|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Hasil Angket
Kebutuhan dan Minat Odha: Odha Paling Butuh Bantuan Obat!
Jenis layanan apakah yang paling dibutuhkan orang dengan
HIV/AIDS (Odha)? Jawabannya, tak lain: layanan bantuan obat!
Paling tidak itulah yang disampaikan 38 Odha di Jakarta,
Oktober 2002 lalu. Pada Pertemuan Pelita Plus -Kelompok
Persahabatan Odha di Yayasan Pelita Ilmu- yang dihadiri 70
Odha itu, seluruh pengisi angket (100%) merasa bahwa bantuan
obat-obat antiretroviral adalah layanan yang sangat dibutuhkan
Odha.
Kemajuan obat-obat AIDS -biasa disebut obat-obat
antiretroviral (ARV)- belakangan ini memang memberikan harapan
besar bagi para Odha. Penggunaan kombinasi tiga jenis obat ARV
(triple drugs) telah terbukti mampu menurunkan jumlah HIV di
tubuh Odha hingga tak bisa dideteksi lagi (undetectable).
Menurut informasi Dr. Zubairi Djoerban pada acara "Sarasehan
& Buka Puasa Bersama Odha" di Sanggar Kerja YPI Sabtu,
9 November 2002, pada saat ini di Jakarta terdapat 98 Odha
yang telah mencapai kondisi HIV undetectable. Akibatnya, Odha
bisa menjalani hari-harinya dengan mantap, bugar, karena masa
tanpa gejala-gejala AIDS bisa diperpanjang. Beberapa Odha
kembali aktif bekerja/sekolah karena kondisi fisiknya membaik
setelah meminum obat-obat ARV dengan teratur. Saat ini, lebih
dari 300 Odha mampu membeli obat-obat ARV berjenis generik (di
Pokdisus AIDS FKUI/RSCM) karena harganya jauh lebih murah
daripada obat yang paten. Meski demikian, harga obat ARV
generik sekitar 700 ribu rupiah per bulan tetap saja masih
sulit terjangkau bagi kebanyakan Odha. Maka, tak heran 100%
Odha tadi menyatakan layanan yang paling dibutuhkan adalah
bantuan obat ARV.
Mempertahankan kondisi fisik tubuh selalu menjadi perhatian
Odha. Buktinya, selain obat-obat ARV, Odha (95%) juga merasa
butuh dengan obat-obat infeksi oportunistik, layanan
pemeriksaan laboratorium, dan layanan tenaga medis.
Tak hanya masalah medis, Odha sering kali menghadapi
masalah-masalah psikologis dan sosial. Untuk itu, Odha (97%)
membutuhkan layanan pertemuan antar Odha. Hampir semua Odha
amat berharap agar dipersering acara-acara kumpul sesama Odha.
Pertemuan itu membuat Odha merasa tidak sendirian menghadiri
masalah yang dihadapi, dapat saling bertukar kisah dan harapan.
Sering kali Odha mengaku bahwa seusai menghadiri pertemuan
antar Odha, timbul semangat dan kekuatan baru untuk menjalani
kehidupan yang lebih bermakna dan berjiwa optimis.
Karena beban psikologis yang dialaminya, Odha (95%) merasa
butuh dengan layanan tenaga konselor yang mampu memberikan
alternatif-alternatif pilihan untuk mengatasi
masalah-masalahnya. Selain itu, sebanyak 92% Odha menyatakan
butuh atas layanan relawan pendamping yang bersedia menjadi
sahabat terpercaya untuk berbagi rasa, berkeluh kesah dan
menemani hari-harinya.
Jenis-jenis layanan lainnya yang dibutuhkan Odha dapat dilihat
pada Tabel 1. Secara umum terlihat bahwa sebagian besar Odha
nampaknya merasa butuh dengan ke-18 jenis layanan tersebut.
Buktinya, layanan di ranking terakhir pun dibutuhi oleh lebih
dari 70% Odha.
Table 1: Layanan Dukungan yang Dibutuhkan Odha (n=38)
| No. |
Jenis
Layanan Dukungan yang Diberikan untuk Odha |
Jumlah
Odha yang Butuh (%) |
| 1 |
Layanan
bantuan obat-obat antiretroviral |
100 |
| 2 |
Layanan
pertemuan antar Odha |
97 |
| 3 |
Layanan
bantuan obat-obat infeksi oportunistik |
95 |
| 4 |
Layanan
pemeriksaan laboratorium (CD4, viral load) |
95 |
| 5 |
Layanan tenaga
medis (dokter, perawat) |
95 |
| 6 |
Layanan
konseling Odha (tatap muka dengan seorang konselor
terlatih) |
95 |
| 7 |
Layanan
relawan pendamping Odha |
92 |
| 8 |
Layanan
hotline telepon (untuk berbincang tentang masalah2 Odha) |
89 |
| 9 |
Layanan tenaga
psikolog |
87 |
| 10 |
Layanan terapi
kreatif (musik, film, bacaan hiburan, wisata alam, dll) |
87 |
| 11 |
Layanan ahli
nutrisi (makanan bergizi) |
84 |
| 12 |
Layanan
bantuan makanan-makanan bergizi |
84 |
| 13 |
Layanan
bantuan modal usaha kerja mandiri (agar Odha tetap
produktif) |
82 |
| 14 |
Layanan ahli
agama (ustadz, pendeta, dll) |
79 |
| 15 |
Layanan
bantuan advokasi (untuk mengatasi masalah-masalah sosial
Odha) |
76 |
| 16 |
Layanan
penyuluhan kepada keluarga Odha (tentang hidup bersama
Odha) |
76 |
| 17 |
Layanan ahli
pengobatan tradisional (jamu, akupresur, akupuntur, dll) |
71 |
| 18 |
Layanan ahli
olah kebugaran tubuh (senam, yoga, meditasi, dll). |
71 |
Odha Paling Butuh Pelatihan Cara Pakai Obat
Berbagai jenis pelatihan bisa
dijalankan untuk memberdayakan Odha. Jika Odha diminta untuk
memilih, jenis pelatihan apakah yang paling sangat
dibutuhkannya? Ternyata, hasil angket yang diisi 38 Odha itu
menunjukkan bahwa Odha (97%) butuh Pelatihan Cara Penggunaan
Obat-Obat HIV/AIDS. Obat-obat ARV yang penuh ragam itu memang
harus dipahami dengan benar oleh Odha, antara lain dalam hal
dosis, aturan pakai, aturan kombinasi obat, penyimpanan,
ataupun efek samping obat. Berbagai studi menunjukkan bahwa
hasil optimal kombinasi obat-obat ARV (mencapai jumlah HIV
yang undetectable) hanya bisa tercapai jika Odha meminumnya
dengan disiplin.
Odha butuh pula
pelatihan-pelatihan yang memungkinkannya untuk terlibat
sebagai pelaku aktif dalam menangani masalah HIV/AIDS.
Contohnya, sebanyak 95% Odha merasa butuh Pelatihan Cara
Berbicara di Depan Umum. Selain untuk meningkatkan kepercayaan
dirinya, Odha yang tampil berbicara di muka umum (dalam
acara-acara seminar, penyuluhan, dll) akan turut berkontribusi
membentuk sikap yang positif dari audiens terhadap masalah
HIV/AIDS. Selain itu, Odha (92%) juga butuh pelatihan untuk
menjadi konselor pra dan post test HIV, ataupun pelatihan
jurnalistik agar Odha mampu membuat tulisan dan berita tentang
HIV/AIDS (87%).
Banyak Odha yang tidak bekerja
karena kondisi HIV di tubuhnya. Ada yang diminta berhenti
bekerja oleh perusahaan setelah diketahui dirinya HIV positif,
ada yang minta mundur sendiri karena khawatir status HIV-nya
akan diketahui teman-temannya, ada pula yang berhenti karena
memang kondisi fisiknya yang mulai melemah. Odha yang ingin
mencoba berwiraswasta mengalami beberapa kendala, antara lain
kurangnya keterampilan, tidak adanya pembimbing/pendorong
semangat, ataupun ketiadaan modal usaha (cukup banyak Odha
yang berlatar belakang ekonomi kurang mampu). Mungkin karena
kondisi itulah, sebanyak 84% Odha merasa butuh adanya
Pelatihan Cara Meningkatkan Kemampuan Wirausaha. Odha ingin
mampu kerja mandiri dan tetap hidup produktif.
Jenis-jenis pelatihan lainnya yang dibutuhkan Odha bisa
dilihat pada Table 2 berikut.
Table 2: Pelatihan Pemberdayaan yang Dibutuhkan Odha
(n=38)
|
No. |
Jenis
Pelatihan untuk Memberdayakan Odha |
Jumlah
Odha yang Butuh (%) |
| 1 |
Pelatihan Cara
Penggunaan Obat-Obat HIV/AIDS |
97 |
| 2 |
Pelatihan Cara
Berbicara di Depan Umum (public speaking) |
95 |
| 3 |
Pelatihan
Konseling (menjadi konselor pra dan post testing HIV) |
92 |
| 4 |
Pelatihan
Jurnalistik (teknik membuat tulisan dan berita HIV/AIDS) |
87 |
| 5 |
Pelatihan Cara
Meningkatkan Kemampuan Wirausaha (kerja mandiri) |
84 |
| 6 |
Pelatihan
Menjadi Pewawancara/interviewer (untuk penelitian sosial
Odha) |
82 |
| 7 |
Pelatihan
Pemanfaatan Obat-Obat Tradisional (untuk menjaga
kebugaran) |
79 |
| 8 |
Pelatihan
tentang Teknik Advokasi (untuk mengatasi masalah sosial
Odha) |
79 |
| 9 |
Pelatihan
Membuat Tulisan Ilmiah (menulis abstrak konferensi AIDS,
dll) |
79 |
| 10 |
Pelatihan
Membuat Proposal Kegiatan/Program |
79 |
| 11 |
Pelatihan
Cara-Cara Mengelola Organisasi Sosial (manajemen LSM,
dll) |
79 |
| 12 |
Pelatihan/Kursus
Bahasa Inggris |
76 |
Relawan Dibutuhkan untuk Menjaga Odha di Rumah Sakit
Sejak tahun 1994, para Odha yang berhubungan dengan Yayasan
Pelita Ilmu kerap kali mendapatkan jasa layanan dampingan dari
para relawan. Para relawan tersebut adalah anggota masyarakat
yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan,
pekerjaan, sosial ekonomi, agama, usia, dan orientasi seksual.
Terdapat berbagai jenis kegiatan para relawan dalam
mendampingi Odha. Menurut Odha sendiri, jenis kegiatan relawan
apakah yang paling mereka butuhkan? Ternyata jawabnya:
kegiatan relawan dalam menjaga Odha yang sedang dirawat di
rumah sakit. Semua Odha (100%) merasa butuh adanya kehadiran
para relawan disisinya jika ia sedang berbaring selama
berhari-hari di rumah sakit. Selain untuk membangkitkan
semangat, para relawan diharapkan mampu menjadi jembatan
komunikasi antara Odha dengan para perawat ataupun petugas
lainnya di rumah sakit.
Sebanyak 97% Odha juga berharap para relawan bersedia dan
mampu memberikan penjelasan kepada pihak keluarga Odha tentang
masalah yang dihadapi Odha. Memang cukup sering para relawan
bertemu dengan pihak keluarga yang belum yakin tentang
cara-cara penularan HIV, ataupun pihak keluarga yang belum
bisa menerima kehadiran Odha di rumahnya.
Tabel 3: Kegiatan Relawan Pendamping yang Dibutuhkan Odha
(n=38)
| No. |
Jenis
Kegiatan Relawan Pendamping Odha |
Jumlah
Odha yang Butuh (%) |
| 1 |
Membantu
menjaga Odha yang sedang dirawat di rumah sakit |
100 |
| 2 |
Memberikan
penjelasan kepada pihak keluarga Odha tentang masalah
yang dihadapi Odha |
97 |
| 3 |
Membantu Odha
mengatasi masalah diskriminasi di sekitar tempat tinggal
Odha |
95 |
| 4 |
Memberikan
informasi kepada Odha tentang jenis dan cara penggunaan
obat antiretroviral |
95 |
| 5 |
Menjenguk Odha
yang sedang kesepian/butuh teman bicara di rumahnya |
95 |
| 6 |
Membantu Odha
mencarikan tenaga ahli yang dibutuhkan Odha (psikolog,
rohaniawan, dll). |
95 |
| 7 |
Membantu Odha
untuk mengatasi masalah diskriminasi terhadap Odha di
tempat kerja Odha |
92 |
| 8 |
Memberikan
penjelasan kepada berbagai pihak tentang cara
penyelenggaraan jenazah Odha |
87 |
| 9 |
Membantu
keluarga dalam penyelenggaraan jenazah Odha (memandikan,
menguburkan, dll) |
87 |
| 10 |
Mengingatkan
Odha untuk disiplin meminum obat-obat antiretroviral |
87 |
| 11 |
Membantu
mengantarkan Odha ke dokter |
87 |
| 12 |
Membantu Odha
membuat tulisan-tulisan tentang HIV/AIDS untuk dimuat
media massa |
84 |
| 13 |
Membantu
mencarikan obat-obatan (membeli dan mengantarkan obat ke
alamat Odha) |
82 |
| 14 |
Menemani Odha
pergi ke tempat-tempat santai/rekreasi yang diinginkan
Odha |
82 |
| 15 |
Membantu
perawatan kebersihan rumah Odha |
79 |
| 16 |
Membantu Odha
yang butuh bimbingan membuat surat warisan |
71 |
Odha Sangat
Berminat Menjadi Penyuluh
Berbagai jenis kegiatan semakin banyak yang dijalani oleh
teman-teman Odha untuk terlebih secara aktif di lapangan dalam
upaya penanggulangan masalah HIV/AIDS. Hal ini sangat
sejalan dengan prinsip GIPA (Greater Involvement of People
Living with or Affected by HIV/AIDS) yang didengungkan oleh
UNAIDS, sebuah badan PBB yang mengurus HIV/AIDS.
Odha ternyata amat berminat untuk menjadi penyuluh HIV/AIDS
bagi masyarakat umum. Namun ketika menyuluh, mereka (97%)
tidak mau bercerita bahwa dirinya seorang yang HIV positif.
Yang penting, Odha memberikan kontribusinya secara nyata agar
jangan sampai masyarakat tertular HIV. Prosentase Odha yang
siap tampil di muka umum sebagai orang HIV positif memang jauh
lebih kecil, yaitu sebanyak 66%. Kondisi ini amat dimaklumi,
karena Odha harus siap secara mental dan telah memperhitungkan
segala risikonya dengan matang jika ingin terbuka kepada
masyarakat tentang status HIV-nya.
Berbagai jenis kegiatan lainnya yang diminati Odha dapat
dilihat pada Table 3.
Table 4: Kegiatan-kegiatan yang Diminati Odha (n=38)
|
No. |
Jenis
Kegiatan Odha |
Jumlah
Odha yang Butuh (%) |
| 1 |
Menjadi
penyuluh materi HIV/AIDS (tidak bercerita sebagai Odha) |
97 |
| 2 |
Menjadi
peserta pada acara-acara seminar HIV/AIDS |
95 |
| 3 |
Menghadiri
undangan-undangan rapat/diskusi tentang permasalahan
Odha |
95 |
| 4 |
Melakukan
dialog dengan pihak lembaga donor (untuk mendapatkan
bantuan dana) |
92 |
| 5 |
Menjadi
relawan pendamping Odha (agar dapat membantu sesama Odha) |
89 |
| 6 |
Melakukan
dialog dengan pihak pemerintah (agar memperhatikan
masalah2 Odha) |
87 |
| 7 |
Melakukan
dialog dengan produsen obat-obat AIDS (agar harganya
terjangkau) |
87 |
| 8 |
Menjadi
panitia acara-acara peduli AIDS |
87 |
| 9 |
Menjadi nara
sumber (diwawancarai) wartawan media cetak (yang dikenal
YPI) |
84 |
| 10 |
Melakukan
kegiatan penggalangan dana (untuk membantu masalah
ekonomi Odha) |
84 |
| 11 |
Menjadi nara
sumber (diwawancarai) wartawan radio (yang dikenal YPI) |
82 |
| 12 |
Menjadi
relawan di LSM Peduli AIDS |
79 |
| 13 |
Membuat
tulisan tentang HIV/AIDS agar bisa dimuat di media massa
umum |
79 |
| 14 |
Menjadi staf
tetap di LSM Peduli AIDS |
76 |
| 17 |
Menjadi nara
sumber (diwawancarai) wartawan televisi (yang dikenal
YPI) |
71 |
| 18 |
Membuat
tulisan tentang HIV/AIDS agar bisa dimuat di Majalah
Support YPI |
68 |
| 19 |
Menjadi
reporter/tim redaksi Majalah Support YPI |
68 |
| 20 |
Menjadi nara
sumber pada acara peduli AIDS untuk umum (tampil sebagai
Odha) |
66 |
Dasar Perancangan Program
Angket diatas hanyalah sebuah upaya penjajakan awal (need
assessment) untuk mendapatkan informasi dasar tentang
kebutuhan dan minat yang sebenarnya dirasakan oleh Odha. Tidak
dilakukan teknik penggalian data lebih mendalam terhadap
jawaban-jawaban Odha tersebut. Pada pengisian angket, Odha
dipersilakan untuk menentukan pendapatnya (butuh atau tidak
butuh; minat atau tidak minat) terhadap pernyataan-pernyataan
yang disajikan. Meski disediakan kolom khusus, tidak ada Odha
yang menuliskan jenis kebutuhan/minat yang mungkin belum
tersaji dalam angket.
Hasil angket sederhana ini semoga bisa menjadi dasar pijakan
bagi Pelita Plus -ataupun pihak-pihak lainnya- dalam merancang
program dukungan untuk Odha. Bukankah sebuah program akan
lebih berdaya guna jika berawal dari kebutuhan yang
benar-benar dirasakan sendiri oleh sasaran program (client
oriented)?
sumber:
Majalah Support, No. 60/November 2002
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |