|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Konseling dan Deteksi
HIV secara Sukarela
Konseling
dan Deteksi HIV secara Sukarela (Voluntary Counseling
Testing/VCT) saat ini sudah dikenal luas di dunia
internasional sebagai suatu strategi yang efektif dan sangat
penting baik bagi pencegahan maupun pelayanan HIV/AIDS.
Penelitian yang dilakukan oleh Family Health International di
Kenya, Tanzania dan Trinidad berkolaborasi dengan UNAIDS, WHO,
dan Pusat Studi Pencegahan AIDS Universitas California di San
Francisco, membuktikan bahwa VCT adalah suatu strategi yang
efektif dan cost-effective untuk memfasilitasi
perubahan perilaku. VCT juga merupakan langkah awal yang
penting dalam program pelayanan dan dukungan. Temuan-temuan
ini menjadikan VCT sebagai suatu komponen penting dalam
program HIV/AIDS yang menyeluruh di berbagai organisasi
internasional termasuk Program AIDS Nasional di berbagai
negara dan lembaga donor.
Konsep-konsep
tentang VCT dapat disimpulkan sebagai berikut:
Ü
VCT lebih dari sekedar kegiatan pemeriksaan darah dan
konseling, tetapi merupakan suatu langkah awal yang penting
menuju program pelayanan HIV/AIDS lainnya yaitu Pencegahan
Penularan HIV dari Ibu ke Anak; Pencegahan dan Manajemen
Klinis Penyakit-penyakit yang Berhubungan dengan HIV;
Pengendalian Penyakit TBC serta Dukungan Psikologis dan Hukum;
Ü
Memang sudah ada kebutuhan (mis: orang-orang yang ingin
mengetahui status serum HIV mereka), atau kebutuhan dapat
diciptakan bila program pelayanan yang menyeluruh diadakan;
Ü
VCT memberikan keuntungan baik bagi mereka yang positif
maupun bagi mereka yang negatif. VCT dapat mengurangi
kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka tentang
faktor-faktor risiko terkena infeksi HIV, mengembangkan
perubahan perilaku, secara dini mengarahkan mereka menuju ke
program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi
anti-retroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam
masyarakat;
Ü
VCT menawarkan suatu pendekatan holistik yang mencakup
konteks kehidupan manusia yang lebih luas, termasuk kemiskinan
dan hubungannya dengan praktek-praktek berisiko tinggi.
Beberapa
hal yang dapat diambil sebagai pelajaran dari penyelenggaraan
program VCT selama ini adalah:
Ü
VCT adalah suatu bentuk pelayanan yang dapat dilakukan
baik oleh pemerintah, LSM, masyarakat maupun sektor swasta.
Ü
Standar pelayanan VCT meliputi konseling sebelum
deteksi HIV (pra-konseling), deteksi HIV (sesuai keinginan
klien dan setelah klien memberikan lembar persetujuan/informed
consent), konseling setelah deteksi HIV (pasca-konseling)
dalam satu sesi atau lebih tergantung kebutuhan klien.
Penilaian risiko individu dan rencana penurunan risiko
merupakan komponen yang terintegrasi dalam kegiatan pra dan
pasca konseling.
Ü
Suatu rangkaian pelayanan inovatif yang menciptakan
model-model pelayanan, dapat diterapkan sesuai dengan
konteksnya. Termasuk
diantaranya adalah berbagai variasi keterpaduan dengan
pelayanan kesehatan yang sudah ada, pelayanan mandiri dan
pelayanan keliling.
Ü
Model pelayanan yang dipilih juga harus mempertimbangan
segi pembiayaan yang mencukupi untuk menjamin kelangsungan
kegiatan pelayanan. Kelangsungan
pelayanan tetap merupakan tantangan di setiap model pelayanan,
terutama bagi model pelayanan mandiri yang umumnya dibiayai
oleh lembaga donor internasional.
Ü
VCT merupakan bentuk program intervensi kesehatan
masyarakat, sehingga pemerintah dan lembaga donor perlu untuk
mengalokasikan beberapa pengeluaran yang berhubungan dengan
program pelayanan VCT untuk menjamin akes yang paling luas
yang mungkin untuk dijangkau.
Ü
Kebijakan dan Strategi Nasional untuk HIV/AIDS harus
menjamin cakupan pelayanan VCT yang memadai dan dirancang
sesuai dengan standar nasional.
Ü
Akses dan biaya pelayanan VCT harus dapat dijangkau
oleh mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV atau mereka
yang dicurigai terjangkit penyakit yang berhubungan dengan
infeksi HIV. Pelayanan VCT harus dapat digunakan oleh berbagai
macam klien yang mendapatkan keuntungan dengan diketahuinya
status serum HIV mereka, termasuk pasangan, individu dan
orang-orang muda.
Ü
Pelayanan VCT harus dilaksanakan oleh petugas yang
sangat terlatih dan berkualitas tinggi dalam melakukan
konseling dan deteksi HIV.
Ü
Manajemen pelayanan harus mendukung staf untuk selalu
memberikan pelayanan yang berkualitas, tetap tersedianya
petugas yang trampil, dan mencegah keluarnya konselor.
Ü
Pelayanan VCT yang ditujukan untuk para pasangan harus
dikembangkan dan dipromosikan secara luas. Pra dan pasca
konseling kepada para pasangan, memberikan keuntungan yang
berarti dalam penilaian risiko dan rencana pengurangan risiko,
khususnya bagi perempuan di negara-negara di mana terjadi
ketimpangan jender. Sebagai tambahan, telah diketahui dengan
baik bahwa pelayanan VCT dengan sasaran para pasangan
menjadikan pelayanan lebih efisien.
Ü
Desain pelayanan VCT harus diarahkan sebagai pelayanan
promosi melalui perencanaan dan penegakan pelayanan VCT yang
berkualitas tinggi. Ini termasuk identifikasi atau penguatan
program pelayanan dan dukungan lainnya, jejaring kerja dalam
masyarakat dan rumahsakit rujukan.
Ü
Desain dan penegakan pelayanan VCT harus disesuaikan
dengan kekhususan epidemilogis, perilaku dan konteks
sosio-ekonomi di setiap negara dan tempat. Desain tersebut
juga mempertimbangkan aktifitas untuk pengurangan stigma dan
penciptaan kebutuhan.
Ü
Pada pelayanan VCT yang baru ditegakkan atau mulai
berjalan, koordinasi yang selaras antara para stakeholders -
termasuk kerjasama antar donor, pemerintah dan LSM - merupakan
hal yang krusial untuk memastikan suatu standarisasi pelayanan
dalam hal kualitas pelayanan dan dukungan yang diberikan
kepada klien serta menghindari adanya duplikasi pelayanan
dalam satu wilayah.
Ü
Sistem monitoring dan evaluasi harus ditegakkan di
tempat pelayanan baik untuk konseling maupun pemeriksaan HIV.
Protokol konseling dan pemeriksaan HIV dapat bervariasi dari
satu program dengan program lainnya tergantung dari tujuan
dari program tersebut. Tetapi apapun pendekatan yang dilakukan,
intervensi VCT harus dievaluasi secara reguler untuk
menentukan apakah pelayanan tersebut sesuai dengan protokol
dan memenuhi kebutuhan klien.
Ü
Pendekatan inovatif pelayanan VCT yang tanggap terhadap
kebutuhan spesifik suatu negara harus dikembangkan. Ini
termasuk pelayanan VCT untuk remaja, dan praktek VCT yang
terintegrasi dengan pelayanan antenatal, mungkin memerlukan
sesi pemberian informasi pada kelompok pre-test di
tempat-tempat yang pasiennya banyak,sebagai bagian dari
strategi yang menyeluru h untuk pencegahan penularan dari ibu
ke anak.
diterjemahkan
oleh: Widiastuti Dewi
Referensi:
1.
Current Issues in HIV Counseling and Testing in South
and Southeast Asia. Horizons Project/IMPACT Project. 2000.
2.
VCT Counselling Training Manual. FHI. (Available in
August 2001).
3.
Evaluating HIV Counseling and Testing in Evaluating
Programs for HIV/AIDS Prevention and Care in Developing
Countries: A Handbook for Program Managers and
Decision-Makers. Family Health International. (Available in
September 2001).
4.
Efficacy of voluntary HIV-1 counseling and testing in
individuals and couples in Kenya, Tanzania, and Trinidad: a
randomised trial. The Voluntary HIV-Counseling and Testing
Efficacy group. Lancet July 8, 2000.
5.
Cost-effectiveness of voluntary HIV-1 counseling and
testing in reducing sexual transmission of HIV-1 Kenya and
Tanzania. Sweat et al . Lancet July 8, 2000.
6.
UNAIDS. Caring for carers: Managing stress in those who
care for people with HIV and AIDS. UNAIDS Case Study. 2000.
7.
UNAIDS. The impact of Voluntary Counselling and Testing
— A global review of the benefits and challenges. UNAIDS
Best Practice Collection. June 2001
8.
UNAIDS. Tools for Evaluating Voluntary Counseling and
Testing. UNAIDS Best Practice Collection. May 2000.
9.
WHO: Voluntary Counseling and testing for HIV infection
in antenatal Care. Practical considerations for implemenation.
WHO/HIS/00.05, Geneva. September, 1999.
Sumber:
http://www.fhi.org
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |