OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Sulasi: Dipaksa Tes Darah, Dikucilkan dan Diusir..!

Ia dipaksa tes darah, dikucilkan, dan diusir dari desanya. Sempat pula diburu layaknya penjahat. Rentetan pengalaman pahit itu dialami Sulasi pada awal ia terdeteksi positif mengidap HIV/AIDS. "Takut pada HIV itu perlu, tapi janganlah takut kepada ODHA," ujarnya meminta agar orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap diperlakukan sebagai manusia.

Bangun lebih dini dari matahari, bersujud pada ilahi, mengurus rumah tangga, lalu berjalan kaki pergi pulang ke kebun untuk merawat tanaman kopi di kaki Gunung Semeru. Itulah keseharian Sulasi (32). Beberapa tahun terakhir ia memang bisa menjalani hidup normal bersama suami serta dua buah hatinya yang sehat walafiat. Ada kalanya ia berhari-hari meninggalkan rumah dan keluarganya di Dampit, Malang, Jawa Timur. Ia mesti terbang ke Makasar, Kupang, Bali, atau kota lain untuk memberi dukungan kepada sesama ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Dalam rangka itu pula Sulasi ke Jakarta, dan sempat singgah di kantor redaksi SENIOR, pekan lalu."Maaf saya nggak bisa cerita masa-masa awal terkena HIV karena itu saat yang paling sulit, " ujarnya terus terang. Sulasi adalah pengidap HIV/AIDS yang pertama ditemukan di Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 1990.

Vonis Mati

Sejak tahun 1996, ia mulai berani menampilkan diri, namun ada bagian-bagian hidupnya yang tetap utuh menjadi miliknya seorang. Yang jelas, 12 tahun lalu tanpa pendamping, dan karena paksaan pula, ia harus menjalai tes darah.

Ketika ketahuan darahnya positif terinfeksi HIV, ia pun mulai menerima perlakuan yang serba menyakitkan. Habis diperiksa, ia kebetulan mudik ke kampung. Tapi, apa yang kemudian terjadi? Ia diberitakan melarikan diri padahal Sulasi tak tahu apa yang tengah menimpa dirinya. Saat itu, ia memang jadi bulan-bulanan media massa.

"Saya malah sempat baca koran dan membatin, kasihan amat ini orang kok melarikan diri. Saya tidak tahu kalau yang sedang dicari-cari itu saya," ungkapnya mengenang peristiwa itu. Aparat sampai meminta bantuan dukun dari Madura untuk memburu perempuan sederhana ini.

Ketika sudah ditemukan, ia malah mendapat penjelasan yang menyeramkan dari dokter. Ia dibilang kena AIDS dan dalam tempo dua minggu atau tiga bulan, paling lama enam bulan, bakal meninggal.

Lalu, selama satu minggu, Sulasi hanya bisa menangis. Ia berusaha menguatkan diri dan mohon lindungan Sang Pencipta. Namun, mentalnya melemah lagi karena ia merasa tengah menanti hukuman mati. Saking stresnya, ia sempat berpikir untuk bunuh diri. Untung saja, itu tak sampai terlaksana.

Ditolak Dokter

Dua minggu, enam bulan, setahun pun berlalu. Sulasi masih tetap hidup dan tidak sakit-sakitan. Berita buruk yang sensasional tentang dirinya terus saja ditulis. Namun, itu tidak sampai mengontaminasi penduduk desa. Ia pun setidaknya masih bisa menghirup segarnya udara desa tanpa banyak gangguan.

Kebetulan di Lebak Arjo, tak jauh dari desanya waktu itu digelar pesta para pandu sedunia. Banyak tontonan untuk rakyat. Saat menikmati keramaian itulah, Sulasi bertemu pria yang kemudian menikahinya.

"Saya bersyukur sekali, dia mungkin hanya ada satu diantara puluhan ribu pria," ucapnya bangga, tanpa mau menyebut nama suaminya.

Sebelum menikah, ia mengajak suaminya ke RS Dr Sutomo, Surabaya, untuk melakukan konseling bersama. Semula, ia sempat dilarang menikah dan punya anak. Semua itu ia langgar. Boleh dibilang mukjizat Tuhan telah bekerja, jika sampai sekarang suami dan kedua anak Sulasi tidak tertular HIV, padahal ia tak pernah minum obat apapun.

Hingga usia kehamilan sembilan bulan pun ia tak pernah periksa ke dokter. Jangankan periksa, ia datang ke ruang tunggu saja sudah membuat si dokter lari menghindar. Mereka takut menanganinya. Berkat bantuan Dr. Kambojie yang setia menjadi pendampingnya hingga sekarang, Sulasi kemudian bisa melahirkan secara normal di rumah sakit.

Proses kelahiran putri sulungnya itu meninggalkan jejak luka hati yang sulit ia lupakan. Jauh lebih sakit dibandingkan dengan serangan virus HIV pada tubuhnya. Di ruang persalinan, semua dokter dan perawat yang menanganinya mengenakan pakaian tertutup seperti astronot. "Mereka enggan memegang bayiku," tuturnya pedih.

Keadaan menjadi ruwet gara-gara seorang bidan yang turut menyaksikan proses persalinan itu kemudian menyebarkan kabar menyesatkan kepada tetangga-tetangga Sulasi. "Tetanggamu kena AIDS. Kamu dekat saja bisa mati. Minum air dari sumur yang dia pakai juga bisa mati," begitu kira-kira isu yang disebarkan si bidan.

Media juga makin mengeruhkan suasana. Ibu baru yang sehat itu diberitakan kurus kering, rambutnya rontok, dan suami serta anaknya sudah tertular. Karuan saja warga desa itu jadi takut bertemu Sulasi. Aparat desa bukannya meredakan suasana, tapi malah mengusirnya.

Mendidik Lingkungan

Sakit hati karena dikucilkan tidak melemahkan Sulasi. Ia justru seperti mendapat keberanian untuk berjuang. Apalagi setelah Dr. Kambojie memintanya berbicara mengenai HIV/IDS di hadapan umat sebuah gereja.

Kesempatan itu, menjadi pemantik baginya untuk mendidik lingkungannya. Ia membagi buku-buku saku tentang HIV/AIDS kepada penduduk desa. Dalam forum arisan atau pertemuan PKK ia berusaha membeberkan berbagai hal tentang virus tersebut. Tak luput, ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya di sekolah TK juga menjadi sasaran penyadarannya.

Berkat perjuangan itu, masyarakat sekitar akhirnya bisa menerima diirinya apa adanya. Aparat yang dulu mengucilkannya, kini sudah berubah sikap. Bahkan dokter-dokter yang dulu menolaknya, kini selalu menerima kedatangannya dengan sangat baik. "Kalau saya membawa anak berobat malah sering gratis," ujarnya seraya melepas senyum.

Sulasi tak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika tak mendapat dukungan penuh, terutama dari sang suami. "Dia memang luar biasa. Keluargalah sumber utama semangat hidup saya," ucapnya sambil memperlihatkan foto pria berkulit terang bersama dua anaknya.

Suaminya, selalu mengingatkan bahwa Sulasi tak boleh memikirkan adanya virus di tubuhnya. Jika itu terjadi, ia akan menderita bukan karena HIV, tapi karena dimakan pikirannya sendiri.

Sulasi tentu tak ingin mengecewakan suami tercinta. Ia pun berusaha menjalani kesehariannya secara wajar. Sulasi dan para ODHA lain memang punya hak untuk melanjutkan hidup mereka tanpa diskriminasi. @ Endang Saptorini .

sumber: Kompas Cyber Media

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan