OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Upaya Kamboja Mengatasi Epidemi HIV/AIDS

PADA 2002, 2,6 persen penduduk Kamboja mengidap HIV/AIDS, Bila dibandingkan dengan dua tahun lalu, berdasarkan informasi dari United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), maka negara yang berpenduduk 12 juta jiwa itu dinilai berhasil menurunkan kasus HIV/AIDS. Dua tahun lalu, kejadian HIV/AIDS mencapai lebih dari 4 persen.

Dr Didier Laureillard dari Medecins San Frontieres (MSF) yang bertugas di negara itu, bahkan mengatakan kasus HIV/AIDS di Kamboja pernah menjadi kasus tertinggi di Asia Pasifik. Ketika berbicara di forum Jogjakarta Roundtable Meeting (JRM), Selasa (2/9), di Yogyakarta, ia menyebut pada 1991 untuk pertama kalinya dideteksi keberadaan HIV pada donor darah. Kemudian, pada 1993 kasus AIDS pertama didiagnosis.

Sejak saat itu kasus HIV/AIDS terus bertambah. Penyebaran sindrom itu terutama dari hubungan seksual. HIV/AIDS menambah masalah kesehatan di negara yang selama 20 tahun mengalami konflik internal. Karena, negara itu termasuk dalam 23 negara di dunia yang mempunyai kasus tuberkulosis (TB) tinggi. Enam puluh empat persen dari penduduk negara itu terinfeksi kuman tuberkulosis. Belum lagi masalah kemiskinan, 40 persen dari penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.

Bila mencermati kondisi semacam itu tentu tidak mudah bagi Kamboja untuk menurunkan kasus HIV/AIDS. Tetapi, berbagai upaya dan strategi dilakukan pemerintah Kamboja untuk menurunkan kejadian HIV/AIDS. Dengan kondisi 2,6 persen populasi berusia 15-49 tahun mengidap HIV/AIDS, ada 7.300 kasus infeksi baru yang 2.600 di, antaranya adalah anak-anak. Selain itu, tercatat 19.000 kasus AIDS baru dan 18.000 kematian yang terkait dengan AIDS.

Untuk menanggulangi HIV/AIDS di Kamboja, ujar Didier, tahun 1990 MSF mulai membantu pemerintah setempat dengan melakukan intervensi pada bidang emergensi, rekonstruksi sistem kesehatan (termasuk mengembangkan pelayanan di rumah sakit), dan membantu menanggulangi AIDS/malaria. Selanjutnya, pada 1997, kegiatan MSF memasuki pelayanan kesehatan masyarakat, yakni pada Departemen Penyakit Infeksi di Rumah Sakit Preah Bath Norodom Sihanouk. Sejak 2002, departemen itu dilengkapi peralatan baru, klinik HIV di pagi hari, klinik antiretroviral di sore hari.

Lebih dari 3.000 pasien berobat ke klinik tersebut selama 2002. Dari jumlah itu 1.500 orang secara reguler dipantau kondisinya. Didier menceritakan, 50 persen dari pengidap HIV/AIDS itu mengidap tuberkulosis karena daya tahan tubuh menurun, 10 persen mengidap pneumonia, 10 persen diare. Sesuai dengan protokol pengobatan, pengidap HIV/AIDS itu menggunakan antiretroviral bila daya tahan tubuhnya rendah (CD4 kurang dari 200/ml) dan tidak mengidap tuberkulosis.

"Bila mengidap tuberkulosis, yang pertama diobati adalah tuberkulosis dan bila kondisi pasien membaik, diberikan antiretroviral, karena tidak bisa dua obat untuk dua penyakit dipakai bersamaan. Paling tidak yang mengidap tuberkulosis terlambat dua minggu menggunakan antiretroviral. Ini untuk menghindari efek samping obat," ujarnya.


Kondom

Setelah memakai antiretroviral selama tiga bulan ada perbaikan kualitas daya tahan tubuh pengidap HIV/AIDS. Namun penggunaan antiretroviral bukan hal mudah, karena obat itu dipakai dalam jangka panjang. Untuk itu, sebelum memakai obat, pasien perlu mendapat konsultasi dan selama itu pemakaiannya pun dipantau. Dalam hal ini, peran tenaga kesehatan pun sangat penting.

Uniknya, di Kamboja, menurut Didier, peredaran obat tidak dipantau. Termasuk obat resep antiretroviral. Dengan kata lain, segala macam obat dan siapa saja bisa mendapatkan obat resep di apotek, toko obat dan pasar gelap.

Umumnya penduduk setempat memakai obat resep tanpa resep dokter. Akibatnya, kerap terjadi seorang pengidap HIV/AIDS yang menjalani terapi antiretroviral juga memakai obat lain yang si pengidap sendiri tidak tahu apa nama obat tersebut. Tak jarang pula karena miskin, pasien tidak membeli seluruh obat yang diresepkan oleh dokter.

"Di Kamboja ada badan semacam Food and Drug Administration, tapi saya tidak tahu kenapa peredaran obat tidak diawasi. Banyak obat tiruan beredar di pasar," kata Didier.

Sejak dua minggu lalu, Pemerintah Kamboja melalui satu industri farmasi nasional, mulai memproduksi antiretroviral generik. Sebelumnya obat itu diimpor dari India dan Thailand.

Tentu penanggulangan HIV/AIDS tidak menyangkut obat semata. Adalah komitmen politik, respons masyarakat yang besar, pengalokasian dana oleh pemerintah, serta penerapan peraturan yang membuat kondisi sedemikian rupa sehingga kejadian HIV/AIDS di negara itu turun separonya. Di negara itu diberlakukan kebijakan pemakaian kondom 100 persen, setiap bulan pekerja seksual komersial (PSK) wajib memeriksakan kesehatannya ke tenaga kesehatan.

Target dari kebijakan pemakaian kondom 100 persen adalah mereka yang berada di prostitusi (lokalisasi) dan militer. Bila PSK tidak memeriksakan kesehatannya ke klinik dalam sebulan, kata Didier, tenaga kesehatan akan memberitahukannya kepada polisi. Hal itu menunjukkan pemerintah setempat tidak main-main dalam menerapkan peraturan.

Dukungan dari masyarakat dan National Assembly memungkinkan di negara itu menerapkan peraturan untuk menanggulangi epidemi HIV/AIDS. Sedangkan untuk kekurangan dana, UNAIDS menyebutkan, pemerintah setempat mendapat bantuan dari Bank Dunia untuk penanggulangan HIV/AIDS.

Sumber : http://www.suarapembaruan.com/News/2003/09/03/Kesra/kes05.htm

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan