|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Penyakit Suami Derita Istri ...
Pernikahan memang bukan soal sepele. Banyak yang harus disiapkan, termasuk mencegah kemungkinan tertular penyakit yang diidap suami.
Sekurang-kurangnya ada lima-enam penyakit yang mungkin diidap suami dan menimbulkan masalah di pihak istri. Salah satunya adalah potensi penyakit menular. Tidak sedikit suami yang tidak tahu kalau ia mengidap penyakit menular. Mungkin ia hanya carrier, atau pembawa penyakit, dan tidak sakit. Biasanya, suami baru memeriksakan diri setelah istri tertular. Jika ini terjadi, tentu bukan masalah kecil yang perlu dipikul istri, oleh karena istri terlambat melakukan upaya-upaya pencegahan.
Kalau penyakit yang menulari pihak istri tergolong yang belum bisa disembuhkan, tentu akan menjadi penderitaan istri sepanjang hidup. Kena AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C, misalnya, mestinya tidak boleh sampai terjadi.
Apa saja penyakit-penyakit yang bisa tertular ke istri
1. Hepatitis
Penyakit hepatitis banyak jenisnya. Ada yang tidak menular, ada pula kelompok penyakit hati yang bersifat menular. Penyakit hati menular yang paling ditakuti adalah hepatitis karena virus. Ada Hepatitis tipe A sampai tipe G. Saat ini, ada dua Hepatitis virus yang harus diwaspadai, yakni Hepatitis B dan Hepatitis C. Dua-duanya ganas dan sangat menular, selain melalui cairan tubuh dan darah, juga lewat hubungan seks.
Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata. Maka, tak salah jika dilakukan pemeriksaan laboratorium pranikah untuk mendeteksi Hepatitis B. Tentu, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada.
Lain hal jika hasil pemeriksaan menunjukkan masih aktif mengidap virus. Selain perlu diobati sampai sembuh (virus Hepatitis B-nya terbasmi), pihak istri atau suami perlu dilindungi agar tidak sampai tertular. Sebelum tiba hari pernikahan, tentu pasangan sudah harus kebal terimunisasi Hepatitis B.
Berbeda dengan Hepatitis A atau Hepatitis B, gejala Hepatitis C biasanya tidak muncul (subklinis), keluhan yang ditimbulkannya pun tidak nyata. Dari sebuah studi terungkap, tigaperempat pengidap virus Hepatitis C tidak menyadari kalau dirinya terinfeksi. <BR>Orang yang mengidap Hepatitis C jarang yang sembuh. Sebagian besar berkembang menahun dan akhirnya menjadi sirosis hati. Vaksinasi terhadap Hepatitis C masih belum berhasil dibuat. Dan oleh karena lebih bermasalah, sedang cara menular dan infeksiusnya sama dengan Hepatitis B, terhadap Hepatitis C yang belum bisa dikebalkan, kita perlu lebih waspada.
2. Kencing nanah
Berbeda dengan Hepatitis B, suami yang mengidap kencing nanah (gonorrhoe) bukan tidak tahu kalau dirinya mengidap kencing nanah. Jika suami mengidap kuman kencing nanah yang bandel, bisa jadi penyakit kencing nanahnya belum sembuh betul. Tak jarang, calon pengantin yang kena kencing nanah sudah bolak-balik berobat namun belum sembuh juga, dan karena takut menulari pasangannya, pasien pun menunda-nunda hari perkawinannya, tanpa memberi tahu pihak calon istri apa sebabnya.
Ada generasi kuman kencing nanah yang memang bandel. Gejala penyakit kencing nanahnya mungkin tidak begitu nyata lagi, namun jika dilakukan pemeriksaan getah prostat, nanah akan keluar bersama lendir (lewat urut prostat). Gejala kencing nanah yang masih baru sangat nyata. Dari liang penis pada pria atau di mulut vagina pada wanita, menetes nanah menyerupai susu kental manis yang biasanya meninggalkan flek di celana dalam. Nanah umumnya menetes waktu bangun tidur pagi hari (morning drip).
Jika penyakit sudah berlangsung menahun (lebih dari 6 bulan), gejala itu mungkin tidak lagi nyata. Penyakit biasanya sudah bersarang masuk jauh ke organ reproduksi yang lebih dalam. Pada pria sudah ke buah zakar, atau sudah sampai ke kelenjar prostat, dan pada wanita bisa sampai ke saluran telur tuba. <
Hampir sama dengan kencing nanah, ada jenis kuman lain yang juga ditularkan lewat hubungan seks, yakni kuman chlamydia. Di AS, penyakit ini ditakuti sebab menyerang sebagian besar pria dewasa, yang diperoleh dari wanita penghibur, prostitusi, atau kegiatan seks bebas. Mirip kencing nanah, gejala chlamydia juga ada yang menetes dari liang penis, namun tidak kental seperti kencing nanah, selain timbul pembengkakan kelenjar.
Jika kencing nanah atau chlamydia suami telanjur menulari istri dan jenis kumannya tergolong yang sudah kebal obat, tentu akan mengganggu jalannya perkawinan. Jadi, jauh hari sebelum menikah, calon suami sebaiknya mau terbuka jika memang merasa pernah berbuat kekeliruan, entah main perempuan lacur atau pernah melakukan seks bebas.
Kencing nanah pada istri hamil yang tertular memang tidak akan menimbulkan kecacatan pada bayi yang dikandung, namun perlu waspada selama persalinan. Mata bayi perlu diberi pelindung. Dan karena kencing nanah pada wanita sering tersamar menyerupai penyakit keputihan, maka sering terabaikan dan tidak diobati sebagai kencing nanah. Ingat, jika keputihan kental kuning tak sembuh-sembuh dengan obat keputihan, jangan lupa untuk mengingat kencing nanah.
3. Herpes genitalis
Penyakit herpes disebabkan oleh virus. Ada herpes zoster yang biasa tumbuh di kulit sesisi tubuh menyerupai cacar berderet seperti ular (di kampung disebut cacar ular), ada pula herpes simplex yang bisa tumbuh di bibir dan mulut, bisa juga di kemaluan. Herpes zoster bisa di wajah, dada, perut, paha, sampai kaki, hanya menyerang sesisi tubuh, dan bukan penyakit menular seksual. Sedangkan herpes simplex kelamin tergolong penyakit menular seksual karena ditularkan lewat hubungan seks.
Penyakit herpes kelamin tidak mematikan, tidak pula berkomplikasi berat, namun belum bisa disembuhkan. Orang yang mengidap herpes kelamin akan terus membawa penyakitnya sepanjang hidup. Virus bersembunyi di dalam kulit tempat mula asal timbulnya, dan sewaktu-waktu akan muncul jika kondisi tubuh sedang lemah.
Gejala herpes kelamin diawali tumbuhnya lenting bening yang awalnya gatal, lama kelamaan menjadi panas, dan pedih. Lenting-lenting herpes bergerombol tumbuh pada selaput lendir kemaluan. Pada pria, biasanya di kepala atau leher penis. Dalam <BR>beberapa hari, lenting akan pecah dan membentuk luka lecet yang pedih. Diobati atau tidak diobati, herpes kelamin akan mereda sendiri dalam satu-dua minggu.
Meredanya penyakit tidak berarti virus sirna dan penyakit punah. Sewaktu-waktu bisa kambuh lagi. Pada episode kambuh lagi itulah, virus herpes berpotensi menular kepada pasangan seks. Istri akan tertular jika hubungan seks dilakukan saat suami kambuh. Situasi ini sering dilematis, sebab bisa saja suami menyangkal dan malah menuduh balik istri yang justru sumber penular herpesnya.
Obat-obat antiherpes yang ada hanya mempercepat proses kesembuhan dan menjarangkan kekambuhan, namun belum bisa menyembuhkan. Oleh karena itu, memang tidak ada cara lebih arif bagi suami yang mengidapnya, selain segera berterus-terang kepada calon istri, daripada berbuntut panjang setelah telanjur memasuki perkawinan.
Istri yang mengidap herpes kelamin harus dirawat sampai terbentuk kekebalan terhadap herpesnya agar tidak sampai menularkan kepada bayi yang dikandungnya. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan darah TORCH berseri (Toxoplasma, Rubella atau campak Jerman, Cytomegallo virus, dan Herpes genitalis), sampai hasil pemeriksaan terakhir sudah betul-betul aman untuk boleh mulai hamil setelah dokter memberikan lampu hijau.
4. Cytomegallo virus
Kita mengenal satu penyakit lain yang disebabkan oleh virus cytomegallo. Penyakit ini tidak boleh diidap ibu hamil sebab bisa menimbulkan cacat pada bayi yang dikandungnya. Itu sebab pemeriksaan kemungkinan adanya virus cytomegallo dengan pemeriksaan darah TORCH pranikah sungguh diperlukan, agar jika positif cytomegallo, ada kesempatan untuk disembuhkan dulu sebelum kehamilan terjadi.
Virus cytomegallo ditularkan lewat berciuman. Kita tahu begitu banyak kuman dan virus yang ditularkan melalui berciuman. Virus lain cytomegallo lebih berbahaya dibanding virus Hepatitis B jika diidap ibu hamil, oleh karena bahaya menimbulkan kecacatan pada bayi yang dikandung.
Suami atau istri bisa saja tertular virus cytomegallo mungkin dari teman kencan selama pranikah atau entah dari mana saja, kebanyakan lewat kegiatan berciuman. Oleh karena gejala penyakitnya tidak begitu khas, mungkin seperti radang mulut biasa atau seperti seriawan belaka, orang tidak sadar kalau sedang mengidapnya. Dari mana pun virus itu didapat istri hanya dapat terungkap dengan memeriksakan darah TORCH, apakah aktif mengidap virus cytomegallo sebelum telanjur hamil.
PENTINGNYA PEMERIKSAAN GENETIK
Sering kita dengar nasihat agar tidak menikah dengan pasangan dari garis darah yang berdekatan (antar sepupu, misalnya), apalagi kawin incest (sedarah), sebab masing-masing mewarisi gen lemah yang sama.
Jika gen lemah masing-masing pasangan saling berpadu, maka akan melahirkan anak yang mewarisi pembauran dua gen lemah identik, sehingga melahirkan anak dengan gen kuat untuk mengejawantahkan suatu penyakit tertentu.
Tak jarang kita melihat di dalam suatu sistem kekerabatan (clan), agar warisan tahta atau harta tidak sampai berpindah tangan ke luar garis keluarga (clan), maka dibangun tradisi mereka menikah antar-sedarah dekat. Di lingkungan demikian itulah, kita banyak melihat kasus penyakit keturunan (cacat, kelainan, gangguan jiwa).
Namun, itu tidak berarti perkawinan dengan sifat darah yang tidak dekat pun bukan tanpa risiko melahirkan anak dengan suatu penyakit keturunan. Faktor penyebabnya, jika terjadi secara kebetulan gen lemah masing-masing pasangan saling bertemu.
Di luar penyakit yang sudah nyata tampak (kencing manis, thalasemia, hemofilia, buta warna, penyakit jiwa, ayan) dari masing-masing pihak keluarga, kita tidak tahu kalau dalam tubuh masing-masing pihak membawa (mewarisi) gen lemah untuk suatu penyakit keturunan tertentu. Sebut saja pihak istri maupun pihak suami membawa gen lemah thalasemia. Tanpa pemeriksaan darah khusus (genetik karyotype), kita tidak bakal tahu mengidapnya, selain kelak menghadapi kenyataan melahirkan anak yang positif
thalasemia.
Di situ letak pentingnya pemeriksaan genetik, antara lain dengan pemeriksaan darah. Dari darah akan bisa diramalkan sekian banyak potensi penyakit keturunan yang bakal mengejawantah jika sepasang calon suami-istri membuahkan keturunan. Nasihat genetik akan memberi jalan keluar sekiranya benar ditemukan potensi itu.
Atau bila belum melakukan pemeriksaan genetik pranikah, sebelum kehamilan mencapai usia 12 minggu, kini sudah dapat memeriksakan diri untuk melihat kemungkinan risiko melahirkan anak dengan penyakit keturunan (atau cacat bawaan). Dari analisis cairan ketuban yang diambil dari dalam kandungan (disedot), secara medis akan terungkap apakah anak yang dikandung berpenyakit keturunan ataukah tidak.
Selain itu, dari analisis gen, pihak medis dapat memberiksan nasihat sekiranya ditemukan risiko mewariskan gen buruk terhadap anak yang bakal dikandung. Mungkin menyarankan tidak punya anak kandung saja. Susahnya, cinta seringkali membuat orang tak rasional. Repotnya lagi, kalau cinta sudah di ubun-ubun, manalah mungkin rencana sehidup semati dan niat memperoleh anak buah cinta bisa dibatalkan.
sumber:
Tabloid
Nova
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |