|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
VAGINAL
DOUCHING: Praktik Hygiene Perorangan pada Perempuan
Hasil
survei oleh Yayasan Hotline Surabaya terhadap ibu rumah tangga
dan pekerja seks di Kecamatan Krembangan, Surabaya
Praktik
vaginal douching didefinisikan sebagai upaya
pembersihan/bilas vagina baik eksternal maupun internal.
Eksternal douching meliputi pembilasan labia dan
bagian luarl vagina dengan bahan-bahan tertentu, sedangkan
internal douching meliputi memasukkan bahan/alat
pembersih ke dalam vagina dengan jari, dan/atau dalam bentuk
spraying atau liquid. Praktik
vaginal douching atau tindakan bilas vagina sering
dilakukan oleh masyarakat umum maupun pekerja seks (PS)
sebagai bagian dari personal hygiene perempuan.
Yayasan
Hotline Surabaya (YHS), secara rutin melakukan kampanye
kesehatan reproduksi di wilayah binaannya
yaitu Kecamatan Krembangan melalui outreach
kelompok. Kecamatan
Krembangan memiliki karakteristik perempuan yang bervariasi,
mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja seks (PS), karena
lokasi kecamatan ini berdekatan dengan lokalisasi yaitu
Bangunsari. Pada tahun 2003 YHS melakukan survei terhadap 431 perempuan
mengenai kesehatan reproduksi termasuk praktik douching di
wilayah binaannya .
|
Bahan
yang digunakan pada Praktik Douching di Kecamatan
Krembangan, Surabaya,
2003
|
|
Bahan
|
Jumlah
|
%
|
|
Sabun
|
217
|
50,3
|
|
Pembersih
Cair
|
75
|
17,4
|
|
Air
|
54
|
12,5
|
|
Handuk/Kain/Tisu
|
42
|
9,7
|
|
Pasta
Gigi
|
22
|
5,1
|
|
Air
Sirih
|
21
|
4,9
|
|
Total
|
431
|
100.0
|
Hasil
survei menunjukkan bahwa praktik vaginal douching telah
menjadi bagian dari personal hygiene mereka, yang selalu
dilakukan secara rutin. Yang
mengkhawatirkan adalah bahan yang biasa digunakan untuk douching,
sebagian besar (51%) menggunakan sabun, 18% pembersih vagina
cair dengan berbagai merk dan ada sekitar 5% perempuan
menggunakan pasta gigi. Sekitar
50% dari mereka juga meminum ramuan tradisional seperti jamu
galian singset, galian rapet, sari rapet, dengan berbagai
merk dagang. Selain
itu ada sekitar 6% responden juga mengkonsumi obat-obat modern
yang dijual bebas seperti: supertetra dan binotal.
Beberapa
penelitian melaporkan praktik vaginal douching dapat
meningkatkan risiko kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS)
dan Pelvic Inflammatory Disease (Yayasan Abdi Asih:
1996, dan Joesoef dkk.: 1993). Penelitian yang dilakukan Joesoef dkk (1993) pada 599 ibu
hamil, melaporkan adanya hubungan
praktik douching dengan kejadian PMS.
Douching dengan air saja setelah hubungan seks tidak
berhubungan dengan PMS, tetapi resiko PMS akan
meningkat sebesar 2,6 kali lebih tinggi jika
menggunakan air dan sabun, atau dengan daun sirih atau produk
komersil. Dampak
non medis lain dari praktik douching adalah timbulnya
kepercayaan “semu” khususnya
untuk perempuan kelompok PS.
Mereka percaya bahwa dengan douching sebelum dan
sesudah berhubungan seksual akan melindungi dirinya dari
penularan PMS, sehingga dapat berakibat pada penurunan
pemakaian kondom. Sebuah
penelitian di Jakarta melaporkan bahwa para PS yang diteliti
tidak begitu yakin akan fungsi kondom.
Mereka lebih percaya pada alternatif pencegahan PMS
lainnya seperti douching atau minum antibiotik sesudah
hubungan seksual. Mereka
menganggap khasiatnya lebih ampuh daripada sekedar memakai
kondom (Sedyaningsih-Mamahit, 1999).
Keyakinan ini juga ada pada 98% PS di Bali, yang
menggunakan pembersih alat kelamin paling tidak setiap hari,
69% di antaranya sesudah berhubungan seksual (Reed dkk, 1999).
Karena
keseimbangan kimiawi vagina sangat sensitif, yang terbaik
adalah membiarkan vagina melakukan proses pembersihan sendiri
yaitu dengan cara sekresi (pengeluaran) mucus (TopicGuide.com,
2000). Perlu ditekankan bahwa menggunakan air saja lebih aman
dibandingkan dengan menggunakan obat-obatan atau bahan-bahan
komersil di pasaran karena akan mempengaruhi pertumbuhan flora
dalam vagina yang akan meningkatkan risiko infeksi.
Jika memang hendak menggunakan obat-obatan harus
menggunakan bahan yang tidak mengubah pH vagina.
Referensi:
1.
Yayasan Abdi Asih dan Population
Council-Jakarta. Study
Etnografi tentang Pembersihan Vagina di Lingkungan Pekerja
Seks di Surabaya – Laporan Penelitian.
Yayasan Abdi Asih – Surabaya dan Population
Council - Jakarta, 1996.
2.
Joesoef, MR., Sumampouw, H., Linnan, M.,
Schmid, S., Idajadi, A. dan St. Louis.
Douching and
Sexually Transmitted Diseases among Pregnant Women in
Surabaya, Indonesia. Georgia: Centers for Disease Control
and Prevention, 1993.
3.
Sedyaningsih-Mamahit, E.R.
Perempuan –
Perempuan Kramat Tunggak.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999.
4.
Reed, Barbara, K. Ford, D.N. Wirawan, dkk.
“the Bali STD/AIDS Study: Association between Vaginal
Hygiene Practices and STDs among Female Commercial Sex Workers
(CSWS)”. Paper
dipresentasikan di the
Fifth International
Congress on AIDS in Asia and the Pacific, Kuala Lumpur
20-27 October 1999.
5.
TopicGuide.com, 2000
sumber:
Factsheet
Yayasan Mitra INTI, 2004
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |