OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

1.000 Penderita HIV Akses ARV

Dari sekira 60.000 pengidap HIV/AIDS di Indonesia, saat ini baru 1.000 orang yang mampu mengakses terapi antiretrovirus (ARV). Hal itu selain karena masih mahalnya obat untuk melakukan, tetapi juga masih kuatnya stigma di masyarakat yang telah memvonis bahwa penyakit HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan.

Menurut Samsuridjal Djauzi, Koordinator Akses Terapi dan Diagnosis kelompok Studi Khusus (Pokdisus) HIV/IDS dan Zubairi Djohan, Direktur Eksekutif Pokdisus AIDS, anggapan yang salah apabila penyakit yang ditularkan oleh virus tersebut tidak bisa disembuh. Hanya harus diakui sampai saat ini harga obatnya yang masih mahal.

"Apabila menggunakan obat paten, paling tidak membutuhkan biaya sekira Rp 6 juta untuk satu paket obat per bulan. Persoalannya untuk membuat obat generiknya juga bukan merupakan persolan yang mudah sebab harus berhadapan dengan sejumlah aturan hak paten dan WTO," ujarnya kepada wartawan, usai penutupan "Jogjakarta Roundtable Meeting (JRM)" di Yogyakrta, Rabu (3/9).

Dikatakan sesuai dengan estimasi Derpertemen Kesehatan (Depkes) jumlah pengidap atau orang dengan HIV/AIDS atau ODHA mencapai 120.000-130.000 orang. Kondisi tersebut, menurutnya, masih lebih sedikit dibanding dengan kondisi senayatanya atau realita di masyarakat.

Meskipun terkendala hak paten, berkat perjuangan terus-menerus akhirnya India dan Thailand diberi izin untuk membuat obat generik ARV. Bahkan tahun 2001, Indonesia diperbolehkan mengimpor obat generik ARV. Persoalannya meskipun impor obat generik, tetapi harganya masih cukup mahal yakni sekira Rp 650.000,00 per paket.

"Upaya untuk menurunkan harga ARV terus dilakukan dan akhirnya PT Kimia Farma diperbolehkan memproduksi ARV generik. Kalau tidak salah, bulan ini sudah berhasil diproduksi. Jika demikian, harganya akan dapat ditekan, perhitungannya sekira Rp 450.000,00 - Rp 500.000,00," ungkapnya.

Dengan adanya kesedian pemerintah pada tahun memberikan subsidi sebesar Rp 200.000,00 per bulan kepada pengidap HIV/AIDS maka pasien yang mendapatkan ARV hanya mengeluarkan uang Rp 300.000,00. "Ini suatu kemajuan besar. Tidak hanya bagi ODHA tetapi juga bagi kita semua. Persoalan HIV/AIDS sebenarnya bukan hanya urusan ODHA, tetapi juga tanggung jawab bersama. Bagi kami, yang penting menyelamatkan jiwa manusia," tandasnya.

Untuk menerobos larangan hak paten maupun WTO, lanjutnya maka UU Hak Paten perlu memberi peluang bagi persoalan khusus, semisal ARV. Persoalan ini melibatkan banyak pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga ahli hukum serta instansi terkait, bahkan LSM.

Lebih lanjut dikatakan, apabila yang mampu mengakses ARV hanya 1.000 orang, yang 59.000 lainnya tidak mampu. Ketidakmampuan itu dengan berbagai alasan, seperti karena tidak mampu secara ekonomi, tetapi ada juga tidak mampu untuk diperiksa. Dalam arti pengidap tersebut takut memeriksakan diri atau alasan lainnya.

"Kalau memang tidak mampu ekonomi, perlu diupayakan pengobatan secara gratis. Selain pengobatan juga dibutuhkan bimbingan baik sebelum maupun selama menjalani pemeriksaan. Dengan demikian, pasien akan mampu mencerna dan menghadapi semua hasil pemeriksaan. Yang penting tetap ada harapan hidup," tambah Samsuridjal.

Sementara itu, seorang ODHA, Kristin dari Kamboja mengatakan bahwa untuk membantu para ODHA yang tidak mampu membeli ARV, perlu dilakukan negosiasi antarpemerintah. Misalnya, pemerintah Indonesia, India, dan Thailand bersama-sama membeli obat sehingga harganya bisa lebih murah. Langkah lainnya menjajaki harga, untuk mencari harga yang kompetitif.

"Bahkan, untuk uang tidak mampu perlu ada subsidi jika memungkinan dibebaskan dari biaya bagi ODA yang mengakses ARV. Itu merupakan bantuan yang sangat berarti bagi ODHA," tuturnya.

Pendapat serupa juga diungkapkan seorang ODHA asal Indonesia. Dia minta agar pemerintah lebih serius dalam menangani pengidap HIV/AIDS. (A-101) ***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0903/05/0505.htm

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan