|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Upaya
Kamboja Mengatasi Epidemi HIV/AIDS
PADA
2002, 2,6 persen penduduk Kamboja mengidap HIV/AIDS, Bila dibandingkan
dengan dua tahun lalu, berdasarkan informasi dari United Nations Programme
on HIV/AIDS (UNAIDS), maka negara yang berpenduduk 12 juta jiwa itu
dinilai berhasil menurunkan kasus HIV/AIDS. Dua tahun lalu, kejadian
HIV/AIDS mencapai lebih dari 4 persen.
Dr Didier Laureillard dari Medecins San Frontieres (MSF) yang bertugas di
negara itu, bahkan mengatakan kasus HIV/AIDS di Kamboja pernah menjadi
kasus tertinggi di Asia Pasifik. Ketika berbicara di forum Jogjakarta
Roundtable Meeting (JRM), Selasa (2/9), di Yogyakarta, ia menyebut pada
1991 untuk pertama kalinya dideteksi keberadaan HIV pada donor darah.
Kemudian, pada 1993 kasus AIDS pertama didiagnosis.
Sejak saat itu kasus HIV/AIDS terus bertambah. Penyebaran sindrom itu
terutama dari hubungan seksual. HIV/AIDS menambah masalah kesehatan di
negara yang selama 20 tahun mengalami konflik internal. Karena, negara itu
termasuk dalam 23 negara di dunia yang mempunyai kasus tuberkulosis (TB)
tinggi. Enam puluh empat persen dari penduduk negara itu terinfeksi kuman
tuberkulosis. Belum lagi masalah kemiskinan, 40 persen dari penduduknya
hidup di bawah garis kemiskinan.
Bila mencermati kondisi semacam itu tentu tidak mudah bagi Kamboja untuk
menurunkan kasus HIV/AIDS. Tetapi, berbagai upaya dan strategi dilakukan
pemerintah Kamboja untuk menurunkan kejadian HIV/AIDS. Dengan kondisi 2,6
persen populasi berusia 15-49 tahun mengidap HIV/AIDS, ada 7.300 kasus
infeksi baru yang 2.600 di, antaranya adalah anak-anak. Selain itu,
tercatat 19.000 kasus AIDS baru dan 18.000 kematian yang terkait dengan
AIDS.
Untuk menanggulangi HIV/AIDS di Kamboja, ujar Didier, tahun 1990 MSF mulai
membantu pemerintah setempat dengan melakukan intervensi pada bidang
emergensi, rekonstruksi sistem kesehatan (termasuk mengembangkan pelayanan
di rumah sakit), dan membantu menanggulangi AIDS/malaria. Selanjutnya,
pada 1997, kegiatan MSF memasuki pelayanan kesehatan masyarakat, yakni
pada Departemen Penyakit Infeksi di Rumah Sakit Preah Bath Norodom
Sihanouk. Sejak 2002, departemen itu dilengkapi peralatan baru, klinik HIV
di pagi hari, klinik antiretroviral di sore hari.
Lebih dari 3.000 pasien berobat ke klinik tersebut selama 2002. Dari
jumlah itu 1.500 orang secara reguler dipantau kondisinya. Didier
menceritakan, 50 persen dari pengidap HIV/AIDS itu mengidap tuberkulosis
karena daya tahan tubuh menurun, 10 persen mengidap pneumonia, 10 persen
diare. Sesuai dengan protokol pengobatan, pengidap HIV/AIDS itu
menggunakan antiretroviral bila daya tahan tubuhnya rendah (CD4 kurang
dari 200/ml) dan tidak mengidap tuberkulosis.
"Bila mengidap tuberkulosis, yang pertama diobati adalah tuberkulosis
dan bila kondisi pasien membaik, diberikan antiretroviral, karena tidak
bisa dua obat untuk dua penyakit dipakai bersamaan. Paling tidak yang
mengidap tuberkulosis terlambat dua minggu menggunakan antiretroviral. Ini
untuk menghindari efek samping obat," ujarnya.
Kondom
Setelah memakai antiretroviral selama tiga bulan ada perbaikan kualitas
daya tahan tubuh pengidap HIV/AIDS. Namun penggunaan antiretroviral bukan
hal mudah, karena obat itu dipakai dalam jangka panjang. Untuk itu,
sebelum memakai obat, pasien perlu mendapat konsultasi dan selama itu
pemakaiannya pun dipantau. Dalam hal ini, peran tenaga kesehatan pun
sangat penting.
Uniknya, di Kamboja, menurut Didier, peredaran obat tidak
dipantau.
Termasuk obat resep antiretroviral. Dengan kata lain, segala macam obat
dan siapa saja bisa mendapatkan obat resep di apotek, toko obat dan pasar
gelap.
Umumnya penduduk setempat memakai obat resep tanpa resep dokter. Akibatnya,
kerap terjadi seorang pengidap HIV/AIDS yang menjalani terapi
antiretroviral juga memakai obat lain yang si pengidap sendiri tidak tahu
apa nama obat tersebut. Tak jarang pula karena miskin, pasien tidak
membeli seluruh obat yang diresepkan oleh dokter.
"Di Kamboja ada badan semacam Food and Drug Administration, tapi saya
tidak tahu kenapa peredaran obat tidak diawasi. Banyak obat tiruan beredar
di pasar," kata Didier.
Sejak dua minggu lalu, Pemerintah Kamboja melalui satu industri farmasi
nasional, mulai memproduksi antiretroviral generik. Sebelumnya obat itu
diimpor dari India dan Thailand.
Tentu penanggulangan HIV/AIDS tidak menyangkut obat semata. Adalah
komitmen politik, respons masyarakat yang besar, pengalokasian dana oleh
pemerintah, serta penerapan peraturan yang membuat kondisi sedemikian rupa
sehingga kejadian HIV/AIDS di negara itu turun separonya. Di negara itu
diberlakukan kebijakan pemakaian kondom 100 persen, setiap bulan pekerja
seksual komersial (PSK) wajib memeriksakan kesehatannya ke tenaga
kesehatan.
Target dari kebijakan pemakaian kondom 100 persen adalah mereka yang
berada di prostitusi (lokalisasi) dan militer. Bila PSK tidak memeriksakan
kesehatannya ke klinik dalam sebulan, kata Didier, tenaga kesehatan akan
memberitahukannya kepada polisi. Hal itu menunjukkan pemerintah setempat
tidak main-main dalam menerapkan peraturan.
Dukungan dari masyarakat dan National Assembly memungkinkan di negara itu
menerapkan peraturan untuk menanggulangi epidemi HIV/AIDS. Sedangkan untuk
kekurangan dana, UNAIDS menyebutkan, pemerintah setempat mendapat bantuan
dari Bank Dunia untuk penanggulangan HIV/AIDS.
Sumber
: http://www.suarapembaruan.com/News/2003/09/03/Kesra/kes05.htm
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |