|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Akses Pelayanan
Kesehatan untuk ODHA
Sebuah laporan hasil penelitian
partisipatif menyebutkan bahwa salah satu hambatan utama dari
akses terhadap pelayanan kesehatan bagi orang yang hidup
dengan HIV (ODHA) adalah kurangnya pengetahuan penyedia
layanan kesehatan terhadap HIV dan AIDS,
serta pengertian dan etika mengenai hal-hal yang bersangkutan
dengan epidemi ini di Indonesia.
"Pelayanan kesehatan di Indonesia secara umum memang
buruk, ditambah lagi dengan masalah stigma dan diskriminasi
yang dihadapi oleh orang yang hidup dengan HIV, kondisi ini
menjadi tidak dapat diterima," Asisten Hubungan
Masyarakat Sipil UNAIDS Indonesia, Rico Gustav, mengatakan.
Sebuah focus group discussion yang diselenggarakan di Bandung,
Jawa Barat, misalnya, menguak adanya seorang pasien yang ingin
berobat untuk tuberkulosa ke sebuah klinik, tidak dihiraukan
oleh penyedia layanan kesehatan karena status HIV-nya.
"Ketika dia tahu saya dari suatu lembaga, dia nanyain
status, terus terutama (tentang) ODHA itu sendiri, langsung
menanganinya tuh seolah-olah dioper-oper sampai ketika perawat
yang terakhir datang dia bilang eh mas dah mau tutup".
Namun Rico mengungkapkan bahwa kondisi seperti ini adalah
akibat dari ketidaktahuan penyedia layanan kesehatan terhadap
masalah HIV dan AIDS.
"Kebanyakan karena mereka tidak mengerti, mereka tidak
tahu, dan tidak ada insentif yang mendorong mereka untuk
mencari tahu lebih banyak," katanya. Kurangnya insentif
ini misalnya diakibatkan oleh proses pembukuan pengobatan HIV
yang masih di luar dari mekanisme pelaporan medis yang
biasanya, sehingga menambah pekerjaan, kata Rico.
Laporan yang berjudul "ODHA dan Akses Pelayanan
Kesehatan" ini juga menguak pentingnya akses terhadap
pelayanan pengobatan, perawatan, dan dukungan untuk HIV/AIDS.
"Di sini Akses Universal lebih banyak diartikan sebagai
penyediaan obat-obatan ARV saja. Tersedianya obat tentunya
sangat baik, namun bagi kebanyakan orang masalah utama dari
akses terletak dari sulitnya transportasi dan biaya,"
kata Asisten Kemitraan dan Jejaring UNAIDS Indonesia, Samuel
Nugraha.
Pernyataan ini terungkap saat diselenggarakannya focus group
discussion di kelompok dukungan sebaya Tasik+:
"Pengambilan obat yang musti bolak-balik Bandung,
bolak-balik Jakarta, kan makan waktu makan biaya, kalau bisa
sih kepengennya ada di Tasik".
Lalu dari kelompok dukungan sebaya Sukabumi Positif Community:
"Dari pengalaman saya waktu tes HIV di Sukabumi dirujuk
ke Bandung, tapi setelah menerima hasilnya, di Sukabumi ini
tidak bisa memvonis negatif atau positif, akhirnya pergi ke
Jakarta untuk tes lagi dan dokter belum yakin sama
hasilnya".
Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan oleh 12 orang
yang hidup dengan HIV (ODHA) dan 11 peneliti LSM, sementara
peneliti-peneliti Irwanto, PhD. serta Laurike Moeliono, MA.
memberikan konsultasi dan melakukan penulisan akhir.
Penelitian difasilitasi oleh Program Bersama Perserikatan
Bangsa-Bangsa (UNAIDS), dan mendapat dukungan penuh dari
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).
Proses penelitian termasuk wawancara dengan ODHA lain mengenai
bagaimana cara mereka mengakses pelayanan kesehatan, wawancara
dengan penyedia layanan kesehatan, melakukan survei atas
fasilitas kesehatan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta penyelenggaraan focus group
discussion.
Berlangsung dari Desember 2005 hingga Juli 2006, penelitian
ini telah menghimpun 270 responden dari lima propinsi --
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur -
dengan komposisi 64% koresponden laki-laki (172 orang), 29%
perempuan (77 orang), dan 8% waria (21 orang). Umur rata-rata
responden laki-laki adalah 28 tahun, perempuan 31 tahun, dan
waria 25 tahun.
"Keberhasilan penelitian ini sebagian besar adalah atas
keterlibatan langsung dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA)
sendiri," perwakilan UNAIDS untuk Indonesia Jane Wilson,
Ph.D. mengatahan pada peluncuran laporan penelitian di Hotel
Sari Pan Pacific hari Kamis.
"Keterlibatan mereka sangat penting bagi upaya
penanggulangan AIDS yang etis dan efektif," katanya.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, Dr. Nafsiah Mboi, SpA.,
MPH., mengatakan bahwa laporan ini merupakan sumbangsih yang
besar bagi upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi
orang dengan HIV.
"Penelitian partisipatif ini bisa menjadi pengalaman yang
berharga tentang bagaimana mendorong keterlibatan ODHA,"
katanya.
Laporan penelitian partisipatif "ODHA dan Akses Pelayanan
Kesehatan" diluncurkan pada hari Kamis, 12 Oktober 2006
di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta.
Informasi lebih lanjut:
Samuel Nugraha | Partnership & Network Assistant, UNAIDS
Jakarta | tel.
+62 21 314 1885 | snugraha.unaids@
un.or.id
Rico Gustav | Civil Society Liaison Assistant, UNAIDS Jakarta
| tel. +62
21 314 1885 | rgustav.unaids@
un.or.id
Tantri Yuliandini | Communications Associate, UNAIDS Jakarta |
tel. +62
21 314 1885 | +62 818 826 874 | yuliandiniT@
unaids.org
sumber:
Press Release UNAIDS 12
Oktober 2006
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |