OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

VAGINAL DOUCHING: Praktik Hygiene Perorangan pada Perempuan

Hasil survei oleh Yayasan Hotline Surabaya terhadap ibu rumah tangga dan pekerja seks di Kecamatan Krembangan, Surabaya

Praktik vaginal douching didefinisikan sebagai upaya pembersihan/bilas vagina baik eksternal maupun internal.   Eksternal douching meliputi pembilasan labia dan bagian luarl vagina dengan bahan-bahan tertentu, sedangkan internal douching meliputi memasukkan bahan/alat pembersih ke dalam vagina dengan jari, dan/atau dalam bentuk spraying atau liquid.  Praktik vaginal douching atau tindakan bilas vagina sering dilakukan oleh masyarakat umum maupun pekerja seks (PS) sebagai bagian dari personal hygiene perempuan. 

Yayasan Hotline Surabaya (YHS), secara rutin melakukan kampanye kesehatan reproduksi di wilayah binaannya  yaitu Kecamatan Krembangan melalui outreach kelompok.  Kecamatan Krembangan memiliki karakteristik perempuan yang bervariasi, mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja seks (PS), karena lokasi kecamatan ini berdekatan dengan lokalisasi yaitu Bangunsari.  Pada tahun 2003 YHS melakukan survei terhadap 431 perempuan mengenai kesehatan reproduksi termasuk praktik douching di wilayah binaannya . 

Bahan yang digunakan pada Praktik Douching di Kecamatan Krembangan, Surabaya,  2003

Bahan

Jumlah

%

Sabun

217

50,3

Pembersih Cair

75

17,4

Air

54

12,5

Handuk/Kain/Tisu

42

9,7

Pasta Gigi

22

5,1

Air Sirih

21

4,9

Total

431

100.0

Hasil survei menunjukkan bahwa praktik vaginal douching telah menjadi bagian dari personal hygiene mereka, yang selalu dilakukan secara rutin.  Yang mengkhawatirkan adalah bahan yang biasa digunakan untuk douching, sebagian besar (51%) menggunakan sabun, 18% pembersih vagina cair dengan berbagai merk dan ada sekitar 5% perempuan menggunakan pasta gigi.  Sekitar 50% dari mereka juga meminum ramuan tradisional seperti jamu galian singset, galian rapet, sari rapet, dengan berbagai merk dagang.  Selain itu ada sekitar 6% responden juga mengkonsumi obat-obat modern yang dijual bebas seperti: supertetra dan binotal.  

Beberapa penelitian melaporkan praktik vaginal douching dapat meningkatkan risiko kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS) dan Pelvic Inflammatory Disease (Yayasan Abdi Asih: 1996, dan Joesoef dkk.: 1993).  Penelitian yang dilakukan Joesoef dkk (1993) pada 599 ibu hamil, melaporkan adanya hubungan  praktik douching dengan kejadian PMS.  Douching dengan air saja setelah hubungan seks tidak berhubungan dengan PMS, tetapi resiko PMS akan  meningkat sebesar 2,6 kali lebih tinggi jika menggunakan air dan sabun, atau dengan daun sirih atau produk komersil.  Dampak non medis lain dari praktik douching adalah timbulnya  kepercayaan “semu” khususnya  untuk perempuan kelompok PS.  Mereka percaya bahwa dengan douching sebelum dan sesudah berhubungan seksual akan melindungi dirinya dari penularan PMS, sehingga dapat berakibat pada penurunan pemakaian kondom.  Sebuah penelitian di Jakarta melaporkan bahwa para PS yang diteliti tidak begitu yakin akan fungsi kondom.  Mereka lebih percaya pada alternatif pencegahan PMS lainnya seperti douching atau minum antibiotik sesudah hubungan seksual.  Mereka menganggap khasiatnya lebih ampuh daripada sekedar memakai kondom (Sedyaningsih-Mamahit, 1999).  Keyakinan ini juga ada pada 98% PS di Bali, yang menggunakan pembersih alat kelamin paling tidak setiap hari, 69% di antaranya sesudah berhubungan seksual (Reed dkk, 1999). 

Karena keseimbangan kimiawi vagina sangat sensitif, yang terbaik adalah membiarkan vagina melakukan proses pembersihan sendiri yaitu dengan cara sekresi (pengeluaran) mucus (TopicGuide.com, 2000).  Perlu ditekankan bahwa menggunakan air saja lebih aman dibandingkan dengan menggunakan obat-obatan atau bahan-bahan komersil di pasaran karena akan mempengaruhi pertumbuhan flora dalam vagina yang akan meningkatkan risiko infeksi.  Jika memang hendak menggunakan obat-obatan harus menggunakan bahan yang tidak mengubah pH vagina.

Referensi:

1.          Yayasan Abdi Asih dan Population Council-Jakarta.  Study Etnografi tentang Pembersihan Vagina di Lingkungan Pekerja Seks di Surabaya – Laporan Penelitian.  Yayasan Abdi Asih – Surabaya dan Population Council - Jakarta, 1996.

2.          Joesoef, MR., Sumampouw, H., Linnan, M., Schmid, S., Idajadi, A. dan St. Louis.  Douching and Sexually Transmitted Diseases among Pregnant Women in Surabaya, Indonesia. Georgia: Centers for Disease Control and Prevention, 1993.

3.          Sedyaningsih-Mamahit, E.R.  Perempuan – Perempuan Kramat Tunggak.  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999.

4.          Reed, Barbara, K. Ford, D.N. Wirawan, dkk.  “the Bali STD/AIDS Study: Association between Vaginal Hygiene Practices and STDs among Female Commercial Sex Workers (CSWS)”.   Paper dipresentasikan di the Fifth International Congress on AIDS in Asia and the Pacific, Kuala Lumpur 20-27 October 1999.

5.          TopicGuide.com, 2000

 

sumber: Factsheet Yayasan Mitra INTI, 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan