OZZY

Fokus:

X








Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Beban Ganda Perempuan Positif HIV

Oleh: Samsuridjal Djauzi

Jumlah perempuan terinfeksi HIV semakin meningkat. Suster Jenah, petugas pencatat kasus di sebuah rumah sakit di Jakarta melaporkan, di rumah sakit tersebut saja tercatat sekitar 1.600 kasus. Kasus baru setiap hari sekitar 5 sampai 7 orang dan yang memprihatinkan separuhnya perempuan.

Memang secara nasional kasus HIV positif pada perempuan hanya 25 persen dari total kasus. Belakangan kasus HIV positif pada perempuan percepatannya meningkat. Bahkan di salah satu kota di Indonesia Timur mencapai 50 persen.

Kekhawatiran terhadap penularan HIV di kalangan perempuan telah lama disadari, tetapi upaya pencegahan yang dilaksanakan belum dapat meredam penularan. Sebagian besar perempuan dicurigai positif ketika anak atau suaminya sakit.

Seorang perempuan muda yang menunggui suaminya sakit berat di sebuah rumah sakit di Jakarta, baru menyadari dia berisiko tertular HIV karena suaminya ternyata positif. Semula dia menyangka, karena tak pernah menyeleweng dia tak mungkin tertular HIV. Setelah menjalani konseling dia bersedia dites dan hasilnya positif. Dia mempunyai dua anak. Untunglah dalam tes HIV keduanya negatif.

Tidak semua ibu positif bernasib baik seperti perempuan tadi. Cukup banyak perempuan positif yang harus menghadapi kenyataan anaknya pun positif. Beban yang amat berat harus dipikul perempuan positif ini. Suami sakit berat atau bahkan mungkin sudah meninggal dunia. Dia harus berjuang melawan HIV dalam tubuhnya. Dia pun harus menghidupi anaknya yang juga positif.

Kepedulian pada perempuan

Ketika Direktur Jenderal UNAIDS Peter Piot datang ke Jakarta dalam rangka hari AIDS Sedunia Desember 2004, beliau menyempatkan diri mendengarkan permasalahan yang dihadapi kelompok perempuan positif.

Sekitar 50 perempuan positif berkesempatan bertemu beliau. Sebenarnya, lama sebelum kedatangan Peter Piot, kelompok perempuan positif di Jakarta juga sudah mengadakan acara bertema "Saatnya Mendengarkan".

Di situ, mereka mengungkapkan perasaan dan kenyataan hidup mereka. Ibu-ibu yang amat sederhana berdatangan dan menceritakan perjuangannya dengan memakai bahasa mereka dan mereka amat tegar menjalani hidupnya.

Sebagian beruntung karena masih dapat bekerja di kantor atau menjual makanan untuk menghidupi anak. Sebagian lagi harus membanting tulang menjadi buruh cuci serta pekerjaan lain yang memeras tenaga. Padahal asupan gizi mereka kurang karena tak cukup uang membeli makanan bergizi.

Sebagian harus juga mengurus suami yang sedang di rumah sakit atau di lembaga pemasyarakatan. Semuanya memerlukan uang dan merekalah yang harus mencarinya.

Mereka tak sempat memikirkan nasib sendiri. Ketika Sandar, organisasi yang memberi dukungan pada orang dengan HIV positif di Jakarta, mengundang mereka membicarakan masa depan mereka, mereka mengatakan hanya memusatkan perhatian pada anak. Siapa yang akan membesarkan dan mendidik anak mereka jika mereka meninggal?

Jika pada pertemuan-pertemuan formal banyak perhatian dicurahkan pada permasalahan perempuan positif, maka kenyataan di lapangan belum banyak kegiatan nyata yang menyentuh kebutuhan mereka. Mereka belum merasakan tindak lanjut pertemuan dengan Direktur Jenderal UNAIDS dua tahun lalu.

Secercah harapan

Namun, mereka masih punya harapan, yaitu pada obat antiretroviral gratis bantuan pemerintah. Sebagian telah merasakan manfaat nyata obat ini. Mereka yang tadinya berbaring di rumah sakit dapat pulang mengurus anak dan mencari nafkah kembali.

Di sebuah kampung di Jakarta Pusat, Vera, relawan Yayasan Pelita Ilmu, melatih membuat kue. Permasalahannya, bagaimana memasarkan kue tersebut.

Di kampung yang sama remaja laki-laki HIV positif membuka bengkel motor. Di Karawang, Pantura Plus juga berhasil menjembatani ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dengan pabrik garmen setempat. Sebagian pekerjaan menjahit dan memasang kancing diserahkan pada kelompok ini dan dikerjakan di sanggar atau rumah ODHA.

Jumlah pengguna narkoba suntikan menurut Badan Narkotika Nasional di Indonesia sekitar 572.000. Pada survei lapangan kekerapan HIV di kalangan pengguna narkoba suntikan sekitar 60 persen. Jadi, jika dihitung melalui kelompok ini saja akan terdapat 340.000 orang terinfeksi HIV dan sebagian besar remaja. Mereka akan berkeluarga dan kemungkinan menularkan kepada pasangan bahkan keturunannya kelak.

Angka ini mudah-mudahan menyadarkan kita akan besar masalah yang harus dihadapi jika kita tak melakukan sesuatu. Pemerintah telah mencanangkan program layanan HIV terpadu di seratus kabupaten dan kota untuk mempercepat penyebaran layanan ke daerah yang selama ini belum tersentuh layanan dan program layanan pencegahan HIV dari ibu hamil ke bayinya di beberapa provinsi di Indonesia.

Sebagian ODHA berhasil bebas dari gejala penyakit dan menyiapkan diri untuk mandiri. Namun, latar belakang pendidikan, keterampilan, bahkan status mereka menyulitkan memasuki lapangan kerja formal.

Bagi perempuan positif, pekerjaan yang diidamkan adalah mempunyai penghasilan dengan bekerja di rumah sambil mengasuh anak. Jika bekerja di luar rumah, biaya angkutan mahal dan anak tak ada yang mengawasi. Yanti dan Lili, petugas sosial Sandar, berusaha menghubungi berbagai pihak untuk memberi dukungan guna meringankan beban perempuan positif. Mereka mendapat respons cukup baik dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional dan Yayasan Ford. Juga ada beberapa orang yang menunjukkan minat membantu secara pribadi.

Namun, dukungan dana saja tak akan mencukupi. Mereka memerlukan pelatihan untuk memelihara kesehatan diri dan anak mereka, pelatihan usaha kecil, mengelola uang, dan dukungan pemasaran produk.

Di Thailand, aktivis AIDS terkenal, Meechai, berhasil menjalankan program dana bergulir untuk ODHA, sekitar Rp 8 juta per keluarga. Menurut pengalaman Meechai, jika pelatihan dan dukungan dilakukan dengan baik sekitar 80 persen peserta dapat mengembalikan pinjaman.

Keberhasilan ini terutama karena masyarakat dapat menerima keberadaan ODHA dan bersedia memakai produk mereka. Perempuan positif di Indonesia masih berharap semoga retorika di berbagai rapat dan pertemuan cepat menjadi program nyata yang dapat mengurangi beban mereka.

Samsuridjal Djauzi Pengurus Yayasan Pelita Ilmu

 

sumber: Harian Kompas, Senin 16 Oktober 2006

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan