OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Hasil Monitoring 25 RS Rujukan Yan. Kesehatan ODHA Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI

Pendahuluan

  • Dalam merespons 3 by 5, Depkes telah menetapkan 25 RS rujukan ODHA di 13 Propinsi

  • Pada 25 RS tsb telah dilakukan peningkatan kapasitas/kemampuan RS  dalam pemberian  ART, yang mencakup SDM, layanan konseling dan test HIV (VCT), dan logistik ARV

  • Pelatihan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan untuk dokter ahli, dokter umum, perawat, manager kasus, konselor dan tenaga teknis laboratorium

  • Dalam waktu dekat akan diberikan pelatihan pada tenaga farmasi

  • Menyusun standar/pedoman yang diperlukan sehubungan dng ART

Kegiatan tsb di atas telah dan akan terus dilakukan. Untuk itu diperlukan monitoring pasca pelatihan sekaligus melihat hambatan dalam pelaksanaan dan membuat pemetaan kapasitias 25 RS rujukan ODHA

Tujuan Monitoring

* Tujuan umum

  - Meningkatkan kesiapan 25 RS rujukan ODHA dalam memberikan ART yang bermutu

* Tujuan khusus

  - Monitoring SDM yang telah dilatih

  - Melihat hambatan dalam pelaksanaan pemberian ARV dan pelayanan ODHA

  - Pemetaan kesiapan/kapasitas RS sebagai bagian dari upaya "quality control"

  - Membuat perencanaan kegiatan selanjutnya, dan menindaklanjuti hasil temuan di RS

Pelaksanaan Monitoring

* Monitoring dilakukan oleh tim tdd. Yan medik, P2M-PL, Yan farmasi, dan badan donor

* Pelaksanaan dimulai tanggal 29 Nopember 2004 sampai dengan tanggal 20 Januari 2005

* Kunjungan dilakukan 4 hari dengan jadwal kegiatan sbb:

  - Hari 1: Tim datang

  - Hari 2: Pertemuan di RS yang melibatkan Tim/Pokja HIV/AIDS, KPAD,

    Dinas Kesehatan setempat, untuk melihat pelayanan kesehatan pada ODHA

  - Hari 3: presentasi Tim visitasi tentang update ART sekaligus menyampaikan hasil 
    amatan dan rekomendasi

  - Hari 4: Tim kembali

* Pendanaan dari Dep Kesehatan, WHO, ASA, IHPCP, GF-ATM, dan MSF

 

Lingkup Monitoring

  1. VCT dan rujukannya

  2. Tatalaksana IO termasuk TB

  3. Pemberian terapi antiretroviral

  4. Dukungan untuk kepatuhan

  5. "PMTCT of HIV infection"

  6. Paliative Care

  7. Hak ODHA dan pengurangan stigma

  8. Promkes, pencegahan, dan pengobatan

  9. Kepemimpinan dan pengelolaan SDM

  10. Pasokan dan pengelolaan obat

  11. Tatalaksana laboratorium

  12. Manajemen Informasi

  13. Kerjasama dengan KPAD, Dinas kesehatan, LSM, kel sebaya, masyarakat

 

Hasil Monitoring

VCT:

  • Entry point masih terbatas di 20 RS, namun 25 RS rujukan sudah melaksanakan konseling sebelum testing

  • VCT bersifat pasif, menunggu rujukan dari dalam dan luar RS

  • Konselor mempunyai tugas rangkap, sehingga sulit mengembangkan program VCT

  • Sebagian besar konselor belum menggunakan check list

  • Bahan KIE dan alat peraga terbatas

  • Masih terbatasnya SOP dan formulir-formulir VCT

  • Ruang konseling yang belum tersedia di 15 RS, dilakukan di bedside, poli klinik atau ruang yang berpindah-pindah (Bgm konfidentialitas?)

  • Jasa konseling sangat bervariasi (gratis, biaya yang sangat kecil Rp 500/klien/kunjungan, atau subsidi Rp 30.000 - Rp 50.000/klien)

  • Rujukan dari dalam dan luar RS masih terbatas dan belum berjalan dengan baik

Tatalaksana IO termasuk TB

  • 75-80% ODHA dengan co-infeksi TB

  • Hanya 8 RS mengikuti strategi DOTS, dan menyediakan OAT gratis

  • Kendala biaya, karena obat IO gratis dari Pemerintah terbatas

  • Belum memahami bahwa penanganan IO harus dilakukan sebelum memberikan ART

  • RS belum mempunyai SOP tertulis untuk tatalaksana klinis IO

  • Belum adanya koordinasi Penanganan IO multidisiplin

Pemberian terapi anti retroviral

  • Belum jelasnya kriteria pengobatan (medis & non-medis)

  • Pemakaian ARV belum terdokumentasi dengan baik

  • Pasien datang dalam stadium lanjut

  • Mobilitas ODHA tinggi (khusus Papua)

  • Masih ada Dokter yang kurang memahami jenis-jenis ARV yang berasal dari Depkes, GF- ATM, MSF, Neba

  • Jumlah pemberian obat yang tidak seragam

Dukungan untuk kepatuhan

  • Penyiapan pasien pra ART untuk adherence belum ditangani secara tim

  • Belum dikembangkan sistem pemantauan ART

  • Belum memanfaatkan manager kasus/LSM untuk pendampingan

  • Jangkauan RS terbatas

  • Jejaring belum berjalan

  • Stigma pada ODHA, shg ODHA sulit untuk membuka diri

PMTCT

  • Belum mendapat perhatian

  • Belum adanya pedoman baku nasional untuk PMTCT

Paliative care

  • Tidak dapat dinilai

 

Hak ODHA dan pengurangan stigma

  • Stigma petugas kesehatan dan masyarakat terhadap ODHA masih belum bisa ditangani bahkan di bbrp tempat stigma ini demikian tebal

  • Permasalahan dengan diskriminasi pada ODHA

  • Kerahasiaan/konfidentialitas masih belum terjaga

Promkes, pencegahan dan pengobatan

  • Program PKMRS belum mencakup HIV/AIDS

  • Masih kurangnya sosialisasi dan pelatihan tentang HIV/AIDS di dalam dan di luar RS

  • Jadwal pengobatan ARV masih konvensional (rencana untuk mengingatkan ODHA)

  • Issue buah merah dari Papua?

Kepemimpinan dan pengelolaan SDM

  • Komitmen Direktur RS cukup baik wlp 2 RS belum membentuk Pokja/Tim HIV/AIDS

  • Peran dan fungsi KPAD, Dinas kesehatan, LSM, masyarakat belum berjalan optimal

  • Tenaga yang dilatih belum dimanfaatkan dengan optimal

  • Belum seluruhnya memahami dan menerapkan kewaspadaan universal

  • Sistem/akses dan pengadaan obat PEP yang belum menjadi perhatian yang serius

Pasokan dan pengelolaan obat

* Sumber obat ARV: program/Depkes, Otsus, donor lain

* Obat gratis Depkes adalah obat ARV esensial yang didistribusikan langsung ke RS oleh 
   PT
Kimia Farma

* ARV yang telah didistribusikan ke 25 RS sebanyak (sampai 24 Januari 2005)

  - Duviral              6648 paket

  - Neviral              6648 paket

  - Efavirenz 200mg  145 paket

  - Efavirenz 600mg  173 paket

  - Stavudin             236 paket

  - Hiviral               1431 paket

 

Tatalaksana laboratorium

  • Sebagian besar RS belum memiliki 3 reagen utk pemeriksaan HIV, sehingga pemeriksaan dirujuk ke BLK dengan menggunakan 2 rapid test dan 1 ELISA

  • RS di 4 propinsi (RSUD Pekanbaru, RS Budi Kemuliaan Batam, RSU Duren Sawit dan RSU Sanglah, RS Dok II Jayapura dan RSUD Merauke) mendapatkan 3 jenis reagen rapid test dari GF;  1 RS masih menggunakan WB sebagai konfirmasi

  • Pemantapan Mutu Internal/PMI (mis. pengukuran suhu lemari es, tip pipet, kalibrasi alat) tidak dilaksanakan dgn benar di 11 RS

  • 3 RS belum mengikuti Pemantapan Mutu Eksternal (PME) yang dilaksanakan oleh Depkes RI

  • CD4 baru dimiliki oleh 2 RS (RSCM dan RS Dharmais) sehingga sulit untuk memonitor pengobatan ART, dan 1 Dynabead di RSUD Merauke

  • Viral Load hanya dimiliki oleh RSCM (Bg. Penyakit Dalam) dan RS Dharmais

  • Sebagian besar RS mampu memeriksa Hitung Limfosit Total (TLC), namun konversi CD4 tidak direkomendasi

  • Lab IO: sebagian besar RS hanya melakukan pemeriksaan candida dan TB secara mikroskopis

  • RS besar dapat melakukan pemeriksaan HBV, HCV, Cryptococcus, biakan TB & Toxoplasma (tetapi kendala biaya)

  • Perlu peningkatan dan pengolahan limbah padat dan cair

  • Tenaga laboratorium yang terlatih berkisar antara 1-2 orang analis/RS dan 1 tenaga dokter (SpPK)

  • Sebagian besar RS belum mempunyai SOP untuk pemeriksaan laboratorium

Sistem manajemen informasi

  • Pencatatan belum memudahkan pemantauan kepatuhan ART

Rencana Tindak Lanjut

* Monitoring 25 RS harus dilaksanakan secara berkala & berkesinambungan

* Pengadaan OAT gratis di 17 RS yang akan mengikuti strategi DOTS

* Pendampingan untuk bimbingan teknis medis pelayanan terapi anti retroviral

* Issue buah merah di Papua, akan dikaji dan dilakukan uji klinis oleh litbang depkes

* Penyusunan buku:  
  1. Pedoman PMTCT yang akan difasilitasi oleh Kesga & Unicef  
  2. Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Penyakit Penyerta  
  3. Panduan Prosedur Diagnosis Labaoratorium Infkesi HIV & Oportunistik  
  4. Pedoman Monitorng Pasien yang mendapat ART  
  5. Pedoman Monitoring Program ART

* Pelatihan  
  1. Farmasi bagi tenaga farmasi  
  2. CST lanjutan (ARV) bagi dokter ahli, dokter umum, perawat & manajer kasus  
  3. Tatalaksana klinis strategi DOTS bagi 17 RS  
  4. PME & PMI bagi tenaga labkes  
  5. Standar Pelayanan Labkes Pemeriksa HIV & Penyakit Penyerta

* Menyusun kebijakan tentang VCT termasuk jasa konseling

* Penerapan kebijakan tentang kewaspadaan universal

* Pengadaan alat CD4 secara bertahap

* Pengadaan 3 jenis reagen rapid test untuk 25 RS pada tahun 2005

* Standardisasi RS Rujukan ODHA & RS satelitnya

* Manajemen satu pintu untuk obat ARV di Instalasi Farmasi

* Mengembangkan sistem dan pengadaan obat PEP oleh RS

* Mengembangkan peran stake holders terkait (KPAD, Din kesehatan, LSM,

  Masy, dukungan sebaya)

* Memfasilitasi penyusunan SOP (VCT, Lab, Farmasi, ART)

 

Daftar 25 Rumah Sakit Rujukan

No. Rumah Sakit
1

RSPAD Gatot Subroto
Jl. Abdul Rachman Saleh No. 24, Jakarta Pusat

2

RS Polri Kramat Jati 
Jl. RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur

3

RSU Fatmawati
Jl. RS Fatmawati, Jakarta Selatan 

4

RSPI Sulianti Saroso
Jl. Baru Sunter Permai Raya, Jakarta Utara

5

RSAL Dr. Mintohardjo
Jl. Bendungan Hilir No. 17, jakarta Pusat

6

RS Persahabatan
Jl. Persahabatan Raya, Rawamangun, Jakarta Timur

7

RS Kanker Dharmais
Jl. S. Parman Kav. 84-86, Slipi, Jakarta Barat

8

RS Duren Sawit
Jl. Duren Sawit Baru No.2 Jakarta Timur

9

RS Cipto Mangunkusumo
Jl. Salemba Raya, Jakarta

10

RS Hasan Sadikin
Jl. Pasteur No. 38, Bandung

11

RSU Dr. Sardjito
Jl. Kesehatan No. 1, Sekip, Yogyakarta

12

RS Dr Kariadi
Jl. Dr. Soetomo 16, Semarang

13

RSUD Dr Sutomo
Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 6-8, Surabaya

14

RS Sanglah Denpasar
Jl. Diponegoro, Denpasar, Bali

15

RS Adam Malik
Jl. Bunga Lau No. 17, Medan

16

RSUD Pekan Baru
Jl. Diponegoro No. 2, Pekan Baru, Riau

17

RS Budi Kemuliaan 
Jl. Budi Kemuliaan No.1, Batam

18

RS M Hoesein
Jl. Jend. Sudirman, Km 3.5, Palembang

19

RSU Dr. Sudarso
Jl. Adi Sucipto, Pontianak

20

RSU Malalayang 
Jl. Raya Tanawangko, Manado

21

RS. Dr. Wahidin Sudiro Husodo
Jl. Perintis Kemerdekaan, Km 11, Makasar

22

RSUD Sale be Solu Sorong
Jl. Basuki Rachmat Km. 12 Klasaman, Sorong, Papua 98157

23

RSUD Jayapura
Jl. Kesehatan I, RSUD Jayapura, Papua

24

RSUD Merauke
Jl. Sukarjo Wiryo Pranoto, Merauke, Papua

25

RS Mitra Masyarakat 
Jl. SP2-SP5, Timika, Papua

sumber: Factsheet HIV/AIDS 1, Yayasan Mitra INTI

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan