, anemia, neutropenia, maupun insomnia. Sedangkan ribovarin sangat berkaitan dengan anemia. Karena itu, pasien yang mengonsumsi obat kombinasi ini harus hati-hati atau perlu edukasi agar efeknya bisa terkontrol.

Saat ini, sebanyak 350 juta penduduk dunia terinfeksi hepatitis B dan sekitar 500 ribu sampai 1 juta orang meninggal akibat kanker hati. Di Indonesia sendiri sekitar 16 juta penduduk terinfeksi hepatitis B. Penyakit ini sulit terdeteksi karena tanda-tandanya tidak khas.

Sedangkan penyakit hepatitis C dewasa ini banyak ditularkan melalui jarum suntik narkotik. Data yang dimiliki Subbagian Hepatologi FKUI dari Mei-Desember 2002 menyebutkan dari 199 ODHA (orang dengan HIV/AIDS), 125 di antaranya (62,8%) terinfeksi virus hepatitis C melalui jarum suntik narkotik. (Nda/V-2)

sumber: Media Indonesia Online

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan