OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Kasus HIV/AIDS di Papua Terus Meningkat

Pertumbuhan kasus HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) di wilayah Provinsi Papua, terus meningkat. Data kumulatif dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, yang disebarkan Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Papua, Minggu (29/1), hingga 31 Desember 2005 mencapai 2.163 kasus HIV/AIDS.

Padahal, tahun sebelumnya (2004) baru mencapai 1.749 kasus HIV/AIDS. Dan pada 2000, baru 427 kasus, setelah ditemukan pertama kali di wilayah Kabupaten Merauke pada 1992 sebanyak 6 kasus HIV.

Ketika dimintai komentarnya, Koordinator Pusat Tes dan Konseling Sukarela (Voluentary, Councelling and Testin/VCT) HIV/AIDS pada RSUD Jayapura, dr. Samuel Basso mengatakan, pertumbuhan data kumulatif pengidap HIV/AIDS itu dikarenakan warga masyarakat Papua semakin sadar akan pentingnya arti pemeriksaan diri ke pusat-pusat VCT pada berbagai RSUD yang tersebar di wilayah Papua.

"Karena masyarakat semakin sadar dan mau memeriksa darahnya, memudahkan pihak medis menemukan kasus-kasus baru," kata Samuel Basso di Jayapura, Minggu (29/1).

Upaya menekan tingkat penyebaran HIV/AIDS di Papua cukup gencar. Namun apakah warga masyarakat yang lazim melakukan hubungan seks berisiko sudah disiplin melakukan kiat-kiat pencegahan, masih perlu penelitian lebih mendalam.

"Sebagai contoh, ATM Kondom yang ditempatkan di kawasan Lokalisasi Pekerja Seks Komersial di Sentani, Jayapura yang sering dikunjungi berbagai pihak. Tapi, apakah setelah mengambil kondom itu, digunakan dalam aktivitas seksnya atau tidak. Bisa saja, kondom itu hanya diambil untuk memenuhi syarat perkunjungan ke lokalisasi," ungkapnya.

Menurut Basso, maraknya pertumbuhan panti pijat dengan fungsi ganda (pijat kesehatan dan kebugaran tubuh, tapi juga membuka peluang bagi transaksi seks) di Papua belakangan ini sulit dibendung. Ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak, terutama perhatian dalam bentuk peningkatan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS.

Dari pengamatan Media, hampir seluruh wilayah kabupaten/kota se-Papua, panti pijat tradisionalnya memiliki fungsi ganda. Ini memiliki korelasi positif dengan data komulatif kasus HIV/AIDS paling akhir yang diterbitkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Diketahui, faktor heteroseks-lah sebagai faktor penyebab penularan HIV/AIDS paling dominan di Papua.

Buktinya, faktor heteroseks di Papua menyumbangkan 1.109 kasus HIV dari 1202 kasus HIV di Papua, dan 898 kasus AIDS dari 961 kasus AIDS di Papua hingga akhir 2005.

Dari sisi golongan umur, warga Papua berusia produktif antara 15 sampai 59 tahun merupakan golongan umur paling banyak terbukti mengidap HIV/AIDS (15 s/d 19 tahun, 190 kasus; 20 s/d 29 tahun, 898 kasus; 30 s/d 39 tahun, 537 kasus; 40 s/d 49 tahun, 200 kasus; dan 50 s/d 59 tahun, 66 kasus).

Dari segi penyebarannya menurut wilayah kabupaten / kota, peringkat tertinggi di Kabuapten Merauke sebanyak 769 kasus. Disusul Kabupaten Mimika dengan 592 kasus, dan Kota Jayapura sebanyak 214 kasus. Tiga kabupaten lain yang paling berpotensi adalah Kabupaten Biak, Nabire dan Jayapura, berturut-turut dengan 139 kasus, 117 kasus dan 116 kasus.

Sungguhpun demikian, data Dinas Kesehatan Provinsi Papua tersebut memperlihatkan penyebaran kasus HIV/AIDS itu telah tersebar diseluruh wilayah kabupaten / kota di Papua, tanpa kecuali.

Karena itu, Samuel Basso memprediksi, pertumbuhan angka kumulatif kasus HIV/AIDS di Papua masih akan terus meningkat paling cepat hingga lima tahun mendatang. 

sumber: Media Indonesia Online

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan