OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Ilmuwan: Sunat dapat Mencegah Infeksi HIV

Pria yang disunat mempunyai risiko jauh lebih kecil untuk terinfeksi HIV, virus penyebab penyakit AIDS karena alasan biologi, kata para ilmuwan Amerika, Jumat.

Hasil penelitian memperlihatkan pria yang disunat yang lapisan kulit luar ujung penisnya (bagian alat kelamin pria) telah diangkat mempunyai resiko enam sampai delapan kali jauh lebih kecil untuk terkena HIV (Human Immuno-dificiency Virus) virus penyebab penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh (AIDS) sehingga pengidap akan mudah terserang berbagai penyakit infeksi dan akan berakibat fatal.

Para peneliti dari Universtias John Hopkins di Baltimore, Marrland menemukan sunat pada pria mempunyai dampak sebagai pelindung terhadap HIV namun terhadap penyakit kelamin lainnya seperti syphilys (raja singa) atau gonorrhoea (kencing nanah) sejauh ini belum teruji.

"Spesifikasi dari hubungan antara sunat dan efek perlindungan terhadap HIV lebih ditekankan dalam faktor biologis dan bukan pada perilaku, " kata Dr Robert Bollinger dalam laporan hasil penelitian yang dimuat majalah kedokteran Lancet.

Sunat adalah tindakan yang kini sudah menjadi kebiasaan di Amerika Serikat dan sudah di lama dikenal belahan dunia lainnya yang berkaitan erat dengan budaya dan agama Islam .

Bollinger dan timnya meneliti dari tahun 1993 hingga 2000 kepada sejumlah pria di India dimana kebiasaan sunat bukan hal yang menjadi kebiasaan dinegara itu.

Keseluruhan pria yang berjumlah 2.298 menjalani pengobatan untuk penyakit hubungan seksual pada awal penelitian ditemukan HIV negatif namun sejalan dengan waktu status HIV pria-pria tersebut mengalami perubahan.

"Dari sejumlah data ditemukan sunat pada pria akan mengurangi risiko terkena HIV," kata Bollinger.

Karena penelitian efek sunat dilakukan hanya terhadap HIV maka efek serupa terhadap penyakit akibat hubungan seksual lainnya belum dapat diketahui.

Namun Bollinger dan teman-temannya menarik kesimpulan hasil penelitian mereka mendukung hipotesa efek perlidungan terhadap HIV disebabkan dibuangnya kulit paling luar dari ujung penis yang mengandung sel-sel yang bersifat mudah menerima HIV yang dalam perkiraan para ilmuwan menjadi gerbang masuk virus tersebut kedalam alat kelamin pria.

"Dari penelitian kami berkesimpulan kulit paling luar dari ujung (kepala penis) memegang peranan penting dalam penularan penyakit seksual virus HIV dari sisi biologis," katanya.

Sebagian peneliti telah menganjurkan sunat pada pria dapat dijadikan upaya untuk mencegah penularan HIV.

Bollinger dan rekan-rekannya mengatakan uji klinis sunat pada pria dimana dapat diterima secara budaya dan agama dapat memberikan perlindungan dan pencegahan secara efektif terhadap AIDS. (DPA/Ant/O-1)

sumber: Media Indonesia Online

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan