|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Sulasi: Dipaksa Tes
Darah, Dikucilkan dan Diusir..!
Ia dipaksa tes
darah, dikucilkan, dan diusir dari desanya. Sempat pula diburu
layaknya penjahat. Rentetan pengalaman pahit itu dialami
Sulasi pada awal ia terdeteksi positif mengidap HIV/AIDS.
"Takut pada HIV itu perlu, tapi janganlah takut kepada
ODHA," ujarnya meminta agar orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
tetap diperlakukan sebagai manusia.
Bangun lebih dini dari matahari, bersujud pada ilahi, mengurus
rumah tangga, lalu berjalan kaki pergi pulang ke kebun untuk
merawat tanaman kopi di kaki Gunung Semeru. Itulah keseharian
Sulasi (32). Beberapa tahun terakhir ia memang bisa menjalani
hidup normal bersama suami serta dua buah hatinya yang sehat
walafiat. Ada kalanya ia berhari-hari meninggalkan rumah dan
keluarganya di Dampit, Malang, Jawa Timur. Ia mesti terbang ke
Makasar, Kupang, Bali, atau kota lain untuk memberi dukungan
kepada sesama ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Dalam rangka itu
pula Sulasi ke Jakarta, dan sempat singgah di kantor redaksi
SENIOR, pekan lalu."Maaf saya nggak bisa cerita masa-masa
awal terkena HIV karena itu saat yang paling sulit, "
ujarnya terus terang. Sulasi adalah pengidap HIV/AIDS yang
pertama ditemukan di Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 1990.
Vonis Mati
Sejak tahun
1996, ia mulai berani menampilkan diri, namun ada
bagian-bagian hidupnya yang tetap utuh menjadi miliknya
seorang. Yang jelas, 12 tahun lalu tanpa pendamping, dan
karena paksaan pula, ia harus menjalai tes darah.
Ketika ketahuan darahnya positif terinfeksi HIV, ia pun mulai
menerima perlakuan yang serba menyakitkan. Habis diperiksa, ia
kebetulan mudik ke kampung. Tapi, apa yang kemudian terjadi?
Ia diberitakan melarikan diri padahal Sulasi tak tahu apa yang
tengah menimpa dirinya. Saat itu, ia memang jadi bulan-bulanan
media massa.
"Saya malah sempat baca koran dan membatin, kasihan amat
ini orang kok melarikan diri. Saya tidak tahu kalau
yang sedang dicari-cari itu saya," ungkapnya mengenang
peristiwa itu. Aparat sampai meminta bantuan dukun dari Madura
untuk memburu perempuan sederhana ini.
Ketika sudah ditemukan, ia malah mendapat penjelasan yang
menyeramkan dari dokter. Ia dibilang kena AIDS dan dalam tempo
dua minggu atau tiga bulan, paling lama enam bulan, bakal
meninggal.
Lalu, selama satu minggu, Sulasi hanya bisa menangis. Ia
berusaha menguatkan diri dan mohon lindungan Sang Pencipta.
Namun, mentalnya melemah lagi karena ia merasa tengah menanti
hukuman mati. Saking stresnya, ia sempat berpikir untuk bunuh
diri. Untung saja, itu tak sampai terlaksana.
Ditolak Dokter
Dua minggu,
enam bulan, setahun pun berlalu. Sulasi masih tetap hidup dan
tidak sakit-sakitan. Berita buruk yang sensasional tentang
dirinya terus saja ditulis. Namun, itu tidak sampai
mengontaminasi penduduk desa. Ia pun setidaknya masih bisa
menghirup segarnya udara desa tanpa banyak gangguan.
Kebetulan di Lebak Arjo, tak jauh dari desanya waktu itu
digelar pesta para pandu sedunia. Banyak tontonan untuk rakyat.
Saat menikmati keramaian itulah, Sulasi bertemu pria yang
kemudian menikahinya.
"Saya bersyukur sekali, dia mungkin hanya ada satu
diantara puluhan ribu pria," ucapnya bangga, tanpa mau
menyebut nama suaminya.
Sebelum menikah, ia mengajak suaminya ke RS Dr Sutomo,
Surabaya, untuk melakukan konseling bersama. Semula, ia sempat
dilarang menikah dan punya anak. Semua itu ia langgar. Boleh
dibilang mukjizat Tuhan telah bekerja, jika sampai sekarang
suami dan kedua anak Sulasi tidak tertular HIV, padahal ia tak
pernah minum obat apapun.
Hingga usia kehamilan sembilan bulan pun ia tak pernah periksa
ke dokter. Jangankan periksa, ia datang ke ruang tunggu saja
sudah membuat si dokter lari menghindar. Mereka takut
menanganinya. Berkat bantuan Dr. Kambojie yang setia menjadi
pendampingnya hingga sekarang, Sulasi kemudian bisa melahirkan
secara normal di rumah sakit.
Proses kelahiran putri sulungnya itu meninggalkan jejak luka
hati yang sulit ia lupakan. Jauh lebih sakit dibandingkan
dengan serangan virus HIV pada tubuhnya. Di ruang persalinan,
semua dokter dan perawat yang menanganinya mengenakan pakaian
tertutup seperti astronot. "Mereka enggan memegang bayiku,"
tuturnya pedih.
Keadaan menjadi ruwet gara-gara seorang bidan yang turut
menyaksikan proses persalinan itu kemudian menyebarkan kabar
menyesatkan kepada tetangga-tetangga Sulasi. "Tetanggamu
kena AIDS. Kamu dekat saja bisa mati. Minum air dari sumur
yang dia pakai juga bisa mati," begitu kira-kira isu yang
disebarkan si bidan.
Media juga makin mengeruhkan suasana. Ibu baru yang sehat itu
diberitakan kurus kering, rambutnya rontok, dan suami serta
anaknya sudah tertular. Karuan saja warga desa itu jadi takut
bertemu Sulasi. Aparat desa bukannya meredakan suasana, tapi
malah mengusirnya.
Mendidik Lingkungan
Sakit hati
karena dikucilkan tidak melemahkan Sulasi. Ia justru seperti
mendapat keberanian untuk berjuang. Apalagi setelah Dr.
Kambojie memintanya berbicara mengenai HIV/IDS di hadapan umat
sebuah gereja.
Kesempatan itu, menjadi pemantik baginya untuk mendidik
lingkungannya. Ia membagi buku-buku saku tentang HIV/AIDS
kepada penduduk desa. Dalam forum arisan atau pertemuan PKK ia
berusaha membeberkan berbagai hal tentang virus tersebut. Tak
luput, ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya di sekolah TK
juga menjadi sasaran penyadarannya.
Berkat perjuangan itu, masyarakat sekitar akhirnya bisa
menerima diirinya apa adanya. Aparat yang dulu mengucilkannya,
kini sudah berubah sikap. Bahkan dokter-dokter yang dulu
menolaknya, kini selalu menerima kedatangannya dengan sangat
baik. "Kalau saya membawa anak berobat malah sering
gratis," ujarnya seraya melepas senyum.
Sulasi tak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika tak
mendapat dukungan penuh, terutama dari sang suami. "Dia
memang luar biasa. Keluargalah sumber utama semangat hidup
saya," ucapnya sambil memperlihatkan foto pria berkulit
terang bersama dua anaknya.
Suaminya, selalu mengingatkan bahwa Sulasi tak boleh
memikirkan adanya virus di tubuhnya. Jika itu terjadi, ia akan
menderita bukan karena HIV, tapi karena dimakan pikirannya
sendiri.
Sulasi tentu tak ingin mengecewakan suami tercinta. Ia pun
berusaha menjalani kesehariannya secara wajar. Sulasi dan para
ODHA lain memang punya hak untuk melanjutkan hidup mereka
tanpa diskriminasi. @ Endang Saptorini .
sumber:
Kompas
Cyber Media
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |